Enzim sebagai Pengukur Radang Pankreas dan Kekacauan Hati

Penyumbatan pembuluh arteri menyebabkan kerusakan jaringan hati dalam kaitannya dengan ISCHEMIA dan dapat menimbulkan infraksi miokardial. Umumnya gangguan arteri menyebabkan terbentuknya sebuah thrombus. Terapi antitromboli, dengan streptokinase atau katalis jaringan plasminogen rekombinan melindungi miokardium dari keruskan permanen melalui pemulihan aliran darah. Sebuah diagnosa awal dari infraksi miokardial akut (MIA) adalah sangat penting untuk mempersiapkan manajemen. Sejarah pasien yang merasakan sakit di dada dan garis grafik debar jantung merupakan problema dalam diagnosis IMA. Oleh karena itu, ukuran sirkulasi protein (protein enzim-enzim dan nonenzim) yang dikeluarkan dari jaringan miokardial NECROTIC adalah berguna dalam diagnosis IMA.

Karakteristik dari tanda penyakit miokardial yang ideal khusus pada penderita jantung, kecepatan munculnya serum, peningkatan substansial dari penggunaan klinik dalam jangka waktu tertentu dan kesenangan serta keceptan uji analitik. Saat ini, tak ada satu pun tanda serum yang memenuhi semua kriteria diatas. Beberapa pemberi tanda yang muncul dalam plasma adalah mioglobin, LDH, Ck, dan troponin. Ukuran yang terbentuk pada interval waktu yang tepat berdasar pada kelahiran penanda dalam plasma. Penanda yang sering digunakan adalah CKMB dan troponin kardiak I (cTn I). Troponin terdiri dari 3 protein berbeda I, C dan T dan diekspresikan dalam jantung dan otot skeletal. Tiga troponin complex ini mengatur interaksi kalsium-dependen dari myosin dengan Actin. Troponin dikodekan melalui gen-gen yang berbeda. Isoform kardiak I dan T memiliki struktur yang unik berbeda dari rekan otot skeletalnya. Bagaimanapun juga, cTn T seperti CKMB mengalami rekapitulasi ontogenik dan diekspresikan ulang dalam regenerasi otot skeletal dan pada pasien penderita gagal ginjal kronis. CKMB juga ada dalam otot skeletal, sekalipun dalam konsentrasi yang kecil. Dibandingkan dengan mioardium (sekitar 360 – 400g), otot skeletal memiliki massa yang besar (sekitar 40% dari massa tubuh). Dalam rhabdomiolysis (disintegrasi atau gangguan otot) CKMB dan mioglobin muncul dalam plasma dalam jumlah yang signifikan.

Mioglobin, salah satu penanda awal berkurangnya spesifitas, dan CKMB dianikkan dalam beberapa keadaan dibandung penyakit jantung lainnya, (contohnya: Rhabdomiolysis, penyakit ginjal kronis dan penyakit degeneratif dari otot skeletal). CKMB memiliki subform dalam plasma yang pada kenyataannya subunit M mengalami pembelahan dari sebuah residu lisin dari terminus karboxi melalui enzim plasma karbokzipeptida N. Jaringan dan subform plasma dari CKMB memiliki bentuk berturut-turut sebagai CKMB 2 dan CKMB 1.

Perbandingan level serum, CKMB 2 / CKMB 1 dapat juga menghasilkan informasi yang berguna dalam diagnosis awal dari IMA. Ukuran dari isoenzim LDH (LDH 1 dan LDH 2) juga mengurangi spesifitas; kemudian mereka muncul secara signifikan setelah menderita penyakit miokardial dan menunjukkan rekapitulasi ontogenik. Troponin kardiak I, penanda khusus tertinggi untuk IM, tidak menderita kerugian ini dan muncul dalam plasma semula CKMB dan tetap bertahan sejauh esoenzim LDH. Untuk alasan ini, ukuran rangkaian serum cTn I, mungkin menjadi superior dalam infraksi miokardial pada pasien dengan penyakit ginjal kronis, rhabdomiolysis, atau penyakit regenerasi otot skeletal (contohnya penyakit otot).

1. Enzim sebagai Alat Ukur Radang Pankreas

Baik kelenjar exokrin maupun kelenjar endoktrin adalah pankreas. Exokrin berperan dalam pencernaan substansi makanan; fungsi endoktrin melibatkan homeostasis glukosa. Radang pankreas akut dikarakteristik oleh kesakitan epigastrik. Hal itu merupakan penyebab radang dan berpotensi fatal. Gangguan pada pembuluh pankreas yang mana mengirim cairan pankreas ke usus haus, melalui empedu atau penyalahgunaan alkohol merupakan 80% penyebab umum dari radang pankreas akut dibanding penyebab lain.

Pathofisologi dalam kaitannya dengan pelepasan ketidaklayakan enzim pankreas dan aktivasi prematurnya. Enzim dasar pankreas adalah tripsinogen, yang mana setelah diaktifkan menjadi tripsin mengubah beberapa enzim lainnya untuk bentuk aktifnya. Beberapa dari mereka adalah kalikrein, fosfolipase A2, elastase, enzim dari koagulasi darah, fibrinolisis, dan pelengkap. Efek dari proses tidak normal ini adalah pencernaan ganda dari pankreas, vasodilasi, meningkatkan kapiler penyerapan air, dan menyebabkan koagulasi intravascular. Ini bisa mengakibatkan runtuhnya sirkulasi, ketidak cukupan ginjal dan kegagalan respirasi.

Diagnosis laboraturium dari radang pankreas akut meliputi ukuran enzim pencernaan pankreas : amilase dan lipase, peningkatan level serum amilase merupakan sebuah indikasi diagnosis yang sensitif dalam penafsiran radang pankreas akut, tapi dia memiliki kekhususan yang lemah karena ada beberapa non pankreatik yang disebabkan oleh Hyperamylasemia. Selanjutnya, amilase (BM.55,000) dengan cepat membersihkan ginjal dan mengembalikan pada level normal setelah 3 – 4 hari dari permulaan rasa sakit. Aktivasi amilase muncul dalam serum dalam 2 – 12 jam setelah permulaan sakit. Serum lipase juga digunakan untuk menafsirkan kekacauan pankreas dan memiliki kekhususan yang tinggi dibanding serum amilase. Dia hadir dalam plasma antara 4 – 8 jam, memuncak sekitar 24 jam dan berbekas hingga 8 – 14 hari.

Ukuran amilase dan lipase menyediakan ketelitian 90 – 95% dalam diagnosis radang pankreas akut dengan rasa saki pada perut. Level isoamilase pankreas tidak terbukti berguna dalam perbandingan dengan keduanya baik amilase maupun lipase. Aktivitas katalisis dari lipase memungkinkan munculnya garam empedu dan kolipase, dan harus digabungkan dalam pengujian kadar logam dari aktivitas serum lipase.

Sejak exokrin dari pankreas mengandung beberapa enzim, berusaha membuat tanda lain selain amilase dan lipase untuk mendiagnosis radang pankreas akut. Salah satu enzim seperti trisinogen. Sekitar 25,000 Da protein yang muncul dalam dua bentuk isoenzim : tripsinogen-1 (kation) dan tripsinogen-2 (anion). Kedua bentuk tersebut siap disaring melalui glomeruli ginjal. Bagaimanapun, reabsorpsi tubular dari tripsinogen-2 lebih kurang dari tripsinogen-1; sebuah metode dipstick telah dikembangkan untuk menemukan tripsinogen-2 dalam urine pasien yang dicurigai memiliki radang pankreas akut. Potongan tes mengandung antibodi monoklonal khusus untuk tripsinogen-2.

2. Enzim sebagai Pengukur Kekacauan Hati

Hati merupakan kelenjar organ terbesar dan sel parenchymalnya disebut hepatocytes. Hati memiliki sejumlah fungsi termasuk metabolisme, detoksifikasi, pembentukan dan sekresi empedu, penyimpanan dan sintesis. Penyakit hati meliputi penyalahgunaan alkohol, obat-obatan, infeksi hepatitis kronis B dan C, steatosis dan sreatohepatitis, hepatitis autoimun, hemokromatosis, penyakit Wilson, kekurangan antitrypsin, penyakit berbahaya, serta keracunan dan agen menular. Kekacauan seperti ini memerlukan prosedur tes laboraturium dan didiskusikan pada tempat yang sesuai. Enzim serum yang digunakan dalam penafsiran fungsi hati terbagi menjadi dua kategori :
1. Penanda digunakan dalam hepatoselular nekrosis.
2. Penanda yang mencerminkan kolestasis.

Enzim serum digunakan sebagai penanda dari kolestasis termasuk alkalin fosfat, 5′- nukleotida, dan transfer y-gluyamil. Aminotransfer alanin dan aminotransfer aspartat adalah penanda untuk hepatoselular nekrosis. Tes lain yang digunakan dalam penafsiran kekacauan hati adalah termasuk pengukuran bilirubin, albumin, dan alpha-fetoprotein.

Enzim untuk Diagnosis PenyakitEnzim sebagai Reagen Analitik dan Agen Terapi

This entry was posted in Enzim. Bookmark the permalink.