Diagnosis Asma

Diagnosis asma sering dapat ditentukan secara langsung, tetapi juga dapat memakan waktu lama dan sukar dipahami. Asma dapat menunjukkan gejala berbeda pada individu yang berbeda karena sifat alamiahnya yang hilang timbul, serta variabilitasnya. Seorang dokter yang mengevaluasi pasien dengan penampakan gejala yang khas, atau sesuai dengan apa yang tertulis di buku teks, akan sangat mungkin untuk dapat mendiagnosis asma dengan benar pada kunjungan pertama. Seorang pasien dengan gejala bervariasi atau tidak khas mungkin memerlukan kunjungan ulang atau tes diagnostik khusus untuk menegakkan diagnosis asma yang dicurigai. Bentuk asma yang lebih parah biasanya lebih mudah untuk ditentukan dan didiagnosis secara akurat. Pertimbangkanlah beberapa contoh dalam setiap kategori berikut in. A sebelumnya sehat, dewasa muda, tidak merokok, yang melaporkan riwayat periodik dari mengi intermiten, batuk, rasa tak nyaman di dada, dan sesak napas dengan pajanan terhadap udara dingin musim dingin yang menggambarkan riwayat khas asma. Mahasiswi yang menemui dokter karena batuk yang membandel dan yang khawatir terhadap bronkitis kronis atau berulang serta pilek, mungkin sebenarnya menderita asma. Demikian juga, remaja yang “kehabisan napas” saat bermain bola raket, dan terbiasa batuk selama beberapa jam setelah setiap pertandingan, dapat dipastikan menderita asma juga.

Diagnosis asma dapat dipastikan bila gejala spesifik, temuan pemeriksaan fisik, dan hasil tes khusus paru tersedia. Langkah pertama dalam mengevaluasi seseorang yang dicurigai menderita asma yaitu riwayat medis yang detail dan lengkap, selama pasien berkonsultasi dengan dokter untuk percakapan yang mendalam dan pertukaran informasi. Pasien akan menggambarkan apa gejala yang ia alami, dan dokter akan menanyakan serangkaian pertanyaan yang diarahkan ke kesehatan paru-paru, diikuti oleh lebih banyak pertanyaan tentang kesehatan umum. Dengan cara ini, dokter akan memperoleh informasi, tidak hanya tentang gejala khusus paru pasien, tetapi juga tentang ada atau tidaknya alergi, dan kondisi medis atau bedah lainnya. Latar belakang informasi penting lainnya berasal dari review riwayat pengobatan pasien, bersama dengan perjalanan, pekerjaan, dan riwayat sosialnya. Beberapa pertanyaan mungkin pertama kali terdengar membosankan, tapi walaupun demikian harus tetap dijawab dengan jujur. Ketika seorang pasien ditanya, apakah kamar tidurnya berkarpet penuh, atau siapa yang menyedot debu, misalnya. Tertarik untuk mengumpulkan fakta untuk membantu memutuskan apakah mungkin suatu respon alergi terhadap lingkungan rumah. Demikian pula, ketika bertanya, “Apakah ada orang lain selain ia di rumah yang juga batuk? atau “Apakah ada perokok di rumah? Mencari petunjuk untuk membantu saya mengasah dalam mendapatkan diagnosis yang benar. Semua percakapan antara pasien dan dokter sepenuhnya bersifat rahasia; kebenara di antara kamu adalah bagian penting dari keberhasilan hubungan dokter-pasien. Sama seperti dokter tidak pernah berpikir untuk memberitahu pasien ketidakbenaran, jadi, dokter dukung pasien untuk memberikan deskripsi yang akurat atau riwayat.

Setelah pemeriksaan riwayat kesehatan, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik. Sebagian besar spesialis paru akan melakukan pemeriksaan yang diarahkan ke fisik, dengan penekanan khusus pada saluran pernapasan bagian atas (hidung, tenggorokan, sinus), paru-paru, dan kulit. Seseorang boleh meminta pengukuran tanda vital, mencakup tekanan darah, laju pernapasan, denyut nadi, dan jika perlu, suhu juga diperiksa. Inspeksi, perkusi, dan auskultasi merupakan teknik dalam pemeriksaan paru-paru. Inspeksi mengacu pada tampilan visual. Ahli paru akan memeriksa apakah kedua paru-paru bergerak mengembang dan mengempis setiap kali bernapas, misalnya. Perkusi berupa ketokan lembut di dada, untuk mendengarkan sesuatu yang dapat menjadi petunjuk, apakah paru-paru penuh udara atau tidak. Jika paru-paru penuh dengan udara, ketokan akan terdengar bunyi resonan. Jika paru-paru tidak sepenuhnya terisi udara, maka ketokan akan menimbulkan bunyi redup. Auskultasi memerlukan stetoskop. Pemeriksa akan meminta pasien untuk menarik dan menghembuskan napas dalam-dalam dan teratur selama auskultasi. Adanya atau tidak adanya mengi akan sangat signifikan.

Setelah pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik lengkap, dokter akan mulai mengeluarkan daftar kemungkinan diagnosis yang disebut diagnosis diferensial. Kesan klinis yang didapat dokter akan membantu menilai diagnosis yang mungkin dalam urutan daftar kemungkinan. Kadang-kadang mungkin jelas bagi dokter bahwa terdapat asma. Tes fungsi paru yang disebut spirometri (diperoleh sebelum dan setelah inhalasi obat bronkodilator) diindikasikan untuk mengkonfirmasi dan jika asma tetap menempati kemungkinan diagnosis yang paling mungkin pada daftar penjelasan untuk gejala-gejala pasien yang mungkin menderita asma, tes diagnostik tambahan sering dilakukan. Tes tambahan berguna dalam mengeluarkan diagnosisalternatif dan dalam menentukan apakah asma merupakan diagnosis yang tepat meskipun ada hasil spirometri.

Sindrom Disfungsi Pita Suara (VCD) dan GERD | Tes Diagnostik untuk Mendiagnosis Asma

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.