Antihistamin dan Dekongestan

Antihistamin oral telah digunakan sejak tahun 1950-an dan memiliki peran penting dalam pengobatan rinitis alergi. Golongan obat ini memblokade reseptor histamin H1. Obat tersebut sangat efektif dalam menurunkan gejala bersin, gatal pada hidung dan mata, dan hidung berair. Namun, obat tersebut memiliki efek sangat sedikit terhadap sumbatan / kongesti hidung. Obat-obat ini harus dibedakan dari blokade reseptor histamin H2, seperti ranitidin dan cimetidin, yang banyak digunakan untuk terapi penyakit refluks asam lambung (gastroesofageal) dan ulkus peptikum. Karena histamin H1 harus lebih dahulu berkaitan dengan reseptor histamin sebelum histamin berikatan, obat-obat ini sangat efektif ketika digunakan sebelum kontak dengan alergen yang dikenal.

Pasien sering khawatir bahwa obat ini menjadi tidak efektif setelah pemakaian beberapa minggu atau bulan; namun, penelitian kontrol jangka panjang tidak memperlihatkan ketidak efektifan tersebut. Antihistamin kuno seperti chlorpheniramine, diphenhydramine, dan clemastine, biasanya diminum dua sampai tiga kali per hari dan tersedia terpisah masing-masing atau kombinasi dengan dekongestan oral seperti pseudoefedrin. Sayangnya obat-obat kuno melewati membran otak yang disebut “sawar otak” dan masuk kedalam sistem saraf pusat, menyebabkan rasa ngantuk (sedasi) pada orang dewasa dan kadang-kadang menimbulkan stimulasi paradoksik pada anak-anak. Obat-obat kuno ini tidak spesifik memblokir reseptor histamin tetapi juga memblokir sejumlah reseptor kimia lain, yang paling umum reseptor kolinergik. Blokade reseptor kolinergik ini di seluruh tubuh sering menimbulkan sembelit, mulut dan mata kering, dan memperburuk sumabtan saluran kemih dan glaukoma pada orang tua.

Ada golongan baru obat antihistamin yang sedang berkembang, meliputi loratadine, fexofenadine, cetirizine, desloratadine, dan levocetirizine. Obat-obat ini memiliki waktu mulai kerja dalam 1 sampai 2 jam dan diminum sekali sehari. Loratadine dan cetirizine sekarang dijual bebas dalam bentuk obat generik dan obat paten bermerek. Obat antihistamin baru ini tidak melewati sawar darah otak dan tidak berikatan dengan reseptor kolinergik; karena obat tersebut tidak menimbulkan atau sedikit rasa ngatuk, sembelit, atau efek lain yang terlihat pada histamin kuno. Banyak penelitian kontrol memperlihatkan bahwa obat ini sama efektifnya dengan obat kuno. Antihistamin juga tersedia dalam bentuk semprot hidung topikal. Baik azelastine maupun olopatadine memperlihatkan sedikit lebih efektif dibandingkan antihistamin oral dan mulai mengurangi gejala segera 10 menit setelah pemakaian.

Dekongestan, seperti pseudoefedrin, bekerja dengan mepersempit pembuluh darah dalam membran hidung sehingga mengurangi pembengkakan hidung. Obat-obat ini dengan efektif menurunkan sensasi kongesti hidung tetapi memiliki efek minimal terhadap gejala-gejala hidung lainnya, seperti bersin, mata gatal atau hidung gatal atau berair. Ketika diberikan secara oral, obat ini mulai bekerja dalam waktu 1 sampai 2 jam, dan tergantung pada bentuk sediaan, dapat bertahan antara 4 dan 24 jam. Dekongestan oral memiliki efek samping signifikan, meliputi efek pada otak (insomnia, cemas, mudah marah), efek pada sistem kardiovaskular (denyut jantung cepat, berdebat, menaikkan tekanan darah) dan kesulitan buang air / retensi urin, terutama pada pria dengan pembesaran prostat.

Pseudoefedrin oral dulu pernah dijual bebas. Baru-baru ini, penjualan obat ini secara bebas menjadi sangat dibatasi – bukan karena ditemukan masalah keamanan yang baru tetapi karena senyawa ini dapat diubah secara kimia menjadi methamphetamine.

Semprot hidung dekongestan, seperti oxymetazoline bekerja lebih cepat daripada obat minum, obat semprot hidung mulai bekerja dalam waktu 5 menit. Karena obat ini berbentuk semprotan diberikan dalam jumlah yang sangat kecil, biasanya tidak ada efek sistemik, walaupun pada pasien anak dan usia lanjut kadang menimbulkan beberapa efek sistemik yang telah disebutkan sebelumnya. Bila diberikan lebih dari 3 sampai 5 hari, pasien dapat mengalami pembengkakan nasal kembali setelah berhenti obat, suatu kondisi yang dinamakan “rinitis medikamentosa”.

Kucing dan Anjing | Montelukast

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.