Hipertensi

Definisi Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah melebihi normal. Hipertensi sering mengakibatkan keadaan yang berbahaya karena keberadaannya sering kali tidak disadari dan kerap tidak menimbulkan keluhan yang berarti; sampai suatu waktu terjadi komplikasi ke jantung, otak, ginjal, mata, pembuluh darah, atau organ-organ vital lainnya.

Sesungguhnya, jika kita lebih peduli, tentu keberadaan hipertensi dapat diketahui sejak dini dan tentu akan lebih mudah dikendalikan sehingga tidak menimbulkan komplikasi dan merusak organ-organ lainnya. Itu sebabnya sekitar 40% kematian di bawah usia 65 tahun diakibatkan oleh hipertensi yang tidak terkontrol. Kebanyakan orang tidak menyadari kalau dirinya mengidap hipertensi karena gejala yang timbul memang sering tidak menentu.

Gejala hipertensi mungkin dapat hilang dalam satu atau beberapa tahun dan tekanan darahnya normal, namun jika tidak diwaspadai akan muncul kembali. Pada sebagian kecil kasus, hipertensi dapat disembuhkan, terutama hipertensi ringan (kurang dari 160/99 mmHg), tetapi umumnya sulit sembuh. Itu sebabnya, hipertensi dikontrol dengan menjalani gaya hidup serta pola makan sehat. Anda harus sesering mungkin mengukur tensi, dan sebaiknya Anda memiliki alat pengukur tensi sendiri sehingga dapat digunakan setiap saat.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi sudah sangat akrab di telinga kita. Itu artinya, hipertensi merupakan penyakit yang banyak diderita dewasa ini. Hipertensi ini dulunya menyerang mereka yang berusia lanjut, tetapi sekarang juga menyerang orang muda. Penyebabnya adalah tingkat kehidupan yang semakin membuat stres. Pendek kata, hampir semua lapisan masyarakat, baik miskon maupun kaya, yang tinggal di kota besar maupun kecil, tidak luput dari gempuran hipertensi. Kenapa hal ini dapat terjadi? Hal ini disebabkan oleh kurangnya kepedulian kita terhadap kesehatan dan bahaya yang dapat ditimbulkannya.

Kerusakan atau komplikasi yang dapat ditimbulkan hipertensi sangat besar, seumpama bahaya laten yang siap memakan mangsanya. Hipertensi merupakan penyakit dengan gejala yang sering tidak jelas, sehingga orang tidak menyadarinya.

Kenapa hipertensi dapat terjadi? Seperti kita ketahui, tubuh membutuhkan zat-zat gizi dan oksigen agar dapat berfungsi. Zat gizi dan oksigen bisa sampai ke sel-sel tubuh karena dibawa oleh darah, dan darah mengalir masuk ke sel-sel tubuh jika tekanannya cukup untuk mendorongnya sampai jauh ke tempat yang terkecil sekalipun. Tekanan pendorong itulah yang kita sebut dengan tekanan darah. Jika tekanan yang dibutuhkan untuk mengatasi tekanan pada dinding arteri pembuluh darah melebihi tekanan normal, maka hal ini disebut hipertensi. Tekanan darah disebut normal, jika tekanan sistolik 120 mmHg dan tekanan diastolik 80 mmHg (120/80 mmHg). Namun jika tekanan yang dibutuhkan untuk mendorong darah sampai ke tempat tujuan besar dan melebihi batas normal, maka tekanan darah akan tinggi untuk melwawan rintangan yang ada. Inilah yang kita sebut dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Semakin besar rintangan yang dihadapi, maka semakin besar tekanan yang dibutuhkan dan semakin tinggi tekanannya.

Tekanan ini dinyatakan dalam angka atas dan bawah. Angka atas disebut sistolik dan angka bawah disebut diastolik. Sistolik adalah tekanan dalam arteri yang terjadi saat darah dipompa dari jantung ke seluruh tubuh, sedangkan diastolik menyatakan sisa tekanan dalam arteri saat jantung beristirahat; dengan satuan pengukuran milimeter air raksa (mmHg). Apabila tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 85 mmHg, Anda harus mulai berhati-hati karena itu adalah batas angka tekanan darah normal tinggi.

Bagaimana cara mengukur tekanan darah? Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat, sebaiknya dilakukan saat beristirahat atau dalam keadaan tenang. Duduklah dengan tenang sekitar 5 menit, lalu lakukan pengukuran pada dua lengan dengan tiga posisi, dalam posisi berbaring, duduk, berdiri, sebanyak 3 kali pemeriksaan dengan jarak waktu 5 sampai 10 menit. Alat pengukur tekanan darah disebut sfigmomanometer yang dilengkapi dengan balon karet (manset) untuk dibalutkan pada lengan atas dan digelembungkan saat pengukuran; balon karet berfungsi memompa udara, sementara air raksa atau jarum merupakan penunjuk hasil pengukuran. Ukuran manset yang baik adalah 2/3 dari panjang lengan atas; jika memungkinkan sesuaikan lebar dan panjang manset dengan ukuran lingkar dan panjang lengan atas pasien.

Cara mengukur tekanan darah, diawali dengan memasang manset dengan cara dibalutkan pada lengan atas, lalu memompa balon pemompa sehingga udara masuk ke dalam manset melalui selang. Manset dipompa dengan udara sampai tekanan di dalamnya melampaui tekanan sistolik. Dengan tekanan sebesar itu, arteri brakialias utama di lengan atas akan memipih karena tertekan sehingga darah tidak mengalir ke bagian bawah lengan. Ini ditandai dengan tidak adanya suara pada stetoskop yang ditempelkan di bawahnya. Kemudian perlahan-lahan udara dikeluarkan dengan cara membuka pengunci di samping balon pemompa, supaya tekanan manset pada arteri berkurang, lalu arterinya mengembang dan darah kembali mengalir, dan akan terdengar bunyi detak pertama. Saat bunyi detak pertama terdengar, lihatlah angka yang ditunjuk jarum penunjuk pada air raksa. Angka tersebut adalah tekanan sistolik (angka atas). Udara terus dikeluarkan sampai arteri mengembang seluruhnya sehingga detak jantung tidka terdengar lagi atau melemah. Saat pertama detak melemah atau menghilang, lihat jarum penunjuk angka; inilah tekanan diastolik (angka bawah).

Ada beberapa faktor yang mengendalikan kestabilan tekanan darah, dan menjaganya agar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Faktor-faktor tersebut mencakup tiga orgna utama, yaitu jantung, arteri, dan ginjal. Setiap saat jantung berdenyut, darah dilepaskan dari sisi kiri jantung (bilik kiri) ke pembuluh darah besar (aorta) yang mengangkut darah ke arteri. Darah kembali ke jantung melalui pembuluh nadi, lalu dikirim ke paru-paru untuk mengangkat oksigen segar.

Tidak ada cara lain untuk mengetahui keberadaan hipertensi, kecuali diukur dengan alat pengukur tensi sfigmomanometer. Jika tekanan darah tinggi terdeteksi, pengobatannya harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi, sehingga kerusakan organ-organ vital dapat dihindari dan penderita dapat hidup lebih baik dan lebih berkualitas.

Tekanan darah tinggi dapat menipiskan dinding pembuluh darah. Pada penderita stroke, tekanan darah harus diturunkan dan dipertahankan secara konsisten pada tekanan yang dapat diterima penderita dan tidak sampai menyebabkan terjadinya iskemi otak, yaitu antara 120-140 / 80-85 mmHg.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi mempercepat pengerasan arteri dan merupakan penyebab utama terjadinya plak arteri / aterosklerosis. Peranan tekanan darah sistolik agaknya merupakan pertanda yang dapat diandalkan untuk menilai kecenderungan meningkatnya aterosklerosis dibandingkan dengan tekanan diastolik. Oleh karena itu, jagalah agar tekanan sistolik Anda berada di bawah 140 mmHg, sedangkan diastolik di bawah 90 mmHg. Apabila tekanan darah konsisten pada 160/95 mmHg, berarti orang tersebut perlu diobati.

Purtier Placenta | Definisi dan Bentuk-bentuk Hipertensi

This entry was posted in Hipertensi. Bookmark the permalink.