Diagnosis Hipertensi

Untuk mengetahui keberadaan hipertensi, pengukuran tekanan darah harus dilakukan dalam keadaan duduk rileks atau berbaring selama 5 menit. Apabila hasil pengukuran menunjukkan angka 140/90 mmHg atau lebih, hal ini dapat diartikan sebagai keberadaan hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu kali pengukuran saja. Jika pada pengukuran pertama hasilnya tinggi, maka tekanan darah diukur kembali sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi.

Pada dasarnya dugaan kuat seseorang menderita hipertensi terjadi apabila terdapat hal-hal berikut :

Riwayat hipertensi dalam keluarga

Apabila kedua orangtua mengidap hipertensi, kemungkinan besar yang bersangkutan akan mengidap hipertensi (primer). Selain itu periksalah juga apakah dalam keluarga ada yang mengalami penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kencing manis, atau kolesterol tinggi.

Umur penderita

Hipertensi primer biasanya muncul pada mereka yang berumur antara 25 – 45 tahun, hanya sekitar 20% saja yang mengalami hipertensi pada usia di bawah 25 tahun atau di atas 45 tahun.

Data faktor resiko

Ada tidaknya faktor-faktor hipertensi, seperti : perokok, suka mengonsumsi alkohol, obesitas, stres, dan kebiasaan mengonsumsi makanan asin.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboraturium dan pemeriksaan penunjang lain tidak selalu dilakukan, kecuali jika Anda mencurigai keberadaan hipertensi sekunder. Pemeriksaan tersebut meliputi :

* Pemeriksaan urin
Dilakukan untuk mengetahui keberadaan protein dan sel-sel darah merah (eritrosit) yang menandai kerusakan ginjal. Kadar gula untuk mendeteksi kencing manis juga sebaiknya diperiksa.

* Pemeriksaan darah
Dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal, termasuk mengukur kadar ureum dan kreatinin. Kadar kalium dalam urin akan tinggi jika terdapat penyakit aldosteronisme primer, karena tumor korteks kelenjar adrenal yang dapat memicu hipertensi. Kadar kalsium yang tinggi berhubungan dengan hipertiroidisme. Melalui pemeriksaan ini, kadar gula darah dan kolesterol juga diukur.

Berikut adalah nilai normal beberapa pemeriksaan dalam mg/dl :
a. Ureum : 15 – 50
b. Kreatinin : 0,6 sampai 1,3
c. Asam urat : 3,4 – 7 (pria) dan 2,4 – 5,7 (wanita)
d. Glukosa sewaktu : kurang dari 150
e. Glukosa puasa : 70 – 100
f. Glukosa 2 jam setelah puasa : kurang dari 150
g. Kolesterol total : 140 – 200
h. Kolesterol HDL : di atas 45
i. Kolesterol LDL dan trigliserida : kurang dari 150
j. Kalium : 3,3 – 5,1 mEq/L
k. Natrium : 135 – 155 mEq/L
l. Kalsium : 8,8 – 10,2 mEq/L

Pemeriksaan lain

Ada berbagai jenis pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendukung diagnosis hipertensi. Pemeriksaan foto dada dan rekam jantung (EKG) dilakukan untuk mengetahui lamanya menderita hipertensi dan komplikasinya terhadap jantung (sehingga dapat menilai adanya kelainan jantung juga). Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) dilakukan untuk menilai apakah ada kelainan ginjal, anuerisma (pelebaran arteri) pada bagian perut, tumor di kelenjar adrenal. Magnetic Resonance Angiography (MRA) dilakukan untuk melihat kelancaran aliran darah.

Pemeriksaan komplikasi

Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak, dan ginjal, karena komplikasi sering terjadi pada organ-organ tersebut. Komplikasi hipertensi terjadi karena peningkatan tekanan darah yang merusak organ-organ target. Untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi maka sebaiknya Anda melakukan berbagai pemeriksaan di bawah ini, yaitu :

1. Pemeriksaan mata

Untuk mengetahui kelainan organ atau pembuluh darah, biasanya dilakukan pemeriksaan pada pembuluh darah retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata), yang merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriolar (pembuluh darah kecil). Ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. Untuk memeriksa retina, digunakan alat oftalmoskopi. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.

2. Pemeriksaan jantung

Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa diketahui dengan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung). Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi.

3. Pemeriksaan ginjal

Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih. Adanya sel-sel darah, gula dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk adanya kerusakan ginjal. Dalam pemeriksaan digunakan stetoskop yang ditempelkan di atas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ginjal, yang mengalami penyempitan). Atau dilakukan analisis air kemih dan rontgen atau USG ginjal. Untuk mengetahui penyebab penyakit feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar), dan pucat.

4. Pemeriksaan rutin

Untuk mengetahui penyebab lain bisa dilakukan pemeriksaan rutin tertentu, misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya keadaan hiperaldosteronisme. Kadar potasium darah yang rendah mengindikasikan kemungkinan kelenjar adrenal yang terlalu aktif. Dan mengukur perbedaan tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya kelainan arteri besar (koartasio aorta).

5. Pemeriksaan otak

Jika hipertensi sudah berat dan kronis dapat timbul komplikasi pada otak serta menyebabkan stroke dan pikun (dementia).

Gejala Hipertensi | Penanganan Hipertensi

This entry was posted in Hipertensi. Bookmark the permalink.