Apakah Benar Migrain akan Meningkat setelah Menopause?

Menopause dikatakan terjadi setelah masa haid berhenti selama 12 bulan. Ada dua jenis menopause. Yang pertama adalah menopause fisiologis yang dialami hampir seluruh wanita. Menopause fisiologis muncul ketika wanita mengetahui adanya ketidakteraturan masa haid, dan berhenti secara bertahap dengan bersamaan. Hal ini bisa terjadi mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun dan mungkin diikuti dengan berbagai macam gejala, seperti rasa panas atau berkeringat di malam hari, pelupa atau masalah kognitif lain, pusing, insomnia, depresi, kulit gatal, kering pada vagina, sakit kepala dan perubahan suasana hati. Tipe menopause kedua adalah menopause akibat operasi. Hal itu terjadi ketik rahim dan ovarium atau hanya ovarium yang diangkat. Dengan menopause akibat operasi, gejala terjadi dalam beberapa jam atau hari, jika tidak segera diberikan hormone replacement therapy (HRT). Menopause akibat operasi tidak akan terjadi jika hanya rahim yang diangkat.

Sebagian wanita menemukan bahwa selama masa perimenopausal (3 hingga 5 tahun sebelum menopause) dan menopause, mereka tidak dapat lagi mengatasi migrain mereka sendiri. Sangat tidak biasa untuk memulai pengobatan dengan melibatkan ahli saraf saat ini, atau khawatir bahwa sakit kepala yang semakin buruk tersebut sebagai pertanda dari sesuatu yang lebih serius.

Perubahan hormonal terbesar yang dapat terjadi selama serangan menopause adalah fluktuasi dari tingkat estrogen. Level mutlak estrogen selama perimenopause juga sangat tinggi. Kombinasi dari fluktuasi estrogen dan tingkat estrogen yang lebih tinggi bisa memicu migrain pada wanita penderita migrain. Perimenopause dan menopause juga dapat memicu serangan migrain baru pada sebagian wanita, meskipun tidak terlalu umum. Akibatnya, para wnaita itu harus mencari tahu mengenai penyebab lain dari sakit kepala tersebut.

Menopause akibat operasi dapat menimbulkan perburukan akuta terhadap migrain. Kecuali operasi itu dilakukan untuk kanker atau alasan lain yang mengancam jiwa, potensinya dalam memperburuk migrain harus dipertimbangkan, ketika seorang penderita migrain berat harus mengambil risiko dan manfaat dari histerektomi lengkap atau oophorectomy (pengangkatan ovarium).

Untuk sebagian besar wanita, sesaat setelah hormon estrogen mengalami fluktuasi dan menjadi lebih rendah dibandingkan tingkat premenopause, frekuensi migrain menurun dan menghilang secara bertahap. Jika tidak, HRT mungkin dapat menurunkan frekuensi sakit kepala, meskipun ada beberapa bukti yang menyebutkan redanya sakit kepala tidak akan selesai, seperti yang terlihat pada menopause fisiologis.

Faktanya, sakit kepala mungkin akan lebih buruk dengan HRT. Penelitian terkini juga mengaitkan HRT dengan penyakit kardiologis, strok dan kanker tertentu dalam hidup. Oleh karena itu, banyak yang merekomendasikan bahwa HRT tidak usah digunakan oleh penderita migraine kecuali ada manfaat lain ketika menggunakan HRT, seperti pengurangan gejala menopause yang parah (misalnya, rasa panas, berkeringat di malam hari yang tidak bisa ditoleransi).

Menopause merupakan masa yang sangat mengganggu terutama pada wanita yang mengalami migrain, karena sakit kepala cenderung memburuk pada saat yang sama, ketika mereka mengalami berbagai gejala yang tidak enak. Sangat bijak untuk mempertimbangkan mencari perawatan untuk sakit kepala pada jenjang masa ini, jika Anda merasa kewalahan dengan sakit kepala dan gejala-gejala lainnya.

Migrain Selama Kehamilan | Apakah Migrain Lazim pada Usia Lanjut?

This entry was posted in Migrain. Bookmark the permalink.