Faktor Risiko Sindrom Darah Kental

Banyak dokter yang berpendapat bahwa sindrom ACA lebih disebabkan faktor gaya hidup yang buruk daripada faktor keturunan (genetik). Memang ditemukan penderita sindrom ini pada anak-anak yang menandakan adanya faktor keturunan sindrom ACA, tapi langka.

Gaya hidup yang tidak sehat adalah merokok yang berlebihan, minum minuman keras, mudah stres, pola makan tidak sehat (kurang serat dan nutrisi), kurang olahraga. Sedangkan wanita yang mengonsumsi oral kontrasepsi juga terindikasi mempunyai faktor resiko yang lebih besar di banding yang tidak mengonsumsinya.

Merokok merupakan salah satu faktor yang menyebabkan darah kental. Makin kental darah, makin susah mengalir. Seorang perokok berat dapat dipastikan bahwa darahnya lebih kental dibanding mereka yang bukan perokok. Asap rokok merusak  dinding pembuluh darah bagian dalam (endotel). Padahal endotel ini turut mengaktifkan sistem pembekuan darah. Bila endetol rusak, maka trombosit akan mudah melekat satu sama lain dan menghambat aliran darah. Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa darah merupakan alat transportasi utama yang mengirimkan zat makanan dan oksigen ke setiap sel tubuh. Darah yang terlalu kental menyebabkan terhalangnya sel-sel tubuh menerima pasokan nutrisi dan oksigen. Dan jika terjadi dalam waktu lama akan menyebabkan kematian sel-sel. Jika kematian terjadi pada sel otak, maka yang terjadi adalah stroke.

Dengan ditemukannya nilai ACA >20 MPL,berarti teman Anda itu agaknya menderita sindrom darah kental atau sindrom ACA atau dikenal juga dengan sindrom Hughes. Sindrom ACA ini merupakan indikasi dari APS (antibody antiphospholipid syndrome), yaitu kekurangan cairan dalam darah yang menyebabkan mudahnya terjadi perlekatan antar trombosit yang menyebabkan darah membeku (trombosis)

Nilai ACA sering kali dipakai untuk mengindikasi adanya sindrom ini ketika dilakukan pemeriksaan serologi darah. Seseorang dikatakan menderita ACA positif jika nilainya ACA-nya >20 MPL.

Menurut Prof. Dr. dr. Karmel L. Tambunan, DSPD, KHOM, FCATH dari FKUI yang mendalami masalah  APS, penyebab pasti dari APS masih belum jelas. Diduga disebabkan faktor keturunan (genetik). Mereka yang didiagnosis mengidap APS beresiko tingggi mengalami pengggumpalan darah pada usia muda, meskipun tidak berarti mereka akan sering mengalami pembekuan darah. Banyak dari mereka yang tidak mengalami trombosis (sumbatan pembuluh darah yang disebabkan darah kental) di masa muda, namun mengalaminya di usia lanjut. Namun resiko terjadinya pembekuan darah diprediksi memang lebih besar dibanding mereka yang dalam darahnya tidak ditemukan ACA.

Untuk menghambat munculnya gejala APS, caranya adalah mendisiplinkan diri untuk hidup sehat, yaitu melakukan pola makan seimbang (kurangi protein dari daging merah terutama yang berlemak ganti denganikan, makan banyak sayur dan buah segar), pola hidup sehat (hindari dari rokok dan minuman beralkohol dan bersoda),olahraga teratur dan terukur, istirahat cukup, dan kelola stres dengan benar. Demikian menurut Andang Gunawan , ND, ahli Terapi Nutrisi yang juga  penulis buku Food combining, kombinasi pola makan serasi.

Sindrom darah kental APS dapat diobati. Yang lazim digunakan adalah aspirin, warfarin, dan heparin (unfractionated heparin/UFH atau low molecular weight heparin/ LMWH) Aspirin dosis rendah efektif untuk mengurangi kelengketan trombosis, sedangkan warfarin dan heparin bermanfaat untuk mengencerkan darah (antikoagulan). Pada umumnya obat-obatan yang diberikan ditujukan untuk mengencerkan darah dan membebaskan darah dari penggumpalan (antikoagulan) misalnya aspirin, aspilet, heparin, wafarin, ascardia, inviclot. Jika telah terdiagnosis mengidap APS, maka dokter akan memeberikan obat pengencer darah. Menurut Prof. Karmel, mereka yang telah mengalami penggumpalan darah sejak usia muda, biasanya harus minum obat antikoagulan seumur hidup. Beruntung APS yang disebabkan faktor ketururnan  ini hanya menimpa sedikit saja dari populasi manusia, demikian Prof. Karmel.

Obat antikoagulan seperti warfarin yang berfungsi mengencerkan darah diberikan kepada pasien dengan dosis uji coba. Dengan cara titrasi akan dapat dosis yang tepat, artinya dapat mengencerkan darah tanpa menyebabkan komplikasi perdarahan. Pengukuran yang digunakan adalah INR (international normalized ratio) dengan memandingkan darah pasien yang darahnya normal. Makin tingggi rasio, darah makin encer. Pengukuran INR tersebut dilakukan dengan cara berkala dan dicatat dengan teliti. Diharapkan angka INR antara 2-3.

Sedangkan heparin UFH maupun LMWH diberikan lewat suntikan. LMWH dapat disuntikkan sendiri oleh si penderita dengan mudah menggunakan jarum suntik kecil yang tersedia dalam paket obat. Heparin digunakan pada tiga kondisi utama, yaitu segera setelah terjadi trombosis (disebabkan kerjanya cepat), menjelang operasi atau melahirkan (karena kerja obat dapat dihentikan dan dimulai lebih cepat dari warfarin),  dan bila diperlukan pada kehamilan (karena warfarin dapat berbahaya dan sifat racun bagi perkembangan janin pada masa kehamilan tertentu).

Selain pengobatan, pasien penyandang APS wajib melakukan olahraga teratur, menjaga menjga pola hidup sehat dengan mengonsumsi banyak sayur dan buah segar, hindari makana tinggi lemak dan garam pada makan cepat saji,  dan tentu saja dapat minum air putih.

APS (Antiphospholipid Syndrome) | Faktor Penyebab Pembekuan Darah pada ACA

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.