Alergi Terhadap Udang dan Kerang-kerangan

Protein yang paling sering berkaitan dengan alergi terhadap kerang-kerangan, disebut “tropomiosin”, ditemukan pada semua jenis kerang-kerangan, termasuk abalone (pauhi), kijing, tiram, kepiting, udang karang, lobster, siput, kepah, gurita, tiram, kerang kipas-kipas, udang, keong, dan cumi. Kemungkinan seseorang yang alergi terhadap salah satu jenis kerang-kerangan, seperti udang, dan alergi terhadap yang lain, seperti lobster, kira-kira 75%. Meskipun orang dari berbagai usia dapat terjangkit alergi terhadap kerang-kerangan, orang dewasalah yang paling sering terkena. Alergi hewan air bercangkang juga lebih sering pada wanita. Setelah menanyakan riwayat dengan teliti, uji alergi terhadap kerang-kerangan dengan uji kulit atau uji darah adalah cara yang paling dipercaya untuk mengatakan bahwa pasien benar-benar alergi. Reaksi merugikan terhadap kerang-kerangan kadang-kadang juga disebabkan oleh reaksi bukan alergi, seperti keracunan makanan.

Untungnya, banyak alergi makanan yang terjadi masa bayi hilang secara spontan pada masa awal anak-anak antara umur 3 dan 5 tahun. Contoh yang jelas dari alergi makanan ini meliputi susu, kacang kedelai, dan telur. Namun, alergi kacang tanah, yang umumnya juga terjadi pada awal kehidupan, memiliki perubahan hilang sangat rendah ketika pasien bertumbuh dewasa. Alergi makanan yang timbul kemudian dalam kehidupan seperti ikan dan kerang-kerangan, juga memiliki tingkat hilang spontan sangat rendah. Sekarang ini, tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan alergi makanan secara tetap. Sejumlah pusat klinik spesialis secara aktif bekerja untuk mengembangkan protokol uji tantangan oral yang akan membantu menimbulkan toleransi makanan. Sebelum protokol ini menjadi prosedur klinis yang pasti, kami tidak merekomendasikan pasien menjalani berbagai bentuk desensitisasi makanan, apakah dilakukan lewat suntikan, pil, atau cairan yang ditelan atau diletakkan di bawah lidah.

Suntikan zat warna, juga disebut radiocontrast media (RCM), digunakan secara luas dalam berbagai kajian sinar-x, meliputi angiogram, computed tomography (CT) scan, dan pyelogram intravena. Reaksi terhadap RCM dilaporkan terjadi pada 13% pasien yang mendapatkan kontras intravena. Yang lebih sering adalah reaksi ringan yaitu muka / kulit merah, pusing dan nausea. Kurang dari 2% pada orang yang mendapatkan kontras akan mengalami reaksi lebih berat, yaitu biduran / kaligata meluas, muntah, dan kadang-kadang pembengkakan tenggorokan atau tekanan darah turun. Orang-orang yang berisiko lebih tinggi pada reaksi RCM meliputi wanita, orang usia lanjut, mereka yang pernah mengalami reaksi terhadap RCM, pasien dengan riwayat asma, alergi, dan penyakit jantung, dan orang-orang yang minum obat beta-bloker.

Berlawanan dengan kepercayaan orang banyak, alergi makanan laut tidak berkaitan dengan reaksi RCM. Karena itu jika seseorang memiliki riwayat sensitivitas RCM, hal ini tidak berarti dia akan alergi terhadap udang atau kerang-kerangan, atau sebaliknya. Diagnosis RCM dibuat secara ketat berdasarkan riwayat, karena saat ini tidak ada tes tersedia yang akurat memperkirakan kejadian reaksi. Mencegah reaksi di masa yang akan datang adalah satu tugas paling penting untuk pasien dan dokter. Untuk prosedur akan datang yang melibatkan RCM, ahli radiologi harus memakai media kontras ionik rendah, osmolaritas rendah sebagai pengganti media osmolaritas tinggi. Selain itu, penggunaan obat, seperti prednison dan difenhidramin, sebelum pemberian RCM dapat sangat membantu dalam menurunkan angka kejadian dan reaksi yang berat.

Hubungan antara Hay Fever Musiman dan Nyeri Ulu Hati dengan Alergi Makanan | Alergi Makanan Penyebab Autisme dan Seliak

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.