Alergi Terhadap Telur, Agar-agar, Ikan, dan Minuman Beralkohol

Vaksin untuk measles (campak), mumps (gondong), dan rubella (MMR) dan influenza dibiakkan dalam kultur sel dari telur, sehingga memicu kekhawatiran tentang keamanan vaksin ini pada anak-anak yang alergi telur. Analisis yang teliti dari vaksin MMR menunjukkan vaksin tidak mengandung protein telur yang mampu menyebabkan reaksi pada individu yang alergi telur. Berdasarkan catatan keamanan MMR yang telah didata sekian lama, American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa anak-anak dengan alergi telur dapat diberikan vaksin MMR tanpa harus dilakukan tindakan khusus. Dalam praktik kami, kami memantau anak-anak alergi telur di tempat praktik selama 60 menit setelah pemberian vaksin MMR. Vaksin influenza mengandung sedikit protein telur. Pada pasien-pasien dengan alergi telur sejati dapat dilakukan uji kulit terlebih dahulu untuk vaksin influenza; jika hasil uji kulit negatif, maka vaksin dapat diberikan dengan aman dalam dosis tunggal. Jika uji kulit positif, maka vaksin masih dapat diberikan, tetapi harus dilakukan oleh ahli alergi yang dapat memberikan vaksin dengan aman dalam dosis kecil berulang kali selama beberapa jam sambil diawasi ketat untuk reaksi alergi.

Protein agar-agar (gelatin), yang ditemukan dalam Jell-O gelatin dan puding pencuci mulut, secara normal ditambahkan pada beberapa vaksin sebagai penstabil panas. Vaksin rutin untuk anak yang mengandung gelatin meliputi MMR, varisela (cacar air), influenza, dan DTaP (Diphteria, tetanus dan acellular pertussis). Reaksi alergi terhadap vaksin MMR paling sering disebabkan oleh alergi terhadap gelatin dalam vaksin daripada komponen lain dalam vaksin. Sebagai sebuah aturan umum, siapapun orang yang mengalami reaksi alergi setelah makan produk makanan gelatin (misal: Jell-O) seharusnya tidak diberikan vaksin apapun yang disebutkan diatas. Begitu juga halnya dalam kasus dengan vaksin yang mengandung telur pada orang alergi telur, mungkin dapat diberikan vaksin yang mengandung gelatin pada orang-orang yang alergi gelatin di bawah pengawasan langsung oleh dokter.

Mengalami kemerahan pada muka, mual dan diare setelah makan tuna. Reaksi ini tentu merupakan reaksi alergi terhadap tuna. Alergi ikan adalah salah satu makanan yang paling sering menimbulkan alergi pada orang dewasa. Tentu, jika Anda mengalami reaksi sistemik, meliputi biduran / kaligata, kemerahan, gejala saluran cerna, mengi, pembengkakan tenggorok, atau pusing setelah makan beberapa jenis ikan, Anda harus menjalani tes alergi lewat kulit atau darah terhadap beberapa jenis ikan untuk menentukan apakah Anda alergi terhadap makanan ini. Dalam situasi dimana tes ini negatif, ada penjelasan alternatif atas gejala-gejala ini. Kadang-kadang, ketika tuna, mackerel, mahi-mahi, atau bluefish terkontaminasi bakteri tertentu (umumnya Proteus atau Klebsiella), histamin terbentuk di dalam daging ikan dalam jumlah besar. Makan ikan basi menimbulkan rasa pedas lada yang menyengat dan rasa terbakar di dalam mulut, diikuti oleh mual, muntah, muka / kulit merah panas, dan sakit kepala. Fenomena ini berkaitan dengan “keracunan ikan scombroid”, yang dapat sembuh sendiri dan tidak menyebabkan seseorang menjadi alergi setelah episode ini.

Banyak pasien mengalami reaksi akut setelah minum minuman beralkohol. Dalam pengalaman, efek merugikan alkohol yang paling sering terlihat dapat dihubungkan dengan intoleransi alkohol, dengen efek fisik yang dapat diperkirakan berlebihan. Gejala-gejala intoleransi alkohol meliputi sakit kepala, denyut jantung cepat, mual, muntah, rasa panas terbakar di dada, sakit perut, kongesti hidung, dan muka / kulit merah panas. Dua gejala terakhir yaitu kongesti hidung dan muka / kulit merah panas, hampir seluruhnya disebabkan efek vasodilatasi dari alkohol dalam membran mukosa hidung dan kulit. Daam persentase yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan, orang-orang keturunan Asia tampaknya lebih rentan terhadap efek muka / kulit merah panas, dan hal ini dipercaya disebabkan oleh ketakmampuan untuk metabolisme alkohol yang sempurna. Karena sindrom ini tidak menunjukkan reaksi alergi yang diperantarai IgE, maka tidak ada tes diagnostik, seperti tes kulit atau darah, yang dapat dilakukan untuk memastikan kelainan ini.

Kadang-kadang, orang akan mengalami rekasi sistemik seperti biduran / kaligata, mengi, dan/atau pembengkakan tenggorok. Dalam kasus ini, penjelasan yang paling mirip yaitu intoleransi sulfies, yang umumnya ditemukan dalam minuman anggur putih. Yang kurang lazim adalah terjadinya alergi terhadap bahan-bahan lain seperti buag anggur dalam minuman anggur, biji-bijian dalam minuman beer [seperti hops, barley, rye (gandum hitam), jagung, atau gandum] dan ragi. Dalam kemungkinan alergi terhadap bahan-bahan dalam minuman beralkohol, uji alergi lewat julit atau darah dapat dilakukan. Penjelasan kemungkinan terakhir untuk beberapa kumpulan gejala ini, khususnya muka / kulit merah panas dan sakit kepala, adalah histamin dalam minuman anggur merah. Walaupun ada variasi jumlah histamin dalam minuman anggur merah, masih dapat diperdebatkan apakah zat kimia ini yang menjadi penyebab gejala. Terlepas dari jenis alkohol mana yang dikonsumsi atau mekanisme mana yang berperan, satu-satunya solusi yang dapat dipercaya untuk semua persoalan ini adalah hindari alkohol.

Alergi Terhadap Kacang Tanah | Hubungan antara Hay Fever Musiman dan Nyeri Ulu Hati dengan Alergi Makanan

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.