Apakah Wanita dengan Lupus Boleh Hamil?

Kini kehamilan tidak lagi terlarang bagi penderita lupus. Kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran – pengenalan lebih baik terhadap penyakit lupus – memungkinkan pasien lupus tidak perlu ragu untuk melahirkan. Syaratnya, penyakit lupus yang dideritanya sedang dalam kondisi remisi, dan tentu saja harus selalu dalam pengawasan dokter.

Penelitian yang dilakukan terhadap 333 wanita muda dengan lupus menunjukkan bahwa mereka sukses melahirkan bayinya. Selama hamil mereka terus dipantau mulai dari trimester pertama kehamilan sampai tiga bulan setelah melahirkan. Dalam penelitian yang dipresentasikan pada tanggal 7 September 2011 dalam pertemuan tahunan American College of Rheumatology di Chicago, Amerika Serikat, juga diidentifikasi beberapa variable predicator komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan pada penderita lupus. Dinyatakan bahwa sebagian besar wanita dengan lupus yang stabil kondisinya, dapat menjalani kehamilan dengan sukses dan lancar.

penelitian lanjutan Рtahap kedua Рyang dipresentasikan oleh Dr Jane  E. Salmon dari Hospital for Special Surgery di New York City, Amerika Serikat, menemukan adanya kelainan spesifik pada autoantibody (lupus anticoagulant). Wanita hamil yang positif memiliki autoantibodi lebih mudah terkena komplikasi yang berkaitan dengan kegagalan kehamilan. Karena itu, sebelum merencanakan untuk hamil, pasien lupus sebaiknya berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya untuk pemeriksaan darah apakah dirinya positif atau negatif memiliki anticoagulant. Andai positif memiliki anticoagulant, wanita tersebut tetap bisa hamil, asalkan selalu dipantau dan didampingi dokter.

Resiko Kehamilan pada Pasien Lupus

Beberapa faktor berikut ini bisa meningkatkan resiko munculnya flare selama kehamilan.

* Pasien sebelumnya sudah menderita hipertensi
* Pernah atau sedang menderita penyakit ginjal
* Pernah menderita preeklamsia akhir-akhir ini
* Kadar platelet darah ternyata rendah
* Pernah mengalami penyakit pembekuan darah
* Pernah atau sedang menyandang antibodi antifosfolipid (sindrom darah kental)

Meskipun kehamilan pada pasien lupus umumnya tidak menimbulkan komplikasi, namun tetap dianggap beresiko tinggi, artinya bisa muncul berbagai masalah yang harus diantisipasi. Karena itu kehamilan harus direncanakan, minimal kondisi kesehatan si wanita baik, dan lupus sedang dalam kondisi remisi. Untuk itu, dianjurkan agar pasien lupus yang ingin hamil sudah berkonsultasi dengan dokter tiga sampai enam bulan sebelumnya.

Obat-obat Lupus yang harus Dihentikan jika Pasien Hamil

Pada saat konsultasi untuk hamil, kemungkinan dokter akan menganjurkan utnuk berhenti mengkonsumsi beberapa obat seperti obat tekanan darah, cyclophosphamide, dan methotrexate. Biasanya Plaquenil masih boleh diteruskan untuk diminum agar tidak muncul flare. Prednison juga masih boleh diminum. Jika pasien sedang dalam pengobatan dengan mycophenolate mofetil atau mycophenolic acid, kemungkinan dokter akan menggantinya dengan azathioprine, jenis obat alternatif yang masih bisa diterima.

Dokter Spesialis yang Merawat Pasien Lupus yang Hamil

Dalam keadaan hamil sebaiknya pasien lupus berada dalam perawatan seorang perinatologist atau maternal-fetal specialist, yaitu dokter kandungan yang berpengalaman di bidang kehamilan resiko tinggi. Selain itu juga dokter spesialis reumatologi atau reumatolog yang mempunyai spesialisasi dalam bidang kehamilan dan autoimun.

Manfaat IVIg Bagi Pasien Lupus dengan Kondisi Sistem Imun Lemah | Tes Laboratorium untuk Pasien Lupus yang Hamil

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.