Gejala Lupus

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa tubuh kita memiliki sistem kekebalan tubuh atau disebut juga sistem imunitas tubuh. Sistem itu memproduksi antibodi yang memusnahkan penyakit-penyakit dan benda-benda atau zat-zat asing yang merugikan atau berbahaya bagi tubuh.

Penyakit lupus, menurut para ahlinya, diduga berkaitan dengan sistem imunitas yang berlebihan. Antibodi yang terbentuk dalam sistem imunitas tubuh untuk menyerang sumber penyakit yang masuk ke dalam tubuh itu, diproduksi berlebihan. Akibatnya, antibodi yang berlebih ini menyerang jaringan dan sel-sel tubuh yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas. Yang gawat, antibodi berlebih ini bisa masuk ke seluruh jaringan tubuh dengan dua cara :

* Antibodi langsung menyerang jaringan dan sel tubuh, misalnya sel-sel darah merah yang jika diserang pasti hancur. Ini mengakibatkan penderitanya kekurangan darah merah yang disebut menderita anemia.

* Antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi) membentuk ikatan yang disebut “kompleks imun”. Gabungan antibodi dan antigen tersebut ikut mengalir bersama darah dan jika tersangkut di salah satu pembuluh darah kapiler, maka di situ gabungan / kompleks tersebut menimbulkan peradangan.

Dalam kondisi normal, kompleks imun ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit), namun dalam kondisi abnormal (lupus) kompleks imun tidak sepenuhnya bisa dibatasi. Bahkan sel-sel radang “berbiak” makin banyak disertai pengeluaran enzim yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks imun. Akibatnya, peradangan akan berkepanjangan, merusak dan mengganggu organ tubuh yang ketempatan / tempat perhentian kompleks imun. Gejalanya akan tampak sebagai penyakit.

Karena kompleks imun bisa berjalan-jalan mengikuti aliran darah, maka organ-organ tubuh dan setiap sistem tubuh akan terancam. Dengan demikian penyembuhan penyakit lupus sungguh sulit dilakukan, apalagi belum diketahui obat yang manjur menghentikan proses terjadinya lupus.

Gejala Lupus

Penyakit lupus sulit dideteksi karena gejalanya bermacam-macam; selain kadang terlalu umum, juga tidak sama pada setiap penderita. Salah satunya adalah rasa lelah yang tidak hilang-hilang meskipun Anda sudah beristirahat seberapa lama pun. Bangun tidur pagi bukannya segar melainkan tetap merasa lelah bahkan disertai pegal-pegal sendi dan otot, serasa kena penyakit flu. Rambut rontok, sakit pada sendi-sendi (tidak hanya pegal) juga bisa merupakan gejala lupus; namun ada gejala yang memastikan bahwa pasien positif menderita menderita lupus, yaitu jika ada ruam kemerahan pada kedua belah pipi yang menyambung dengan ruam di hidung sehingga bentuknya mirip kupu-kupu (malar rash). Namun ruam kupu-kupu tidak selalu ada pada setiap pasien lupus.

Dapat juga muncul ruam yang kemerahan (hyperpigemented) berbentuk lingkaran, pada wajah, leher, atau dada. Ruam semacam ini biasa disebut discoid rash. Ini juga merupakan gejala khas lupus discoid.

Ruam-ruam pada kulit tersebut sulit dihilangkan bahkan bisa bersifat permanen. Jika are aruam tersebut berwarna gelap dan datar, penggunaan krem (lightening creams) terhadap ruam tidak akan manjur, karena noda pigmen tersebut tidak berada di epidermis atau lapisan atas kulit melainkan pada dermis. Akhir-akhir ini telah dicobakan teknologi laser yang ternyata efektif mengurangi warna gelap ruam. Terutama jika digunakan bersamaan dengan IPL, intense pulse light.

Jika ruam tersebut bersifat topografi (topographical scars) ada beberapa cara untuk mengoreksinya. Jika ruam tersebut tertekan ruam bisa diisi dengan hyaluronic acid seperti Restylane. Jika ruam muncul di permukaan kulit, penggunaan CO2 LASER cukup efektif, tetapi harus dilakukan oleh dokter yang telah berpengalaman dalam pemakaiannya pada pasien lupus, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Penyakit Autoimun | Diagnosis Lupus

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.