Ciri dan Gejala Impotensi

Ada yang menganggap bahwa lelaki dengan ciri-ciri tertentu dapat dikenali sebagai lelaki yang mengidap impotensi. Pendapat ini jelas salah. Ciri-ciri dan gejala-gejala impotensi tidak dapat dikenali dari bentuk fisik seseorang. Semuanya itu baru dapat diketahui dari pemeriksaan yang menyeluruh.

Ciri-ciri Impotensi

Ciri-ciri impotensi tidak dapat dilihat dari bentuk fisiknya. Ciri-ciri impotensi adalah bila seseorang lelaki kehilangan potensinya sehingga tidak bisa ereksi. Proses ereksi pada penis adalah pemompaan darah menuju rongga-rongga oenis oleh jantung. Dapat digambarkan secara sederhana seperti pompa air di rumah kita. Semakin kuat tekanan pompa air maka selang akan semakin mengeras.

Jika dilihat dari unsur tersebut, secara teknis yang diperlukan hingga terjadi ereksi yang kuat adalah jantung yang kuat dan saluran darah ke penis yang lancar. Darah yang bagus, artinya tidak ada penyakit gula darah (diabetes mellitus) dan selang atau saluran yang bagus. Jika ketiga unsur ini dipenuhi maka ereksi secara teknis akan bagus. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi maka akan terlihat ciri-ciri impotensi yang terdeteksi pada seorang lelaki.

Selain ciri-ciri fisik tersebut, ada unsur nonteknis yang ikut menentukan bahwa seseorang lelaki terkena impotensi atau tidak. Persoalan nonteknis tersebut adalah masalah psikis, depresi, rendah diri, maupun cemas yang berlebihan. Faktor ini akan mendukung seorang lelaki untuk kehilangan potensinya. Orang yang depresi, rendah diri, dan cemas maka kerja jantung akan berubah tidak bisa konstan. Cara terbaik mencegah impotensi adalah tetap tenang dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Berikutnya adalah ciri-ciri penyakit yang diderita oleh lelaki, misalnya penderita diabetes mellitus (kencing manis). Darah adalah cairan unsur utama pada manusia. Orang dengan penyakit gula darah ini adalah orang yang sudah lemah secara fisik. Kondisi lemah ini akan membuat lelaki juga lemah dalam urusan ereksi dan pada akhirnya akan menyebabkan impotensi.

Gejala Impotensi

Impotensi merupakan penyakit yang sangat personal dan hanya bisa dirasakan oleh penderita bersama pasangannya saat melakukan hubungan seksual. Oleh karena itu, gejala-gejala akan terjadinya impotensi pun biasanya tidak diketahui. Kecuali, yang bersangkutan memeriksakan diri ke dokter. Dari anamnesis (wawancara terstruktur) dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter akan dapat diketahui adanya tanda dan gejala impotensi.

Tahapan yang dilakukan dalam proses diagnosis yang pertama adalah anamnesis, yaitu ditanyakan tentang penyakit-penyakit seperti diabetes mellitus (kencing manis), hiperkolesterolemia (meningkatnya kadar lemak di dalam darah), penaykti jantung, merokok, alkohol, obat-obatan, operasi yang pernah dilakukan, penyakit tulang punggung, penyakit neurologis, dan psikiatris.

Selanjutnya, dokter akan menggali riwayat kehidupan seksual si penderita, baik tentang kehidupan seks, penyakit yang pernah diderita, maupun psikoseksual. Pada penderita akan ditanyakan hal-hal di bawah ini :

1. Gangguan ereksi dan gangguan dorongan seksual.
2. Ejakulasi, orgasme, dan neyri kelamin.
3. Fungsi seksual pasangan.
4. Faktor gaya hidup, seperti merokok, alkohol yang berlebihan, dan penyalahgunaan narkotika.
5. Penyakit kronis.
6. Riwayat trauma (cedera) dan operasi di daerah pelvis, perinum, maupun penis.
7. Radioterapi daerah penis.
8. Penggunaan obat-obatan.
9. Penyakit saraf dan penyakit hormonal.
10. Penyakit psikiatrik dan status psikologik.

Selain itu, pencatatan daftar obat yang dikonsumsi juga harus diperhatikan. Sekitar 25% dari semua kasus impotensi terkait dengan obat-obatan. Penggunaan alkohol yang berlebihan dan pemakaian narkotika juga ditanyakan karena terkait dengan peningkatan resiko disfungsi seksual. Pasien juga ditanya adakah riwayat depresi karena merupakan faktor resiko impotensi.

Untuk mengetahui apakah seseorang telah mengalami gejala impotensi diperlukan evaluasi fungsi seksual lelaki. Evaluasi tersebut disusun dalam bentuk beberapa pertanyaan yang dikenal sebagai IIEF-5 (International Index of Erectile Function).

Pada setiap pertanyaan telah disediakan pilihan jawaban. Orang yang sedang dievaluasi diminta memilih yang paling sesuai dengan kondisi orang tersebut selama enam bulan terakhir. Pilihan hanya satu jawaban untuk setiap pertanyaan. Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang diajukan.

Skor IIEF-5 sebenarnya merupakan penyederhanaan dari the International Index of Erectile Function 15 (IIEF 15). Skor IIEF 15 memiliki 15 item pertanyaan, yang meliputi 5 komponen penilaian yaitu : fungsi ereksi (erectile function), fungsi orgasme (orgasmic function), keinginan berhubungan seksual (sexual desire), kepuasan bersenggama (intercourse satisfaction), dan kepuasan secara keseluruhan (overall satisfaction).

Untuk memastikan seseorang menderita impotensi, selain pemeriksaan yang dilakukan diatas, ada pula pemeriksaan yang lain yaitu pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda hipogonadisme [termasuk testis kecil, ginekomasti (payudara membesar) dan berkurangnya pertumbuhan rambut tubuh dan janggut] memerlukan perhatian khusus.

Pemeriksaan penis dan testis dikerjakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan bawaan atau induratio penis. Apabila perlu dilakukan palpasi transrektal (penekanan di dekat anus) dan USG transrektal (melalui dubur). Tidak jarang impotensi disebabkan oleh penyakit prostat jinak, prostat ganas, atau prostatitis (radang prostat).

Pemeriksaan rectum (dubur) dengan jari (digital rectal examination), penilaian tonus sfingter ani (kekuatan atau daya cengkeram otot anus), dan bulbo cavernosus reflek (kontraksi muskulus bulbokavernous pada perineum setelah penekanan glands penis) untuk menilai keutuhan dari sacral neural outflow. Nadi perifer dipalpasi untuk melihat adanya tanda-tanda penyakit vaskuler, juga untuk melihat komplikasi penyakit diabetes mellitus (kencing manis), termasuk tekanan darah, ankle bracial index, dan nadi perifer.

Selain itu, juga dapat dilakukan pemeriksaan penunjang serta pemeriksaan laboraturium sesuai indikasi dan bila tersedia fasilitas. Biasanya yang diperiksa adalah kadar serum testosterone paga hari (perlu diketahui, kadar ini sangat dipengaruhi oleh kadar luteinizing hormone), pengukuran kadar glukosa (gula) dan lipid (lemak), hitung darah lengkap (complete blood count), dan tes fungsi ginjal.

Sedangkan pengukuran vaskuler berdasarkan injeksi prostaglandin E1 pada corpora penis, duplex ultrasonography (jenis USG), biothesiometry, atau nocturnal penile tumescence tidak direkomendasikan pada praktek rutin sehari-hari. Namun dapat sangat bermanfaat bila informasi tentang vascular supply (suplai pembuluh darah) diperlukan, misalnya, untuk menentukan tindakan bedah yang tepat (implantation of a prosthesis vs. penile reconstruction).

Dari uraian penjelasan tentang berbagai gejala impotensi, dapatlah diketahui bahwa untuk memastikan seseorang terkena impotensi, tidak dapat dilakukan dengan kira-kira atau sekali datang. Semuanya harus dilakukan dengan pemeriksaan yang benar dan menyeluruh.

Pada lelaki, pada umumnya pernah mengalami impotensi temporer (sementara) yang disebabkan karena faktor kelelahan fisik dan mental. Artinya, dalam masa tertentu tidak dapat melakukan ereksi disebabkan oleh kelelahan fisik dan mental tersebut. Namun ketika kelelahan tersebut sudah hilang, dirinya akan dapat kembali ber-ereksi secara sempurna.

Jadi, untuk memastikan seseorang terkena impotensi secara permanen (menetap), haruslah ditentukan oleh dokter setelah melalui serangkaian pemeriksaan yang lengkap. Apabila seseorang lelaki pada masa tertentu tidak dapat ereksi maka belum dapat divonis begitu saja dia telah mengalami impotensi.

Penyebab Impotensi | Klasifikasi Impotensi

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.