Asma yang Diinduksi oleh Latihan (EIA)

Asma yang diinduksi oleh latihan merupakan frasa yang sudah ketinggalan jaman yang membuat sedikit masuk akal bagi ahli asma dan memusingkan selanjutnya. Latihan merupakan pemicu asma yang universal dan umum yang merupakan penyebab gejala asma saat asma tidak terkendali dengan optimal. Individu manapun dengan pengendalian asma yang tidak adekuat akan selalu mengalami batuk yang bervariasi, mengi, sesak napas dengan pengerahan tenaga dan latihan. Pada situasi pengendalian asma yang buruk, gejala asma memang diinduksi oleh latihan.

Pada subset penderita asma, bagaimanapun, latihan hanya mempercepat gejala asma. Tanpa latihan, mereka tidak memiliki gejala asma dan tidak ada penurunan fungsi paru-paru (arus puncak atau FEV1). Jenis asma yang timbul hanya dalam kondisi latihan yang diklasifikasikan sebagai EIB untuk bronkokonstriksi yang diinduksi dengan latihan.

Individu dengan pengalaman gejala pernapasan EIB dengan gejala yang paling sering batuk kering, batuk yang mengganggu dalam kondisi latihan aerobik. Selain batuk, gejala mungkin termasuk mengi, sesak napas, masalah daya tahan, dan dada terasa tidak nyaman, seperti sesak atau sensasi sangat nyeri. Gejala berkembang selama (atau setelah beberapa menit) latihan yang giat dan puncaknya terjadi 5 – 10 menit setelah penghentian kegiatan tersebut. Setelah itu EIB berkurang dan mereda 30 – 45 menit kemudian. Karena gejala dan temuan tes fungsi paru hanya hadir dengan latihan, bisa rumit untuk memastikan diagnosisnya. Banyak orang awalnya berpikir bahwa EIB sebenarnya merupakan diagnosis asma biasa yang perlu dikendalikan menjadi lebih baik; gejala asma yang mendasari yang dipicu oleh latihan. Dokter yang merawat seharusnya mencurigai EIB ketika ada pola gejala asma dan kelainan fungsi paru hanya selama dan segera setelah pengerahan tenaga. Suatu tes tantangan latihan mungkin dapat membantu dalam menegakkan diagnosis.

Pengobatan EIB termasuk perhatian yang tepat untuk manuver pemanasan dan pendinginan, begitu juga dengan resep obat. Obat-obatan yang efektif dalam pengobatan EIB mencakup pengubah leukotriena oral dan obat-obatan anti inflamasi serta inhaler seperti obat hirup bronkodilator aginis beta-2, kerja pendek dan obat semprot kromolin atau nedokromil. Ketika inhaler diresepkan, seharusnya digunakan 20 menit sebelum pemanasan rutin dimulai, sebagai langkah pencegahan. Sebaliknya, inhaler diperlukan setelah latihan untuk mempercepat resolusi gejala. Merupakan hal yang penting untuk mengobati EIB dalam rangka menyediakan kondisi penuh, bebas gejala untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas olahraga, fitness, dan rekreasi yang merupakan bagian dari gaya hidup sehat. Banyak atlet kelas dunia yang memiliki diagnosis EIB, hal ini membuktikan bahwa asma bukanlah pembatas terhadap prestasi atletik. Para orang tua seharusnya memberitahukan guru dan pelatih bila terdapat anak yang memiliki EIB, karena mereka harus memakai obat yang diresepkan sebelum berolahraga dan seharusnya mengambil bagian dalam atletik dan semua kesempatan dalam pendidikan fisik. Atlet yang berkompetisi dengan kondisi EIB harus memberitahukan obat asma yang digunakan dan seharusnya menjadi familiar dengan persyaratan Agensi Anti Doping Amerika. Ada kemungkinan obat hirup bronkodilator berubah. Dengan penggunaan beberapa obat hirup bronkodilator (salmeterol, formoterol, salbutamol, dan terbutalin), atlet diwajibkan melengkapi form pengecualian penggunaan terapeutik (TUE). Selanjutnya, obat hirup kortikosteroid harus diumumkan dan resep obat kortikosteroid dalam bentuk pil memerlukan form TUE.

Pada kondisi EIB, penyempitan saluran napas (bronkokontriksi) terjadi sekunder terhadap latihan yang kuat. Mekanisme yang bertanggung jawab terjadinya EIB, melibatkan inhalasi udara dingin yang kering, khususnya laju aliran dalam saluran udara saat bernapas cepat di antara kelembaban dan suhu. EIB terjadi lebih umum pada latihan tertentu, seperti lari jarak jauh. Olahraga kompetitif yang membutuhkan periode yang lama dari aktivitas yang berat, seperti, sepak bola (soccer), tenis, bersepeda jarak jauh, ski Nordic, dan lari lintas-negara, akan lebih sering memicu gejala EIB daripada kegiatan seperti baseball atau berenang. EIB dapat terjadi dalam cuaca apapun, namun lebih cenderung dalam lingkungan yang dingin dan kering daripada dalam lingkungan yang lebih hangat, dan yang lebih lembab. Sampai seperempat dari atlet olahraga Olimpiade musim dingin mengalami EIB, dengan jumlah tertinggi (50%) para pemain ski lintas negara. Sebaliknya, Komite Olimpiade AS menetapkan bahwa 11,2% dari atlet yang bersaing di Olimpiade musim panas tahun 1984 mengalami EIB. Meskipun EIN membutuhkan pengobatan, ia tidak mencerminkan asma yang tidak adekuat terkendali yang mendasari munculnya EIB. Beberapa dokter menganggapnya sebagai subtipe asma, sementara yang lain melihatnya sebagai prekursor yang mungkin untuk asma dan terus memantau pasien mereka dengan EIB untuk mengawasi munculnya bentuk-bentuk asma yang lebih lazim seiring berjalannya waktu.

Asma Varian Batuk | Triad Asma

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.