Hubungan antara Hay Fever Musiman dan Nyeri Ulu Hati dengan Alergi Makanan

Buah dan sayur mentah tertentu dapat menyebabkan pasien mengalami gatal di bibir, mulut dan tenggorokan. Sindrom ini, disebut sindrom mulut alergi, disebabkan oleh protein spesifik dalam makanan (meliputi melon, pisang, apel). Yang perlu dicatat, protein ini sensitif terhadap panas, dan dapat diubah menjadi tidak alergenik dengan memasaknya. Contoh, pasien yang mengidap sindrom mulut alergi setelah makan apel mentah dapat mentoleransi pai apel matang tanpa terkena gejala apapun. Karena protein yang ada di buah mentah ini juga ada di tepung sari tertentu yang musiman yang disebabkan oleh tepung sari akan mengalami gejala setelah menyantap makanan tersebut.

Contoh makanan dan tepung sari yang memiliki protein yang sama :

* Tepung sari : Ragweed ; Makanan : Melon, pisang
* Tepung sari : Birch tree ; Makanan : Apel, peer, hazelnut, wortel, tomat, seledri, kiwi
* Tepung sari : Rumput ; Makanan : Peach, seledri
* Tepung sari : Mugwort ; Makanan : Seledri

Nyeri ulu hati disebabkan oleh asam lambung yang naik ke atas keluar dari lambung dan masuk ke dalam esofagus, menyebabkan iritasi dan peradangan. Kondisi ini, secara medis disebut gastroesophageal reflux disease (GERD), biasanya terjadi karena kelonggaran otot sfingter yang terletak di antara esofagus dan lambung dan dapat terjadi pada semua usia. Sejumlah makanan dan minuman dapat menyebabkan atau memperburuk GERD, termasuk minuman yang mengandung kafein (terutama kopi), alkohol, makanan berlemak dan pedas. Semua makanan ini dianggap menimbulkan refluks asam dengan menyebabkan sfingter esofagus menjadi lebih relaks daripada biasanya, sehingga membuat isi lambung masuk ke esofagus. Di sini harus ditekankan bahwa efek makanan ini bukan karena alergi.

Namun, ada kondisi esofageal lain di mana peradangan alergi dapat terjadi di esofagus, disebut sebagai esofagitis eosinofilik. Diagnosis ini biasanya diduga ketika seorang pasien tidak mengalami perbaikan dengan terapi yang tepat untuk refluks asam, seperti antasida, obat blokade H2 (misal: omeprazole). Karena pasien-pasien ini biasanya tidak bereaksi terhadap terapi refluks yang tepat, maka hali gastroenterologi perlu memastikan diagnosis esofagitis eosinofilik dengan melihat pemeriksaan endoskopi dan biopsi esofagus. Pada penyakit ini, alergen makanan memainkan peran penting sebagai penyebab peradangan. Penentuan yang akurat mengenai makanan mana yang bekerja sebagai alergen memerlukan kombinasi uji cukit kulit (skin prick test) diikuti dengan tes hipersensitivitas tipe lambat (tes tampal / patch test). Tes tampal dilakukan dengan menempelkan sampel makanan berbentuk bubuk ke dalam cawan kecil dari logam yang kemudian ditempelkan pada kulit pasien selama 2 hari. Pada akhir hari ke 2, cawan makanan dilepaskan dan daerah sekitar kulit yang berkontak dengan makanan tersebut diperiksa untuk kemerahan dan/atau lepuh. Pada pasien yang makanannya teridentifikasi sebagai pemicu, penghindaran makanan tersebut dapat memiliki efek kuat mengatasi peradangan esofagus dan gejala refluks.

Komponen paling penting untuk mendiagnosis alergi makanan adalah riwayat pasien. Alergi makanan adalah penyebab yang paling sering diduga ketika bahan tertentu kita makan sebelum terjadinya gejala akut. Dalam beberapa kasus, makanan yang yang menjadi dugaan itu disantap tersendiri, sehingga mempermudah identifikasi kemungkinan sumber gejala. Walaupun demikian, pada banyak kasus ada beberapa makanan yang disantap dalam waktu yang sama, sehingga sulit untuk memilah makanan mana yang menimbulkan reaksi pada pasien. Ketika makanan menimbulkan gejala yang sering terjadi tanpa pencetus yang konsisten dan jelas, catatan harian dapat sangat berguna. Pasien mencatat waktu makan, jumlah makanan yang dimakan, bagaimana makanan dipersiapkan, semua aktivitas (seperti olah raga) yang dilakukan dalam kaitannya dengan reaksi, dan kumpulan gejala serta lama reaksi.

Berikutnya setelah riwayat permulaan dan kemungkinan pemakaian catatan harian yang diperluas, uji alergi harus dilakukan untuk menentukan makanan mana yang menyebabkan reaksi. Umumnya tes dapat dibatasi pada makanan yang dimakan 2 jam atau beberapa jam sebelum gejala terjadi. Dalam kasus reaksi makanan yang ringan, ahli alergi melakukan uji cukit kulit. Jika hasil cukit kulit ini negatif terhadap makanan, seseorang dianggap tidak alergi terhadap makanan. Uji kulit intradermal terhadap makanan tidak boleh dilakukan, entah sebagai uji awal ataupun uji sekunder pada pasien yang memiliki uji cukit negatif. Ketika digunakan sebagai uji awal, sejumlah alergen yang disuntikkan lewat uji jenis ini dapat menimbulkan reaksi sistemik berbahaya. Ketika digunakan sebagai uji sekunder, hasil uji intradermal sangat tidak spesifik, hasil uji positif bisa saja terjadi pada seorang pasien yang terbukti alergi. Pada pasien-pasien dengan riwayat reaksi terhadap makanan yang sangat berat, dokter dapat menasihati Anda menjalani uji alergi melalui darah untuk alasan keamanan. Uji darah yang paling dapat dipercaya untuk mendiagnosis alergi makanan adalah ImmunoCap assay yang menentukan jumlah IgE langsung pada makanan spesifik. Meskipun uji darah untuk alergi makanan ini tidak sesensitif seperti uji cukit kulit, uji ini masih sangat akurat dengan hasil yang valid. Tes yang menentukan keberadaan IgG terhadap makanan tidak terbukti berguna dalam mendiagnosis alergi makanan.

Alergi Terhadap Telur, Agar-agar, Ikan, dan Minuman Beralkohol | Alergi Terhadap Udang dan Kerang-kerangan

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.