Darah Kental pada Kehamilan

Penyakit darah kental atau sindrom darah kental (ACA, anticardiolipin) memang tidak sepopuler penyakit lain yang bisa menyebabkan keguguran. Faktor-faktor keguguran lainnya agaknya lebih banyak ketimbang yang disebabkan oleh darah kental. Pengetahuan masyarakat tentang ACA pun masih minim. Padahal risiko ACA sangat tinggi antara lain stroke dan keguguran, bahkan bisa juga kematian. Demikian pendapat Dr. Andika Rachman, SpPd, dokter spesialis hematologi dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Ia banyak menangani kasus ACA pada wanita hamil. Menurutnya, kasus darah kental pada wanita justru banyak ditemukan pada wanita yang tengah hamil. Menurutnya, kasus darah kental pada wanita justru banyak ditemukan pada wanita yang tengah hamil.

Di dunia kedokteran, penyakit darah kental sebenarnya bukan hal baru, tetapi tidak banyak yang tahu atau waspada terhadap sindrom ini, padahal kalau sungguh-sungguh di teliti, korbannya cukup banyak, demikian Dr. Aru W. Sudoyo, spesialis Hematologi-Onkologi (konsultan) dari Fakultas Kedokteran UI.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyakit atau sindrom darah kental memang belum banyak dikenal masyarakat dan belum banyak diwaspadai oleh para dokter. Karena itu, tidak mengherankan jika and pun jarang mendengar ada wanita hamil yang keguguran disebabkan darah kental.

Penyebab sindrom darah kental pada wanita hamil

Pada masa kehamilan, darah secara alamiah memang sedikit lebih kental dari biasanya. Jika ditambah dengan adanya antibodi antikardiolipin, maka darah akan makin kental dan sulit mencapai pembuluh-pembuluh darah kapiler kecil di dalam ari-ari (plasenta). Sindrom darah kental (antiphospholipid syndrome) secara umum disebabkan kesalahan antibodibyang seharusnya menyerang virus dan bakteri yang merugikan tubuh (“musuh”) namun menyerang fosfolipid, sejenis protein yang ada dalam darah. Sindrom darah kental atau disebut juga sindrom ACA atau APS menyerang semua orang, pria maupun wanita (hamil maupun tidak hamil), tua maupun muda.
Ada dua klasifikasi sindrom darah kental, yaitu :

– Primary, jika pasien tidak memiliki penyakit autoimun (seperti systemic lupus erythematosus, SLE)
– Secondary, jika pasien memilik salah satu penyakit-penyakit autoimun.

Sementara itu penyebab primary APS tidak diketahui. Namun beberapa faktor dihubungkan dengan kemunculan antibodi antikardiolipin, meski belum tentu akan menyebabkan sindrom APS (antiphosphilipid syndrome) yaitu:
– Infeksi. Mereka yang mengidap penyakit-penyakit sifilis, HIV, hepatitis C, dan malaria diprediksi mempunyai peluang lebih besar untuk memunculkan antibodi antikardiolipin.
– Obat-obatan. Mereka yang minum obat-obat tertentu seperti hydralazine, phenytoin, dan antibiotik amoxicillin, dapat meningkatkan kadar resiko darah kental.
– Genetik. Meski penyakit-penyakit yang tidak digolongkan sebagai penyakit keturunan, namun penelitian sebagai penyakit keturunan, namun penelitian menandai bahwa mereka yang dilahirkan dari ibu penyandang APS atau dalam keluarganya ada yang memiliki sindrom APS, maka kemungkinan besar dalam darahnya ada antibodi antikardiolipin.

Wanita-wanita yang beresiko penyandang APS adalah mereka yang memiliki riwayat ginekologis buruk, misalnya keguguran berulang, janin mati dalam kandungan, dan preeklamsia semasa kehamilan terdahulu. Mereka inilah yang berpeluang lebih besar terkena APS pada kehamilan-kehamilan berikutnya. Diingatkan oleh Dr. Karmel, bahwa bukan cuma wanita hamil yang beresiko terkena APS, penyakit darah kental bisa menyerang siapapun, laki-laki dan perempuan, tua maupun muda dan belia. Penyebabnya tidak bisa dipastikan,namun umumnya mereka yang mengidap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah misalnya jantung dan stroke- beresiko APS.

Mencegah Komplikasi yang Disebabkan Trombofilia | Keguguran Berulang

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.