Etiologi Osteoartritis (Bagian 2)

Faktor keturunan (Genetic factor)

Kalau dilihat secara biomekanik, di mana peran bedah ortopedi lebih nampak, maka kejadian bagaimana terjadinya kerusakan lapisan rawan sendi ini dikemukakan dalam bentuk analisis secara biomekanik. Sebagai contoh pada sendi lutut, sendi lutut menunjang hanya berat badan saja dan setiap setengah luas tibial plateu mendapat beban setengah berat badan pula. Dengan kata lain, pusat tekanan pada lapisan rawan sendi lutut selama berdiri dan berjalan akan terdapat di tengah-tengah sendi.

Namun hal ini mendapat bantahan, bahwa titik sendral tersebut terletak lebih ke medial. Keseimbangan akan terjadi dengan adanya kontraksi gluteur medius atau pergerseran badan ke tempat terjadinya beban yang terbesar. Kedua mekanisme ini terjadi secara stimultan, terjadi terus-menerus sehingga lutut selalu tertekan secara varus. Hal ini mungkin dapat menerangkan bagaimana terjadi artrosis lebih banyak pada bagian medial.

Sedangkan untuk artrosis di bagian lateral, akan terjadi pada lutut yang lebih valgus, sehingga pergeseran tersebut tidak dapat melampaui garis tengah. Otot gluteus medius juga dapat mencegah adanya tilting atau miringnya perlvis. Otot ini tidak dapat mencegah miringnya tibia karena tidak melekat pada tibia, sehingga diperlukan kontraksi otot lain, yaitu hamstring muscles.

Teori ini merupakan sekilas teori terjadinya artrosis pada sendi lutut, sehingga apapun pengobatan operatif yang dilakukan, faktor ini harus selalu diperhitungkan, walaupun tindakan operatif dianggap tidak terlalu banyak mengubah biomekanik sendi lutut seperti arthroscopy debridement.

Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Pembantu

Keluhan yang membuat penderita mencari pengobatan pada umumnya adalah rasa nyeri, sebagian kecil karena perubahan bentuk sendi. Bagaimana terjadinya rasa nyeri ini, dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu yang berasal dari dalam sendi, seperti adanya hambatan pada pergerakan sendi akibat mikromaterial yang terdapat dalam sendi, dari kapsul sendi yang kontraktur, dari micro fracture tulang di bawah lapisan rawan sendi ataupun adanya peningkatan tekanan darah intra osseous, dan lain sebagainya.

Nyeri biasanya terjadi setelah sendi diistirahatkan atau setelah bangun tidur yang berlangsung tidak lebih dari setengah jam dan akan hilang sendiri setelah penderita bergerak.

Kriteria untuk mendiagnosis osteoartritis tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

Untuk sendi lutut, misalnya, kriteria klinis dan laboratorium :
1. age > 50 years (di atas 50 tahun)
2. stiffness < 30 minutes
3. crepitus
4. bony tenderness
5. bony enlargement
6. no palpable warmth
7. ESR < 40/h
8. Sign of synovial fluid of osteoarthritis

Untuk mendiagnosis harus ada 5 dari 9 kriteria di atas.

Sedangkan untuk tingkat penyakit :

Grade 0 : normal
1. doubtful narrowing of joint space + osteophytes
2. definite osteophyte + absen or questionable narrowing of joint space
3. moderate osteophyte + de inite narrowing joint space, sclerosis
4. large osteophyte, marked narrowing joint space, severe sclerosis an definite deformity

Selain itu ada pula klasifikasi radiologis yang disebut dengan Aiback’s grading :

Grade :
1 : normal radiologik
2 : narrowing of joint space
3 : sudah terjadi kissing joint
4 : destruksi joint

Pemeriksaan klinis pada kasus yang sudah berat dapat jelas kelihatan adanya perubahan bentuk sendi, seperti varus atau valgus, terutama pada weight bearing joint. Di samping itu biasanya didapatkan atrophy otot karena tidak dipakai (disuse atrophy) serta adanya pengurangan ruang gerak sendi.

Pemeriksaan pembantu yang paling baik adalah foto rontgen sederhana (plain photo). Weight bearing joint sebaiknya dilakukan pada posisi berdiri, untuk lebih memudahkan menentukan tingkat penyakit.

Etiologi Osteoartritis (Bagian 1)

This entry was posted in Osteoartritis. Bookmark the permalink.