Batuk setelah Jogging, Berlari atau setelah Berpartisipasi dalam Olahraga

Kehadiran batuk persisten selalu menandakan kondisi yang abnormal. Ada banyak alasan mengapa batuk dapat berkembang. Tiap kita pernah mengalami batuk pada waktu tertentu dalam kehidupan kita, ketika sakit infeksi pernapasan, atau flu, misalnya. Sebagian besar batuk yang disebabkan oleh flu biasanya tidak lama dan cenderung sembuh dalam waktu satu bulan. Ketika batuk berlangsung lebih dari 3 – 6 minggu atau adanya pola berulang tertentu, catatlah. Spesialis paru mendefinisikan bentuk kronis sebagai batuk yang telah hadir selama lebih dari 8 minggu. Mayoritas individu dengan batuk kronis yang bukan perokok memiliki salah satu dari tiga penyebab batuk : asma, penyakit refluks esofageal (GERD), atau sindrom posnasal drip (baru-baru ini berganti nama menjadi UACS untuk sindrom batuk saluran napas atas). Batuk yang secara teratur terjadi dengan atau setelah latihan aerobik sangat mengacu pada adanya asma kecuali terbukti sebaliknya.

Latihan dianggap sebagai pemicu gejala pada semua penderita asma. Latihan tidak menyebabkan asma namun bertindak sebagai perangsang terhadap bronkokonstriksi pada asma dan menyebabkan peningkatan inflamasi saluran napas. Pada anak-anak yang lebih kecil khususnya, batuk dengan penggunaan tenaga seharusnya tidak pernah diabaikan; mungkin ujungnya ke diagnosis asma karena batuk adalah gejala asma yang paling sering pada anak-anak.

Mengapa batuk setelah berlari atau jogging membutuhkan evaluasi yang seharusnya dimulai dari riwayat kesehatan (termasuk pengobatan apa saja yang pernah Anda lakukan), diskusi tentang merokok jika berlaku, meninjau kronologi gejala tersebut, dan pemeriksaan fisik dengan perhatian penuh pada pemeriksaan sinus, tenggorokan, jantung, dan paru-paru. Pemeriksaan tambahan mungkin termasuk sinar-X dada (tergantung pada riwayat kesehatan Anda) dan tes fungsi paru.

Gejala Paru disebabkan oleh Kondisi selain Asma

Tergantung pada gejala apa yang Anda miliki. Mahasiswa kedokteran dan para dokter dalam pelatihan khusus diajarkan keterampilan menentukan diagnosis diferensial. Ketika mereview dan menganalisis laporan gejala pasien, dokter menghasilkan sebuah daftar kondisi berbeda yang mungkin, secara teoritis bertanggung jawab atas gejala tersebut. Daftar kondisi yang mungkin disebut diagnosis diferensial. Dokter kemudian menyusun kemungkinan tersebut dalam urutan yang paling mendekati. Yang paling mungkin, berdasarkan informasi yang tersedia, di urutan pertama. Langkah selanjutnya biasanya mencoba untuk mengkonfirmasi , atau “aturan dalam” kesan diagnostik awal dokter dengan melakukan tes khusus yang diperlukan, di samping riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Sebagai contoh, diagnosis diferensial dari batuk persisten, terjadi setiap hari, berupa batuk kering yang berlangsung lebih dari 2 bulan pada seorang mahasiswa berusia 22 tahun dan tidak merokok. Dibalik kesehatan yang sangat baik itu mungkin terdapat asma, UACS (posnasal drip), atau GERD, baik berdiri sendiri atau dalam bentuk kombinasi. Dengan demikian, pada awalnya, dokter akan melakukan evaluasi atas kemungkinan asma dan bahkan mungkin dokter akan meresepkan obat asma. Jika hasil evaluasi awal tidak konsisten dengan asma dan jika mahasiswa tersebut terus batuk walaupun telah mendapatkan pengobatan asma, maka dokter akan mengalihkan perhatiannya pada kemungkinan kedua pada daftar diagnosis diferensial: posnasal drip. Sebuah uji coba terhadap obat yang tepat dapat membantu dalam menentukan apakah UACS (posnasal drip) bertanggung jawab terhadap batuk. Jika intervensi itu tidak membawa perbaikan dan batuk masih bertahan, maka dokter akan mengalihkan perhatiaannya terhadap kemungkinan GERD aktif. Anda dapat mengetahui dari contoh bahwa menjelaskan asal dari batuk kronis mungkin membutuhkan beberapa kali kunjungan ke dokter, dan segudang kesabaran! Anda juga akan mengakui keuntungan dalam berkonsultasi dengan dokter yang ahli dalam diagnosis diferensial, seseorang yang ahli dan berpengalaman untuk menilai dengan tepat kemungkinan asma dibandingkan dengan seseorang yang mendaftarkan semua kemungkinan dan mencoba untuk menggunakannya atau mengesampingkannya.

Beberapa kondisi media yang dikenal, menyerupai asma, kadang-kadang membuat diagnosis diferensial menjadi menantang. Sindrom disfungsi pita suara (VCD), misalnya menunjukkan gejala mirip dengan asma. Tipe tertentu dari penyakit jantung, seperti gagal jantung kongestif, bisa disalah artikan sebagai asma. Beberapa dokter bahkan menggunakan istilah penyakit jantung asma, keliru, untuk menggambarkan suara mengi yang berhubungan dengan gagal jantung kongestif. Demikian pula, penyakit paru-paru selain asma dapat bertanggung jawab untuk gejala yang bersifat asma. Emfisema dan bronkitis obstruktif kronis dapat menyerupai asma, tetapi biasanya ada riwayat merokok yang signifikan. Sarkoidosis paru dapat menyebabkan mengi. Penyakit paru-paru langka seperti bronkiolitis obliteratif atau pneumonia eosinofilik juga kadang-kadang dalam diagnosis diferensial seperti gejala asma.

Diagnosis Diferensial Asma pada Dewasa

Penyakit paru-paru tertentu lainnya yang mengacu pada kesamaan gejala dengan asma :
* COPD (penyakit paru obstruktif kronik yang meliputi emfisema dan bronkitis obstruktif kronis)
* Emboli Paru
* Suatu lesi atau tumor jinak atau ganas yang menghalangi jalan napas utama
* Penyakit paru-paru langka seperti PIE (infiltrat paru dengan eosinofilia atau pneu monia eosinofilik)

Disfungsi jantung juga bisa menyerupai gejala asma tertentu.
* CHF (gagal jantung kongestif)

Disfungsi sistem pencernaan tertentu bisa “menyerupai” seperti asma.
* GERD (penyakit rufluks gastroesofageal)

Gangguan dari kotak suara dapat menjadi diragukan dengan asma.
* Sindrom disfungsi pita suara (VCD)
* Disfungsi laring atau tumor

Resep obat dapat memberikan gejala seperti asma.
* ACE inhibitor-menginduksi batuk
* Beta-blocker menginduksi mengi dan sesak napas karena pengerahan tenaga

Definisi Mengi | Definisi COPD

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.