Air Putih untuk Penyakit Lumpuh

Penyakit lumpuh adalah penyakit saraf yang progesif dan fatal akibat degenerasi neuron motorik. Penderita mengalami kelumpuhan mendadak dan penyebabnya masih belum diketahui. Namun yang pasti, kelumpuhan bisa terjadi karena cedera, kerusakan saraf, stroke, atau cedera otak. Dan penelitian saat ini terpusat pada ketidaknormalan metabolisme sel-sel saraf yang melibatkan glutamat dan peran neurotoksin yang potensial serta faktor yang berkaitan dengan saraf. Amytrophic Lateral Sclerosis (ALS) adalah yang paling sering terjadi pada gangguan ini. ALS atau motor neuron diseases secara umum lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gerigh ( Lou Gerigh adalah nama pemai softball profesional Amerika yang pertama kali terdiagnosa penyakit ini di Amerika pada tahun 1932). Penyakit ini adalah gangguan kondisi otot saraf yang progesif yang ditandai dengan kelemahan, penyusutan otot, fasikulasi dan berkurangnya refleks. Selain penyebabnya yang belum diketahui, penyakit ini juga belum ditemukan obatnya dan lebih sering menyerang pria dan wanita. Perkembangan gangguan ini dimulai dengan kelemahan, sering kali pada tangan dan sedikit pada kaki atau mulut dan tenggorokan. Kelemahan bisa berkembang pada salah satu bagian tubuh dibanding bagian lainnya dan biasanya berjalan ke tangan atau kaki. Kejang juga sering terjadi dan bisa terjadi sebelum kelemahan, tetapi tidak terdapat perubahan pada sensasi yang terjadi. Dalam kondisi ini, seseorang bisa kehilangan berat badan dan merasa lelah yang tidak biasanya. Bersamaan dengan berjalannya waktu, kelemahan fisik si penderita semakin meningkat. Otot sering kejang dan menjadi tegang, diikuti dengan kejang (spasticity). Getaran ini bisa terlihat jelas dari tubuhnya. Penderita mungkin kesulitan untuk mengendalikan ekspresi wajah. Kelemahan pada otot dan pada tenggorokan bisa membuat kesulitan untuk berbicara (dysarthria) dan menelan (dysphagia). Penderita juga memproduksi lebih banyak ludah, yang kadang kala menyebabkan dia berliur. Seiring dengan semakin berkembangnya gangguan, seorang penderita penyakit ini kemungkinan tidak dapat mengendalikan reaksi emosi dan dia bisa tertawa atau menangis secara tiba-tiba. Kadang kala, otot yang mempengaruhi napas menjadi lemah dan menimbulkan masalah pernapasan. Untuk itu, beberapa orang sampai membutuhkan ventilator untuk bernapas. Perkembangan Amyotrophic Lateral Sclerosis ini bervariasi. Sekitar 50%orang dengan gangguan ini meninggal dalam waktu 3 tahun pada gejala awal, 10% hidup 10 tahun atau lebih lama, sementara pada beberapa orang mereka bisa bertahan selama 30 tahun. Ada dua tipe serangan, yang pertama menyerang lewat “lower neuron”. serangan ini biasanya muncul bersama gangguan pada kelincahan atau gantinya langkah kaki sebagai akibat dari kelemahan otot0ototnya. Yang kedua menyerang melalui “upper neuron”, yaitu kesulitan berpicara ataupun menelan yang merupakan pertanda awal dari parahnya gangguan ini. Dalam jangka waktu beberapa bulan atau beberapa tahun, pasien penderita ALS mengalami kelemahan otot yang parah dan progesif disertai gejala-gejala lain yang disebabkan oleh hilangnya fungsi saraf motorik baik bagian bawah . Kontrol spinchter, fungsi sensor, kemampuan intelektual, dan keadaan kulit tetap normal. Pada tahap yang sudah parah, pasien benar-benar tidar berdaya, sering kali membutuhkan alat bamtu pernapasan dan makan (gastronomy). Kematian biasanya  terjadi dalam jangka waktu lima tahun setelah  didiagnosa dan biasanya disebabkan oleh gagalnya pernapasan (sering terjadi pada serangan upper neuron). Seorang yang menderita amytrophic lateral sclerosis menujukkan gejala-gejala yang didasarkan pada otot-otot yang terkena. Namun, gejala yang paling umum terlihat adalah seperti orang yang tersandung, jatuh, kehilangan kontrol atas pergerakan tangan dan kaki, mengalami kesulitan dalam bernapas, berbicara dan menelan, kelelahan terus-menerus, dan mengalami kram yang sangat menyakitkan. Sebagaimana yang terjadi pada stroke, penyakit ini juga bisa diatasi dengan hidroterapi atau penggunaan air panas. Dalam konteks ini, dasar utama digunakannya air (mineral panas) untuk pengobatan adalah efek hidrostatik dan hidrodinamik. Efek ini akan membantu tubuh dalam melakukan gerakan dalam latihan yang nantinya brguna dalam menguatkan otot-otot, ligamen, memperlancar sistem peredaran darah dan sistem pernapasan. Efek hidrostatik dan hidro-dinamik juga membantu dalam menopang berat badan saat latihan jalan. Sedikit demi sedikit, jumlah air tersebut dikurang, sampai pasien bisa berjalan tanpa menggunakan air. Oleh sebab itu, terapi air panas tersebut memerlukan waktu dan kesabaran karena bisa berjalan 3-6 bulan. Efek lain yang dimanfaatkan dalam pengobatan ini adalah efek panas dan efek kimia. Efek panas menyebabkan pelebaran pembuluh darah, meningkatkan sirkulasi darah, dan oksigenisasi jaringan. Hal ini kemudian dapat mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri, dan efek menenangkan (relaksasi). Efek kimia adanya ion-ion terutama khlor, magnesium, hidrogen karbonat, dan sulfat menyebabkan pelebaran pembulu darah sehingga meningkatkan sirkulasi darah. Efek tersebut mirip dengan gelembung CO2 yang terkumpul pada permukaan kulit. Beberapa elemen kecil seperti fluor, yodium, dan besi diserap oleh kulit selama berendam mampu mempengaruhi keasaman (pH) kulit. Air Putih untuk Stroke | Air Putih untuk Penyakit Batu Empedu

This entry was posted in Air untuk Terapi. Bookmark the permalink.