Bagaimana Mengetahui Mengalami Depresi?

Pengalaman rasa sedih yang terjadi sewaktu-waktu atau secara berkala, merupakan bagian normal dalam hidup. Hal ini adalah reaksi alami dari tantangan, perubahan, kekecewaan dan kehilangan yang dialami setiap orang. Pasien yang berjuang melawan tantangan fisik dan emosional migrain serta kondisi sakit lainnya, dilaporkan memiliki tingkat dperesi rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat pada umumnya. Depresi adalah gangguan kesehatan utama yang mempengaruhi sekitar 15 juta warga Amerika Serikat. Satu dari hal krusial untuk dipahami dalam konteks migrain adalah, depresi kronis dapat menempatkan Anda pada risiko migrain yang lebih tinggi dan serangan migrain yang lebih sering dan intens.

Jadi, bagaimana Anda menentukan jika Anda mengalami depresi klinis atau hanya berjuang melawan suasana hati sedih yang sementara, sebagai reaksi migrain atau tekanan hidup lain? Sangat lazim bagi para penderita migrain, terutama yang seringkali mengalami serangan, menjadi kecil hati, putus harapan menerima perawatan yang efektif untuk migrain mereka, dari meningkatnya rasa sedih hingga menarik diri secara sosial dari aktivitas sosial dan pekerjaan mereka. Jika Anda menemukan bahwa Anda menghindari aktivitas, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyendiri dan kurang menikmati hal-hal yang dulu Anda sukai; ini dapat mengindikasikan gangguan depresi. Jika Anda mengetahui bahwa Anda memiliki suasana hati sedih sebagian besar waktu selama lebih dari dua minggu, merasa putus asa tentang masa depan, mengalami berkurangnya energi atau selera makan, kurang tidur, dan kesulitan untuk berkonsentrasi atau mengingat hal-hal, tampak jelas Anda tengan melawan beberapa dari gejala utama depresi. Perasaan kewalahan dan memiliki pemikiran bunuh diri merupakan gejala serius yang membutuhkan perhatian segera.

Terkadang Anda juga berpikir bahwa Anda sendirian dalam bereaksi terhadap migrain. Pada kenyataannya, Anda tidak sendiri. Banyak orang yang mengalami gangguan depresi, dan merasa sedih atau tertekan sebagian besar waktu, dan bukanlah sesuatu yang bisa diacuhkan. Sebagian orang mungkin akan merespon, “Anda terlalu banyak bicara mengenai migrain Anda, tentu saja wajar jika merasa sedih beberapa hari ini”. Anda mungkin pernah mengalami waktu-waktu sulit di masa lalu dalam hidup ketika Anda merasakan tertekan dan emosional, namun Anda berhasil melewati pengalaman tersebut dengan jangka waktu yang masuk akal. Jika Anda merasa perubahan suasana hati Anda menghinggapi dalam waktu yang lama dan Anda mengalami gejala-gejala depresi, maka Anda perlu segera mencari pertolongan profesional. Kabar baiknya, depresi dan cemas, ketika diperiksa dengan tepat, merupakan penyakit yang dapat diobati. Ingat, seberapa baik Anda mengatasi migrain dan gangguan emosional yang disebabkannya, berkaitan dengan Anda sebagai pihak yang berpartisipasi dalam perawatan Anda.

Depresi atau rasa cemas terkadang dapat menjadi tanda gejala fisik sebagai tambahan dari gangguan emosi. Beberapa contoh dari gejala fisik seperti berkurang atau bertambahnya berat badan, menurunnya gairah seksual, rasa sakit atau nyeri pada tubuh dan lelah.

Gejala-gejala Depresi :

* Suasana hati yang tertekan setiap hari, penuh air mata, perasan hampa
* Hilangnya minat atau rasa senang dalam aktivitas yang biasanya Anda nikmati
* Selera makan rendah atau berlebihan, penurunan atau peningkatan berat badan
* Gangguan tidur (peningkatan atau penurunan  waktu tidur, sering terbangun saat tidur)
* Merasa kurang berenergi atau lelah
* Sulit berkonsentrasi atau kesulitan membuat keputusan
* Merasa tidak memiliki harapan atau rasa bersalah yang berlebihan
* Rasa percaya diri yang rendah
* Pemikiran mengenai kematian atau memikirkan atau merencanakan bunuh diri

Gejala Kecemasan :

* Cemas atau khawatir berlebihan hampir setiap hari
* Tegang atau merasa gelisah
* Sering merasa lelah
* Sulit berkonsentrasi, atau pikiran menjadi kosong
* Perasaan lekas marah
* Otot yang menegang
* Gangguan tidur (kesulitan untuk tertidur atau tetap tidur, atau tidur yang tidak nyenyak)

Tinjau daftar diatas. Jika memungkinkan, identifikasi sebagian dari gejala tersebut, beritahu dokter Anda untuk menentukan apakah perlu dilakukan konsultasi dengan ahli kesehatan mental. Daftar ini tidak dimaksudkan untuk mengganti konsultasi profesional, atau memperbolehkan Anda untuk melakukan diagnosis sendiri. Kondisi medis spesifik dapat menyerupai gejala-gejala tersebut. Hanya ahli yang memiliki kualifikasi yang dapat membuat diagnosis mengenai gangguan depresi atau kecemasan.

Apakah perasaan berjuang dengan emosi seperti rasa marah, rasa bersalah dan rasa malu itu lumrah?

Para penderita migrain seringkali mengalami bidang emosi yang luas, termasuk marah, bersalah, dan malu sebagaimana perasaan sulit lainnya. Hal ini seringkali diperburuk oleh ketakutan dan asumsi bahwa orang akan menyangka Anda malas, menghindari pekerjaan atau hubungan, atau menggunakan sakit kepala untuk menarik perhatian. Sangat umum dan normal untuk mengalami emosi yang sulit, ketika berjuang dengan masalah medis kronis, depresi atau bernegosiasi dengan perubahan besar dalam hidup. Perasaan lain dan gejala psikologis yang umum yang biasa dirasakan pasien migrain adalah merasa putus ada tentang masa depan, perasaan hampa atau sedih, lelah, depresi, dan cemas. Jika perasaan tersebut menjadi berlebihan, mungkin perlu untuk meminta pertolongan dari hali kesehatan mental profesional dengan izin dan memiliki kualifikasi, seperti pekerja sosial, psikolog klinis (clinical psychologist) atau psikiater. Riwayat depresi atau gangguan psikiatri lainnya dapat mempengaruhi satu hingga beragam kondisi nyeri. Sebaliknya migrain dan kondisi nyeri lain mungkin membuat seseorang rentan terhadap depresi. Jika Anda mendapatkan manfaat dari hali kesehatan mental, sementara Anda berusaha memahami perasaan yang Anda alami.

Setelah mengalami sakit kepala berulang dan gagal menepati janji pekerjaan atau sosial, Anda mungkin mulai berpikir bahwa Anda tidak mampu, bahwa Anda tidak bisa menoleransi tekanan dalam hidup sebagaimana orang lain. Perasaan menyalahkan diri sendiri atau malu merupakan hal yang umum, namun tidak realistis. Migrain adalah penyakit neurologis dan, meskipun gaya spesifik Anda mengatasi dapat mengubah ambang nyeri Anda, namun hal itu tidak menyebabkan Anda terkena migrain pada awalnya.

Lazim juga bagi Anda mengalami kemarahan. Anda mungkin merasa marah dengan diri sendiri karena mengalami serangan yang berulang, pada anggota keluarga untuk tidak memahami Anda dengan lebih baik, membantu atau mendukung Anda, atau bahkan marah pada mereka karena Anda yakin mereka tidak mempercayai Anda. Anda juga mungkin marah pada kehidupan, atau jika Anda religius, marah pada apapun yang Anda percayai sebagai Tuhan karena membiarkan Anda menderita. Atau mungkin Anda berjuang melawan kemarahan yang terkait dengan keadaan lain dalam hidup Anda. Ingat bahwa kemarahan adalah satu dari jenis migrain, sekaligus seringkali meningkatkan tingkat nyeri. Efek marah pada migrain dan ganguuan kesehatan lain sangat serius dan menyebar pada ganguan kesehatan. Hasil kemarahan adalah lepasnya zat kimia otak seperti adrenalin yang dapat mempengaruhi kesehatan. Hasil kemarahan adalah lepasnya zat kimia otak seperti adrenalin yang dapat mempengaruhi kesehatan. Sebagian dari konsekuensi psikologis dalam internalisasi kemarahan termasuk oto yang tegang, gigi gemeretak, penyempitan pembuluh darah, meningkatnya detak jantung, tekanan darah tinggi dan wajah yang memerah. Seluruh reaksi tubuh tersebut seringkali menjadi pemicu pada sakit kepala migrain. Kemarahan yang berlarut-larut atau meningkat dapat menyebabkan rasa sakit di leher dan rahang, gangguan sakit kepala termasuk migrain, tekanan darah tinggi, serangan jantung dan strok di antara masalah medis lainnya. Kita semua sudah mendengar masyarakat umum mengaitkan kemarahan yang berat dengan kalimat “Darahku mendidih” atau “Saya sangat marah sehingga saya terlihat merah”. Ilmu medis sekarang mulai memahami dampak yang sangat luas dari emosi seperti kemarahan terhadap kesehatan.

Namun, kemarahan itu sendiri bukanlah emosi yang berbahaya. Sebenarnya ekspresi kemarahan yang sehat merupakan faktor kunci dari kesehatan fisik dan psikologis. Semua orang pernah merasa marah. Terletak bagaimana kita menghadapi kemarahan itu termasuk meningkatkan atau menginternalisasikan kemarahan, mengarahkan dengan salah atau peningkatan emosi pada titik dimana Anda sering kehilangan kontrol. Salah satu cara sehat menghadapi kemarahan adalah langsung pada hal yang membuat Anda marah sebelum hal itu terbentuk menjadi tingkat yang tidak menyehatkan. Segera setelah Anda mengenali hal yang membuat Anda marah, Anda dapat berbicara pada orang atau orang-orang yang mungkin terlibat atau mencari cara untuk mengatasi masalah yang membuat Anda tertekan. Hal ini bisa dikombinasikan dengan teknik mengatasi secara efektif seperti “mengambil waktu istirahat”, melakukan olahraga, atau mempraktikkan teknik relaksasi yang banyak disebutkan seperti relaksasi pernapasan, meditasi, atau visualisasi kreatif.

Meskipun sangat lazim untuk mengalami emosi seperti marah, bersalah atau malu, sangat penting bagi Anda mempelajari cara untuk lebih bisa mengontrol emosi tersebut, dibandingkan emosi yang mengontrol Anda. Biarkan diri Anda merasakan emosi apapun yang datang dan jangan menginternalisasi atau menghindarinya. Bicarakan dengan seseorang yang Anda rasakan nyaman bersamanya atau cari bantuan profesional. Cobalah untuk memiliki catatan harian dari perasaan dan pemikiran Anda. Ketika Anda merasa kewalahan, coba untuk menggabungkan dengan teknik relaksasi. Ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri dalam menghadapi rasa sakit akibat migrain.

Kaitan antara Depresi, Gelisah, dan Migrain | Kapan harus Berkonsultasi dengan Seorang Ahli Kesehatan Mental?

This entry was posted in Migrain. Bookmark the permalink.