Enam Langkah Optimal Penanganan Stroke

Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga dan penyebab kecacatan nomor satu di seluruh dunia. Dampak stroke tidak hanya dirasakan oleh penderita, namun juga oleh keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Penelitian memperlihatkan bahwa kejadian stroke terus meningkat di berbagai negara berkembang (termasuk Indonesia).

Beberapa penelitian di negara Asia menunjukkan angka prevalensi stroke berkisar antara 50 – 400 orang per 100.000 penduduk per tahun. Dampak stroke yang sedemikian besar memunculkan kepedulian komunitas medis yang tergabung dalam World Stroke Organization mencanangkan hari stroke sedunia. Hari stroke sedunia diperingati setiap tanggal 29 Oktober sejak tahun 2008.

Hari stroke sedunia membawa pesan bahwa stroke dapat dicegah dan diobati. Pada satu sesi utama dalam pertemuan World Stroke Congress di Austria (24 – 27 September 2008) disampaikan bahwa pencegahan merupakan langkah utama untuk mengurangi beban sakit akibat stroke. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penanganan stroke yang lebih optimal. Penanganan yang lebih optimal diharapkan akan menurunkan kematian dan kecacatan akibat stroke.

A. Enam Langkah Penanganan Stroke

Enam langkah penanganan stroke diambil dari intervensi pada perjalanan alamiah dan klinis penyakit stroke. Langkah-langkah penanganan stroke meliputi :

1. Pencegahan Stroke

Pada prinsipnya stroke dapat dicegah. Pemahaman akan faktor resiko stroke dan pengendalian akan faktor resiko stroke mutlak diperlukan. Faktor resiko stroke yang utama adalah hipertensi, diabetes, merokok, dan dislipidemia. Pengurangan konsumsi garam dan olahraga terbukti menurunkan stroke. Kampanye mewaspadai hipertensi, berhenti merokok, dan menurunkan berat badan pada masyarakat terbukti berhasil menurunkan angka kejadian stroke sampai dengan 11.4%.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagai faktor resiko stroke yang utama, hipertensi sering kali tidak disadari. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi dijuluki sebagai si pembunuh diam-diam (the silent killers). Pasien datang berobat ketika kerusakan target organ telah sedemikian parahnya. Edukasi kepada pasien dan masyarakat luas tentang bahaya hipertensi mutlak diperlukan.

2. Pengenalan Gejala Dini

Stroke adalah kedaruratan medis. Semakin cepat pasien ditangani secara adekuat, semakin baik kondisinya. Sering kali terjadi pasien tidak segera datang ke RS saat mengalami stroke. Banyak penelitian menunjukkan keterlambatan pasien stroke meminta pertolongan medis yang adekuat. Mengapa pasien datang terlambat ke RS? Banyak penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar pasien dan keluarganya tidak mengenali gejala stroke. Edukasi kepada masyarakat untuk mengenali secara dini gejala stroke mutlak diperlukan.

3. Reperfusi dan Neuroproteksi

Gangguan fungsi saraf akan terganggu bila aliran darah otak turun. Pada kasus ini jaringan otak belum mati, namun mengalami gangguan fungsi. Bagian ini disebut sebagai bagian iskemik pneumbra. Bila gangguan aliran darah berkepanjangan dapat terjadi kematian jaringan saraf yang disebut infark. Target terapi adalah menyelamatkan jaringan pneumbra. Tindakan penyelamatan dilakukan dengan membuka sumbatan dengan obat trombolitil. Tindakan ini jarang dilakukan di Indonesia karena persyaratan yang sangat banyak. Salah satu syarat utama adalah pasien datang kurang lebih 6 jam setelah serangan stroke.

Tindakan lain adalah dengan neuroproteksi (melindungi bagian otak). Hal ini dapat dicapai dengan pemberian obat dan pencegahan komplikasi stroke. Unit stroke yang multidisiplin dan perawatan yang lebih terstruktur terbukti menurunkan angka kematian dan komplikasi stroke.

4. Rehabilitasi

Salah satu modalitas terapi yang utama untuk membantu pemulihan pascastroke adalah program rehabilitasi. Salah satu program rehabilitasi yang hampir selalu dilakukan adalah terapi fisik (fisioterapi). Fisioterapi pada prinsipnya dilakukan sesegera mungkin (as soon as possible). Tentu saja hal ini disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pasien stroke dengan gangguan bicara akan menjalani terapi wicaaara (speech therapy). Terapi okupasi (occupational therapy) dilakukan untuk memperbaiki fungsi kehidupan sehari-hari pasien (activities of daily living), seperti mandi, makan, berganti baju, dan menyisir rambut.

5. Pencegahan Stroke Ulang

Serangan stroke ulang umum dijumpai. Serangan stroke ulang pada umumnya lebih berakibat fatal daripada serangan stroke yang pertama. Serangan stroke ulang pada tahun pertama dijumpai pada 11.2% kasus. Pengendalian faktor resiko yang tidak baik merupakan penyebab utama munculnya serangan stroke ulang.

Penelitian diatas menunjukkan bahwa serangan stroke ulang pada umumnya dijumpai pada individu dengan hipertensi yang tidak terkendali dan merokok.

6. Penutup

Penanganan yang lebih optimal diharapkan akan menurunkan kematian dan kecacatan akibat stroke. Pencegahan merupakan hal yang sangat utama. “Act before disease has gained strength”.

Pertolongan Pertama pada Penderita Stroke | Osteoporosis pada Stroke

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.