Apakah Memungkinkan Mempunyai Anak ketika Menghentikan Obat-obat Lupus?

Pertanyaan ini sangat penting, karena pasti juga ditanyakan oleh pasien-pasien SLE, terutama yang harus minum obat immunosuppressive, atau yang memiliki riwayat pembekuan darah yang membutuhkan terapi antikoagulan.

Perencanaan untuk hamil pasti lebih ribet dan lebih banyak menyita waktu bagi Anda dibanding bagi pengidap lupus yang lebih ringan dan hanya membutuhkan sedikit obat-obatan. Namun bukan berarti hal ini tidak memungkinkan Anda mempunyai anak, karena pasien lupus suatu waktu mampu hamil. Opsi-opsi khusus bagi pasien individual dapat dipilih tergantung pada aktivitas dan keparahan lupus yang diidapnya. Misalnya pasien yang harus menghentikan mycophenolate mofetil (CellCept) biasanya diganti dengan azathioprine (Imuran), yaitu immunosuppressant yang biasa diminum wanita hamil dengan lupus. Sedangkan Warfarin (Coumadin) diganti dengan antikoagulan yang lebih aman, biasanya salah satu bentuk heparin (enoxaparin atau lovenox) yang disuntikkan dua kali sehari untuk proteksi terhadap pembentukan bekuan darah. Demikianlah opsi yang biasanya diambil para dokter.

Apakah harus merencanakan hamil pada usia tertentu untuk menghindari komplikasi?

Faktor utama sukses kehamilan pada pasien lupus bukanlah usia, tetapi lupus yang aktif dan keberadaan beberapa autoantibodi seperti aPL, anti-Ro(SS-A), dan anti-La(SS-B).

Kehamilan lupus akan sukses bagi ibu dan bayinya jika lupus sedang dalam kondisi remisi paling sedikit enam bulan sebelum kehamilan. Keberadaan antibody antifosfolipid meningkatkan risiko keguguran, terutama jika kadarnya tinggi (atau pada pasien dengan riwayat keguguran sebelumnya). Evaluasi dokter reumatologi dan dokter kandungan akan memutuskan terapi yang akan digunakan tergantung pada kondisi riwayat keguguran dan hasil tes antibodi.

Antibodi anti-Ro(SS-A) dan anti-La(SS-B) merupakan faktor risiko bagi neonatal lupus eritematosus (NLE), yaitu sutau kondisi bayi yang lahir mengalami jumlah sel darah yang rendah, ruam di kulit, adanya abnormalitas tes pada liver, dan congenital heart block (CHB). Komplikasi yang permanen hanyalah CHB, itu pun jarang terjadi. Sedangkan gejala lainnya tersebut hanya terjadi pada 2% bayi yang ibunya mengidap lupus aktif.

Pasien lupus yang pernah kena radang ginjal, berarti fungsi ginjalnya sudah menurun dan ini bisa memengaruhi kehamilan. Pasien dengan kondisi ginjal 50 – 60% berisiko menderita radang ginjal selama kehamilan (karena ginjal harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan sedangkan sebelumnya ginjla pernah kena radang).

Anda merasa sudah waktunya untuk hamil pada usia 25 tahun karena Anda pasien lupus. Memang masuk akal, meskipun pasien lupus tidak berisiko lebih besar dalam hal infertilitas dibanding pasien sehat, kecuali jika Anda sedang dalam perawatan dengan cyclophosphamide, karena setiap wanita bisa saja kesulitan untuk hamil. Tapi, memang perencanaannya lebih rumit dan berlapis bagi wanita dengan lupus pada usia tiga puluhan ketika ia merencanakan hamil untuk pertama kalinya.

Komplikasi yang mungkin diderita oleh ibu hamil pengidap lupus

Ada beberapa komplikasi yang dihubungkan dengan ibu hamil dengan lupus, bagi ibu dan janin/bayinya. Komplikasi pada sang Ibu berupa flare selama kehamilan dan sesudahnya, selain itu juga kemungkinan fungsi ginjal yang memburuk (bagi ibu yang sebelum hamil fungsi ginjalnya sudah abnormal).

Komplikasi kehamilan juga berpengaruh terhadap janin jika sang Ibu menderita tekanan darah tinggi, preeklamsia/eklamsia, disfungsi plasenta yang menjurus ke keguguran (keberadaan antibodi antifosfolipid adalah faktor utama risiko disfungsi plasenta dan keguguran).

Gejala-gejala neonatal juga disebabkan oleh keberadaan antibodi anti-Ro (SS-A) dan anti-La (SS-B) dalam tubuh sang Ibu. Kedua antibodi tersebut menutup jalan plasenta sehingga terjadi peradangan pada janin yang sedang tumbuh kembang. Inilah yang disebut neonatal lupus (NLE). Gejalanya berupa ruam di kulit, hasil tes rendah. Namun gejala tersebut akan hilang dalam waktu 3 – 6 bulan mendatang ketika antibodi dalam tubuh si ibu menghilang. Namun gejala yang berupa congenital heart block tetap bertahan.

Agar terhindar dari komplikasi, sebaiknya Anda selalu kontrol pada dokter yang merawat Anda. Paling tidak, Anda bisa meminimalkan komplikasi.

Apakah lupus bisa membuat siklus haid menjadi kacau balau?

Sejauh ini, brbagai penelitian menunjukkan bahwa wanita pengidap lupus sama sekali tidka berkurang fertilitasnya, kecuali Anda dalam kondisi sakit berat atau menderita gejala/flare lupus yang parah. Semua penyakit kronik yang parah pasti mengacaukan siklus haid yang membuat haid menjadi abnormal. Jika Anda tidak dalam perawatan dengan obat cyclophosphamide, fertilitas Anda tidak akan berkurang disebabkan lupus.

Saat dan usia pasien lupus sebaiknya merencanakan kehamilan

Saat yang tepat bagipasien lupus untuk hamil adalah ketika penyakit lupusnya berada dalam keadaan remisi dan kondisi kesehatan si pasien stabil. Sedangkan masalah usia, itu merupakan keputusasaan pribadi, tetapi sebiaknya pilih ketika Anda pada usia-usia subur. Artinya belum menopause.

Jenis Birth Control yang Baik bagi Pasien SLE | Lupus pada Anak (Pediatric Lupus)

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.