Faktor Resiko SLE

Faktor resiko adalah sesuatu yang dapat meningkatkan kemungkinan diserang suatu penyakit atau kondisi. Meskipun demikian, Anda dapat saja mengidap lupus tanpa faktor resiko. Namun makin banyak faktor resiko yang Anda miliki, makin besar kemungkinan Anda mengidap lupus.

Lupus terutama banyak ditemukan pada wanita usia subur; terutama pada wanita kulit berwarna dibanding yang berkulit putih. Namun faktor resiko utama adalah :

* Gender, 90% penderita lupus adalah wanita
* Usia, lupus terutama menyerang usia remaja sampai usia 30-an.
* Etnik, mereka yang berkulit gelap, penduduk asli Amerika, penduduk Asia, atau kaum Hispanik mempunyai resiko lebih besar terkena lupus dibanding bangsa kulit putih.

Klasifikasi kriteria seseorang kena SLE

Klasifikasi yang diusulkan oleh para dokter ahli ada 11 kriteria, dengan tujuan identifikasi pasien pada penelitian klinis. Seseorang dapat dikatakan menderita SLE jika terdapat 4 atau lebih dari 11 kriteria tersebut, secara berturut-turut atau serentak selama interval pengamatan.

Kriteria :

1. Ruam malar

Eritema (war amerah) tetap, datar, atau meninggi melebihi tonjolan malar, cenderung tidak mengenai lipatan nasolabialys (hidung dan bibir).

2. Ruam diskoid

Bercak eritematosa menonjol dengan skuama keratosis (kondisi pertumbuhan lapisan zat tanduk yang berlebihan) dan sumbatan folikel, parut atrofi dapat muncul pada lesi yang lebih lama.

3. Fotosensitivitas

Ruam yang timbul akibat reaksi yang tidak biasa terhadap cahaya matahri, berdasarkan riwayat pasien atau pengamatan dokter.

4. Ulkus mulut

Ulserasi mulut atau nasofaring, biasanya tidak nyeri, diamati leh dokter. Tukak / luka / borok pada permukaan kulit atau selaput lendir.

5. Arthritis

Arthritis nonerosif yang mengenai dua atau lebih persendian perifer, ditandai dengan nyeri, bengkak, dan efusi (keluarnya cairan dari pembuluh darah atau pembuluh limfe ke dalam jaringan).

6. Serositis

Pleuritis – adanya riwayat nyeri atau gesekan pleura (selaput paru) yang meyankinkan yang didengar oleh dokter atau bukti adanya efusi pleura; atau Perikarditis (radang kandung jantung) – diperhatikan melalui elektrokardiogram atau adanya gesekan atau bukti efusi perikard.

7. Gangguan ginjal

Proteinuria persisten > 0,5 g/dL atau > 3+ bila tidak dengan protein kualitatif; atau Silinder sel – dapat berupa sel darah merah, hemoglobin, granula, tubulus, atau campuran.

8. Gangguan neurologis

Kejang – tanpa adanya gangguan akibat obat atau gangguan metabolik yang diketahui, misalnya uremia, ketoasidosis atau ketidakseimbangan elektrolit; atau psikosis – tanpa adanya gangguan akibat obat atau gangguan metabolik yang diketahui, misalnya uremia, ketoasidosis, atau ketidakseimbangan elektrolit.

9. Gangguan hematologi

Anemia hemolitik – disertai retikulosis; atau Leukopenia – <4,0×10 pangkat 9/L (4000/mm pangkat 3) total pada dua atau lebih pemeriksaan; atau Trombositopenia – <100×10 pangkat 9/L (100×10 pangkat 3/mm pangkat 3).

10. Gangguan imunologi

Antibodi anti-DNA terhadap DNA asal, dalam titer abnormal; atau Anti-Sm – adanya antibodi terhadap antigen nukleus Sm; atau Antibodi antifosfolipid positif berdasarkan pada:
a. kadar antibodi antikardiolipin lgG atau lgM serum yang abnormal
b. uji positif antikoagulan lupus menggunakan uji standar
c. uji serologi sifilis positif keliru yang diketahui positif paling tidak 6 bulan dan dikonfirmasi dengan imunomobilisasi treponema pallidum atau uji absorpsi antibodi treponema fluoresen yang negatif.

11. Antibodi antinuklir

Titer antinuklir abnormal melalui imunofluorensi atau pemeriksaan sebanding pada setiap waktu dan tidak adanya obat yang diketahui berkaitan dengan sindrom lupus yang diinduksi obat.

Tanda dan Gejala Lupus | Diagnosis SLE

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.