Apakah Obat-obat Asma Membahayakan Bayi dalam Kandungan?

Penelitian telah dilakukan di seluruh dunia untuk membantu dokter memutuskan obat asma yang mana yang paling aman pada masa kehamilan. Satu risiko terbesar untuk kehamilan seorang wanita penderita asma adalah pengendalian asma ibu yang buruk. Asma yang tidak terkendali sangat berbahaya bagi bayi yang sedang berkembang dan dapat mengakibatkan komplikasi yang merusak ibu dan anak. Komplikasi terhadap pengendalian asma yang buruk termasuk hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, preeklampsia dan eklampsia pada ibu, persalinan prematur dan kelahiran prematur, pertumbuhan retardasi intrauterin, dan bayi berat lahir rendah, seiring dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas perinatal. Pengendalian asma ibu yang tidak adekuat menyebabkan berkurangnya suplai oksigen bayi yang sedang berkembang (hipoksia maternal), serta penurunan suplai darah ke rahim. Semua spesialis paru setuju bahwa mereka harus mengobati pasien asma yang hamil dengan obat asma yang tidak hanya sangat efektif, tapi juga seaman mungkin bagi ibu dan bayi.

FDA mengklasifikasikan semua obat yang telah disetujui sejak tahun 1980 menjadi salah satu dari lima kategori yang berbeda. Klasifikasi FDA didasarkan pada studi keamanan pemakaiannya pada masa kehamilan. Kelima kategori adalah A, B, C, D, dan X. Kategori A dianggap sangat aman, sementara kategori X obat yang kontra indikasi mutlak dalam kehamilan di dalam kondisi apapun.

Kategori B, berdasarkan laporan anekdotal yang melibatkan penggunaan jangka panjang pada wanita hamil dan penelitian yang luas (melibatkan hewan percobaan yang hamil) dengan hasil tidak terbukti adanya efek samping yang berbahaya. Penandaan kategori C menunjukkan bahwa obat tersebut bertanggung jawab terhadap beberapa efek samping yang merugikan pada fetus dalam penelitian pada hewan percobaan. Obat dalam kategori C mungkin dapat menyebabkan peningkatan potensi risiko terhadap perkembangan fetus manusia, tetapi obat tersebut masih dianggap aman digunakan pada wanita hamil untuk sebagian karena dosis obat yang digunakan dalam penelitian pada hewan percobaan jauh, jauh lebih besar dari yang pernah diberikan pada manusia. Keputusan untuk menggunakan obat dalam kategori C ditentukan berdasarkan kasus per kasus, paling sering terjadi pada situasi klinis dimana ketika tidak menggunakan obat kategori C potensi risiko lebih besar daripada risiko yang mungkin berhubungan dengan penggunaan obat.

Tidak ada obat asma yang diklasifikasikan sebagai kategori A, seperti yang disebutkan sebelumnya. Kebanyakan obat yang digunakan dalam pengobatan asma termasuk ke dalam kategori C, dan beberapa diklasifikasikan dalam kategori B. Semua bronkodilator inhalasi golongan agonis beta-2 kerja pendek, cepat melegakan (SABA) digolongkan sebagai kategori C, meskipun obat tersebut telah digunakan selama lebih dari 2 dekade dan secara luas dipandang sebagai obat yang paling aman oleh profesi medis. Semua bronkodilator inhalasi golongan agonis beta-2 kerja lama (LABA) juga termasuk obat kategori C. Bronkodilator inhalasi golongan agonis beta-2 belum terbukti memiliki efek negatif pada kehamilan, dan belum terbukti dapat membahayakan fetus manusia. Klasifikasi C untuk kelompok inhaler agonis beta-2 mencerminkan tidak adanya penelitian pada wanita hamil. Satu preparat kortikosteroid inhalasi, Pulmicort (budesonid), termasuk dalam kategori B, semua steroid inhalasi lainnya, berlabel kategori C. Penggunaan sehari-hari, inhaler pengendali jangka panjang, Intal (kromolin) dan Tilade (nedokromil) termasuk kategori B, begitu juga tablet pengibag leukotriena, Singulair (montelukas sodium) dan Acolate (zafirlukas). Penghambat IgE yang baru Xolair (omalizumab) termasuk kategori B. Semua obat teofilin masuk dalam kategori C.

Karena baik asma yang tidak terkendali maupun asma yang terkendali buruk pada ibu memiliki konsekuensi serius untuk ibu dan anaknya yang belum lahir, pedoman prinsip dalam pengobatan asma selama kehamilan adalah untuk mencapai pengendalian asma yang optimal bahkan jika perlu menggunakan obat sehari-hari. Merupakan hal yang sangat penting untuk menormalkan fungsi paru ibu dan memastikan bahwa ibu tidak mengalami gejala asma. Ahli paru memandang bahwa setiap obat yang dibutuhkan untuk pengobatan terbaik asma harus diberikan kepada ibu hamil. Sebagai contoh, steroid penggunaan singkat untuk pengobatan eksaserbasi digunakan hanya ketika seorang wanita sedang tidak dalam keadaan hamil. Sebagai aturan praktis, pertama, kami akan menggunakan obat-obatan kategori B, kemudian untuk menambahkan obat-obatan yang diperlukan mungkin ke kategori C (atau bahkan D), jika diperlukan untuk mencapai pengendalian asma yang baik. Jika Anda sedang hamil dan memiliki pertanyaan atau kekhawatiran apapun tentang keamanan obat-obatan yang diresepkan untuk Anda, Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang mengobati Anda. Baik dokter kandungan maupun dokter asma Anda memiliki keahlian dalam menasihati Anda dan memberikan saran yang terbaik untuk Anda. Bila tidak dalam kondisi tersebut, Anda harus menghentikan rejimen asma yang ditentukan atau tidak mengikuti rencana pengobatan yang diianjurkan oleh dokter Anda.

Melindungi Bayi dalam Kandungan selama Kehamilan dari Berkembangnya Asma di Kemudian Hari | Menyusui Bayi ketika sedang Mengkonsumsi Obat Asma

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.