Cara Mengetahui Memiliki Alergi dan Tipe Pengobatan yang Tersedia

Suatu hubungan yang kuat antara asma dan alergi telah lama diakui dan kedua diagnosis sering berdampingan. Banyak orang percaya bahwa mereka mungkin alergi terhadap makanan tertentu atau aeroalergen, seperti, polen atay bulu anjing. Pengamat yang cerdas mungkin melihat bahwa setelah terpajan agen yang diduga, gejala alergi, seperti gatal, mata berair, hidung tersumbat, atau tenggorokan gatal berkembang. Pada gejala lain yang ekstrem, seseorang mungkin alergi dan tidak berkaitan, tidak mengenali gejala alergi apa sebenarnya. Kadang-kand, dokter yang mengobati mungkin mencurigai bahwa sekelompok gejala berulang gejala di luar paru atau mencerminkan asma persisten dengan alergi yang mendasari. Dalam setiap keadaan, konsultasi dengan spesialis alergi atau ahli alergi bisa sangat membantu dan sangat dianjurkan untuk menentukan apakah ada laergi atau tidak.

Orang-orang, terutama anak-anak, dengan asma persisten (klasifikasi NAEPP per 2007) harus dievaluasi untuk kemungkinan asma yang disebabkan alergi. Yang paling penting alergen dari perspektif asma adalah alergen yang terhirup, termasuk alergen indoor (seperti, tungau debu, bulu hewan, dan kecoak) dan spora jamur dari lingkungan outdoor. Asma musiman berhubungan dengan pajanan sari rumput, ragweed, dan polen pada orang yang sensitif. Alergi makanan tidak biasanya mempercepat munculnya gejala asma.

Jika dokter yang mengobati Anda percaya bahwa Anda memiliki gejala alergi yang signifikan, rujukan ke spesialis alergi dapat dipertimbangkan. Para ahli alergi adalah mereka yang ahli dalam mengevaluasi dan merawat anak-anak dan orang dewasa yang menderita alergi. Evaluasi selalu dimulai dengan riwayat gejala pasien yang rinci dan review tentang riwayat keluarga. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan penekanan pada tempat-tempat tertentu pada kulit, saluran pernapasan atas, dan paru-paru. Petunjuk penting dalam diagnosis alergi sering ditemukan pada pemeriksaan dekat kulit, mata, tenggorokan, dan saluran hidung, dan pada auskultasi paru-paru. Seorang dokter yang penuh perhatian dapat mendeteksi berbagai temuan spesifik alergi jika mereka yang terdapat pada pemeriksaan fisik. Setelah mendapatkan riwayat lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik, langkah selanjutnya dalam evaluasi tersebut mungkin memerlukan tes alergi tertentu. Tes dilakukan secara langsung pada kulit (tes alergi in vivo) atau menurut prosedur laboratorium (tes alergi in vitro) dengan sampel darah.

Tes langsung merujuk kepada salah satu dari dua teknik, kadang-kadang secara kolektif disebut tes kulit. Yang pertama menggunakan metode cucuk kulit dan dilakukan pada kulit lengan bawah pasien atau belakangnya. Bentuk tes dengan cucuk kulit ini tidak melibatkan suatu injeksi. Jika hasil tes cucuk kulit tidak definitif, maka langkah selanjutnya dalam evaluasi pada kondisi dicurigai adanya alergi mungkin memerlukan tes intradermal, biasanya di lengan atas. Tes intradermal memerlukan suntikan yang sangat superfisial langsung ke dalam lapisan kulit. Tes tidak langsung (in vitro) membutuhkan venipunktur, di mana sampel (tabung ) darah dari vena diperoleh melalui spuit. Tes alergi in vitro, yang pertama kali diperkenalkan secara komersial, yaitu RAST (singakatan dari RadioAllergoSorbent Test) yang dikembangkan oleh Pharmacia Diagnostik Uppsala Swedia, dan banyak tersedia pada pertengahan tahun 1970-an. Perusahaan ini mengembangkan tes yang lebih halus pada tahun 1989 yang disebut ImmunoCAP, yang kini menggantikan RAST generasi pertama.

Hasil tes “alergi positif” mencerminkan pajanan sebelumnya diikuti oleh sensitisasi terhadap alergen spesifik yang diuji. Hasil tes yang positif menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh telah distimulasi untuk memproduksi protein, yaitu sebuah antibodi IgE khusus yang ditujukan terhadap alergen yang diuji. Pertimbangkan, misalnya seorang mahasiswa yang setiap tahun ketika ia pindah ke asrama di sekolahnya di akhir musim panas, memperhatikan dalam beberapa minggu ia mengalami hidung tersumbat, batuk, dan suar dari gejala khas asmanya yang memerlukan peningkatan dosis asma. Penyebab alergi yang diduganya adalah alergi ragweed. Hasil tes langsung dengan ekstrak ragweed adalah positif, yang berarti bahwa sistem imun mahasiswa ini telah distimulasi berlebihan untuk menghasilkan antibodi IgE yang ditujukan terhadap ragweed. Mahasiswa yang peka terhadap ragweed, sekarang dalam kondisi “terbaik” untuk mendapatkan reaksi alergi ketika ia terpajan lagi oleh ragweed. Ketika ia kembali ke kampus sealam musim ragweed, ia mengalami gejala hidung dan suar asmanya sebagai akibat dari alergi ragweednya.

Banyak yang keliru mempercayai. Sebenarnya tes darah (RAST atau ImmunoCAP) bagaimanapun juga lebih akurat daripada tes alergi langsung dalam mengevaluasi alergi. RAST adalah tes dengan teknik yang valid untuk menentukan sensitivitas alergi dan adanya antibodi IgE. ImmnunoCAP menyediakan pengukuran rinci tambahan terhadap tingkat antibodi IgE.

Situasi klinis tertentu dapat menyebabkan ahli alergi untuk merekomendasikan metode pengjuian in vitro (darah) daripada in vivo, diakui juga, bahwa in vivo (tes kulit) membutuhkan keahlian khusus dan pengalaman untuk melakukan. Orang dengan kondisi kulit aktif, seperti eksema atau psoriasis, atau kulit yang sangat reaktif bukan calon yang tepat untuk tes alergi langsung (kulit) dan lebih baik dievaluasi dengan tes darah, misalnya. Seorang anak yang sangat kecil dan siapa saja yang memiliki ketakutan berlebihan terhadap jarum mungkin akan menjadi calon untuk tes RAST juga. Akhirnya, seseorang yang membutuhkan obat antihistamin sehari-hari yang tidak dapat dihentikan sementara harus dipertimbangkan untuk tes darah, karena tes kulit langsung memberikan hasil yang tidak bisa diandalkan (in vivo) jika seseorang pada saat pengujian masih menggunakan obat antihistamin. Tes untuk berbagai alergi makanan yang dicurigai pada anak kecil dapat dilakukan sekaligus secara efektif dengan RAST atau tes darah ImmunoCAP.

Begitu diagnosis alergi tertentu (atau alergi) ditegakkan, langkah berikutnya adalah memulai pengobatan yang tepat. Ada tiga pendekatan dasar dan melengkapi dalam pengobatan penyakit alergi, yaitu penghindaran alergen, obat-obatan, dan immunoterapi. Langkah pertama adalah menghindari kontak serta pajanan terhadap alergen bila memungkinkan. Beberapa penyebab alergi, seperti makanan, secara umum dapat diatasi dengan perencanaan menu secara hati-hati dan memperhatikan label makanan dengan cermat, sementara yang lain, seperti pohon polen, tidak mungkin dapat sepenuhnya dihindari, dan beberapa (seperti keluarga penyayang hewan peliharaan) mungkin akan sangat sulit untuk menjauhinya. Meskipun demikian, merupakan hal yang juga penting bagi penderita alergi memiliki gaya hidup yang normal dan sehat sebisa mungkin. Jika Anda laergi terhadap alergen lingkungan (seperti kucing, anjing, atau hamster) dan Anda secara konsisten dan terpercaya berhasil menerapkan kontrol terhadap alergi lingkungan, Anda mungkin tidak memerlukan pengobatan atau perawatan lebih lanjut.

Pengendalian lingkungan saja, bagaimanapun tidak selalu cukup untuk mengobati alergi yang signifikan. Meskipun pengendalian lingkungan yang sangat baik dan ditentukannya upaya penghindaran alergen, langkah-langkah tambahan biasanya dibutuhkan untuk pengobatan alergi yang optimal. Strategi kedua dalam pengobatan alergi adalah resep obat yang tepat (farmakoterapi) yang secara efektif mengendalikan gejala. Catatan, bagaimanapun, obat yang diresepkan untuk mengendalikan gejala alergi tidak bisa menyembuhkan alergi yang mendasarinya. Imunoterapi, biasanya disebut sebagai “injeksi alergi”, adalah pendekatan ketiga yang digunakan untuk pengobatan asma alergi dan merupakan satu-satunya metode pengobatan yang memiliki potensi untuk “menolak”, atau mungkin mematikan kemampuan sistem kekebalan tubuh yang bereaksi terhadap alergen tertentu. Jika tidak ada reaksi alergi, tidak akan ada gejala asma. Perhatikan, misalnya, pasien dengan alergi terhadap pohon polen dan serbuk sari rumput yang orang tuanya datang ke ahli alergi mencari pendapat kedua ketika ia berusia 11 tahun. Gejala alergi pertama kali berkembang saat ia berada di grade satu. Empat tahun kemudian, anak muda ini mengalami gejala alergi yang memburuh setiap musim semi dan musim panas meskipun ia sangat patuh menggunakan pil antihistamin, semprotan alergi hidung, dan pengendalian lingkungan seperti penggunaan penyejuk udara dan saringan udara. Segera sebelum ia dibawa untuk berkonsultasi, ia memerlukan beberapa program pengobatan kortikosteroid oral selama satu musim semi dan musim panas. Salah satu rekomendasi pengobatan kami termasuk pertimbangan immunoterapi yang ditujukan terhadap alergen pohon dan rumput. Pasien ini meneruskan dengan immunoterapi dan sekarang aktif, remaja 16 tahun seorang pecinta olahraga yang tidak lagi perlu menggunakan semprotan steroid hidung dan antihistamin setia hari untuk tetap sehat. Selama musim alergi – musim semi sampai awal musim panas – ia hanya menggunakan antihistamin beberapa kali untuk mengendalikan gejala nyata yang berkurang. Partisipasinya dalam olahraga favoritnya – sepak bola dan baseball – tidak lagi menyajikan tantangan, seperti sebelum ia mulai pengobatan alerginya. Imunoterapi ditujukan terhadap pohon polen dan serbuk sari rumput polen yang telah menyebabkan sistem kekebalan tubuhnya menolak dan hampir mematikan kemampuannya untuk bereaksi secara alergikal terhadap salah satu dari kelas-kelas polen ini. Dengan terapi lanjutan, tidak masuk akal untuk pria muda ini untuk menyingkirkan sensitivitas alerginya terhadap musim serbuk sari musim semi.

Alergis adalah dokter yang ahli dalam mengelola immunoterapi. Immunoterapi telah terbukti efektif dalam pengobatan terhadap orang yang dipilih dengan asma alergi, rinitis alergi, dan alergi sengatan serangga. Pengobatan awalnya memerlukan kunjungan mingguan dan berlangsung selama rata-rata 3 – 5 tahun, tetapi kadang-kadang lebih. Waktu tambahan, interval antara kunjungan injeksi bertambah menjadi 3 – 4 minggu selama fase pemeliharaan. EPR-3 NAEPP tahun 2007 menyarankan agar immunoterapi dipertimbangkan untuk setiap orang dengan asma persisten “jika bukti jelas adanya hubungan antara gejala dan pajanan dengan alergen yang pasien sensitif terhadapnya”.

Berkonsultasi dengan Seorang Dokter yang Ahli dalam Penyakit Asma | Immunoglobulin E (IgE)

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.