Air Putih untuk Stroke

Stroke adalah salah satu penyakit yang bisa menyebabkan kecacatan. Biasanya, serangan stroke terjadi secara tiba-tiba yang disebabkan oleh beberapa penyakit seperti serangan jantung dan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Sebagaimana di jelaskan dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, stroke ini terjadi ketika pasokan darah ke dalam suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Dengan begitu, stroke ini berarti suatu penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. Kematian jaringan otak ini dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang di kendalikan oleh jaringan itu. Stroke merupakan penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa. Apabila dapat diselamatkan, kadang-kadang penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya. Beberapa tahun belakangan ini, masalah ini makin populer dengan sebutan istilang serangan otak. Istilah ini berpadanan dengan istilah yang sudah dikenal luas, “serangan jantung”. Stroke terjadi karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli. Emboli bisa berupa kolestral atau udara. Insiden stroke  bervariasi di berbagai negara di Eropa. Diperkirakan terdapat 100-200 kasus stroke baru per 10.000 penduduk per tahun. Di Amerika, diperkirakan terdapat lebih dari 700.000 insiden stroke per tahun yang menyebabkan lebih dari 160.000 kematian per tahun, dengan 4.8 juta penderita stroke yang bertahan hidup. Rasio insiden pria dan wanita adalah 1.25 pada kelompok usia 55-64 tahun, 1.50 pada kelompok usia 65-74 tahun, 1.07 pada kelompok usia 75-84 tahun, dan 0.76 pada kelompok usia di atas 85 tahun. Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang paling mematikan setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh nomor satu di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang, dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus-menerus di kasur. Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyadang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya bahkan menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktivitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Penyakit hipertansi  (penyakit tekanan darah tinggi), kolesterol, aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke dalam keluarga, dan juga migrain merupakan faktor resiko medis yang sering dicurigai sebagai hal yang dapat menyebabkan terjadi stroke ini. Dan, adapun faktor resiko perilaku di antaranya ialah merokok (aktif dan pasif), makanan tidak sehat (junk food, fast food), alkohol, kurang olahraga, mendengkur, kontrasepsi oral, narkoba, dan obesitas. Faktpr resiko yang paling tinggi ialah hipertensi dan arteriosklerosis. Persentase hipertensi dan arteriosklerosis ini mencapai 80% dan ini menujukkan bahwa yang paling potensial dalam menyebabkan terjadinya stroke adalah kedua penyakit tersebut. Menurut statistik, 93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi. Namun demikian, pada dasarnya, pemicu stroke adalah suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah), terlalu banyak minum alkohol, merokok, dan senang mengonsumsi makanan yang berlemak. Sebagian besar kasus stroke terjadi secara mendadak,  sangat cepat dan menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Kemudian stroke menjadi bertambah buruk dalam beberapa jam sampai 1-2 hari akibat bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution). Perkembangan penyakit biasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, di mana perluasan jaringan yang mati berhenti sementara atau terjadi beberapa perbaikan. Gejala stroke yang muncul pun tergantung dari bagian otak yang terkena. Membaca isyarat stroke dapat dilakukan dengan mengamati beberapa gejala stroke berikut. 1.  Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh. 2. Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran. 3. Pengihatan ganda 4. Pusing 5. Bicara tidak jelas (rero). 6. Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat. 7. Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh. 8. Pergerakan yang tidak biasa. 9. Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih. 10. Ketidakseimbangan dan terjatuh. 11, Pingsan. Kelainan neurologis yang terjadi  akibat serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas,  berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi. Stroke juga bisa menyebabkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya karena ruang dalam tenggkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas. Stroke dibagi menjadi dua jenis, stroke iskemik adalah tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Penyakit stroke yang terjadi pada manusia, umumnya adalah stroke iskemik dengan persentase mencapai 80%. Stroke iskemik ini kembali dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (a.) Stroke Trombotik: Proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan, (b.) Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah, dan (c.) Hipoperfusion Sistemik: Stroke jenis terakhir ini ialah suatu kondisi dari berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. Sedangkan strokehemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Stroke jenis ini dibagi menjadi dua jenis: Hemoragik Intraserebal, yakni pendarahan yang terjadi di dalam jaringan otak dan Hemoragik Subaraknoid, pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringnan yang menutupi otak). Stroke ini bisa disembuhkan dengan terapi air putih. Meminum air putih setiap hari minimal 5 gelas seharinya mampu menurunkan resiko stroke hingga 53% karena air mampu mengencerkan darah sehingga darah kemungkinan kecil akan menggumpal. Selain air putih dengan metode ini, air hangat juga bisa dijadikan terapi untuk menyembuhkan stroke ini. Efek hidrostatik, hidrodinamik dan hangatnya air hangat dapat membuat tubuh bisa bergerak leluasa, memperlancar peredaran darah, dan memberikan ketenangan. Terapi air hangat ini disebut sebagai hidroterapi. Hidroterapi merupakan salah satu bentuk terapi latihan dengan menggunakan modalitas air hangat. Therapeutical pool adalah terapi latihan di kolam bagi penderita. Terapi ini merupakan salah satu metode terapi penyembuhan terhadap penyakit persendian yang kaku diakibatkan oleh stroke. Dalam konteks ini, pengaruh gaya apung air membuat beban terhadap sendi tubuh kita menjadi berkurang. Dan yang perlu dicatat bahwa air yang harus digunakan adalah air yang memiliki suhu 31 derajat celcius. Kisaran suhu ini cukup aman dan memberikan efek relaksi bagi kita, melancar kan sirkulasi darah, menurunkan rasa nyeri, dan meningkatkan kemampuan alat gerak. Dasar utama penggunaan air hangat untuk pengobatan ini adalah efek hidrostatik dan hidrodinamik. Secara ilmiah, air hangat mempunyai dampak fisiologis bagi tubuh seperti berikut. – Pertama, berdampak pada pembuluh darah. Hangatnya air membuat sirkulasi darah menjadi lancar. – Kedua, faktor pembebanan di dalam air akan menguatkan otot-otot dan ligament yang mempengaruhi sendi-sendi tubuh. Jangan heran, apabila, terapi dengan air hangat juga sangat baik untuk penyembuhan penyakit encok dan rematik. – Ketiga, latihan di dalam air berdampak positif terhadap otot jantung dan paru-paru. Latihan di dalam air membuat sirkulasi pernapasan menjadi lebih baik. Efek hidrostatik dan hidrodinamik pada terapi ini juga membantu menopang berat badan saat latihan jalan. Selain hal-hal positif di atas, air bersuhu 31 derajat celcius dapat mempengaruhi oksigenisasi jaringan sehingga dapat mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri, menenangkan jiwa, dan merilekskan tubuh. Yang jelas terapi air hangat banyak memiliki keunggulan,yakni menurunkan rasa nyeri, memperbaiki bentuk tubuh, dan meningkatkan kemampuan alat gerak. Air Putih untuk Obesitas | Air Putih untuk Penyakit Lumpuh

This entry was posted in Air untuk Terapi. Bookmark the permalink.