Hubungan antara Penyakit Lupus dengan Lainnya

Setiap pasien lupus wajib diperiksa fungsi ginjalnya, termasuk blood urea nitrogen (BUN) dan serum kreatinin. Tes darah ini dapat memastikan apakah ginjal berfungsi dengan baik, yaitu mengeliminasi sampah sisa metabolisme. Urine juga harus diperiksa apakah mengandung kadar protein dan sel-sel darah yang disebut sediment urine. Adanya sediment urine menunjukkan kemungkinan peradangan di ginjal.

Jika hasil tes normal, maka diulangi setiap 3 – 6 bulan. Jika lupus aktif di organ lain selain ginjal, atau ditemukan bukti adanya protein atau sel-sel darah dalam urine, maka tes ini harus diulang lebih cepat, biasanya setiap bulan. Dengan demikian memburuknya penyakit bisa segera diketahui sebelum menjadi makin parah. Dosis rendah prednison atau obat lain dapat menghilangkan gejala itu jika abnormalitas tersebut (protein dan sel darah dalam urine) diketahui secara dini.

Hasil tes yang normal adalah bila ekskresi protein dalam urine kurang dari 150 mg per 24 jam. Jika lupus Anda dalam kondisi remisi komplet (complete remission), maka ekskresi protein dalam urine adalah kurang lebih 150 mg per hari. Serum BUN dan kadar kreatinin kembali normal dalam kondisi remisi komplet.

Pasien lupus cenderung rentan terhadap penyakit vaskuler. Pada pasien lupus ada sesuatu yang disebut accelerated atherosclerosis, yaitu pengendapan lemak di pembuluh-pembuluh darah. Akan terjadi perubahan metabolisme lemak pada pasien lupus dan perubahan ini makin diperburuk oleh obat-obat lupus yang diminumnya, seperti prednison. Pada kasus-kasus tertentu dari penaykit tersebut, kemungkinan dokter akan memberikan obat-obat statin atau obat pengontrol kolesterol dengan tujuan untuk melindungi pembuluh darah pasien yang menderita inflamasi pembuluh darah yang disebut vasculitis, juga merupakan salah satu masalah pada pasien lupus.

Dokter memang perlu mencari adanya penyakit/kondisi kesehatan lain ketika ia menemukan adanya SLE dalam tubuh pasien. Beberapa diantaranya adalah fibromyalgia, thyroid dysfunction, erectile dysfucntion. Banyak kondisi yang “mendampingi” lupus (tidak cuma yang tiga itu) yang tidak ada hubungannya dengan penyakit lupus, tapi tetap harus ditangani. Kondisi depresi, misalnya, sangat umum terjadi pada pasien lupus pria.

Dilaporkan akhir-akhir ini bahwa kemungkinan besar pasien lupus bisa terjangkit kmplikasi penyakit cacar air (chickenpox), terutama jika ia minum obat-obat immunosuppressive untuk penyakitnya SLE. Juga risiko kena herpes zoaster (shingles) meningkat.

Percaya atau tidak, umumnya justru penderita lupus menderita lebih dari satu penyakit jaringan yang disebut connective tissue disease. Penyakit-penyakit yang disebut connective tissue disease ini ibaratnya merupakan satu keluarga dekat penyakit-penyakit jaringan; termasuk di dalamnya rheumatoid arthritis (RA), systemic lupus erythematosus (SLE atau yang disebut lupus saja), Sjogren’s Syndrome (SS), dan beberapa jenis dari vasculitis.

Meskipun banyak penderita yang hanya mengidap penyakit lupus saja, namun pasien lupus biasanya juga mempunyai gejala karakteristik satu atau lebih dari salah satu connective tissue disease. Jika terjadi penyakit lupus “didampingi” oleh penyakit jaringan, maka dokter menyebutnya “overlap” untuk menggambarkan penyakit yang diderita pasiennya. Ada beberapa overlaps yang diderita pasien lupus, salah satu diantaranya SLE dan RA.

Lupus sangat jarang menyerang otak; namun jika menyerangpun, maka gejalanya berupa sakit kepala, kondisi lupa (atau kehilangan memori), pusing. Tak ada gejala unik jika lupus menyerang otak. Dapat diidentifikasikan tanpa tes darah. Jika sebagai pasien lupus, Anda mendadak mengalami gejala-gejala tersebut, tak perlu panik. Langsung saja ke dokter, karena ada kemungkinan penyakit lain (bukan lupus) yang menyebabkannya, misalnya sindrom antifosfolipid yang menyebabkan pembekuan darah (blood clots) yang bisa menyebabkan stroke. Ini bisa ditanggulangi dengan koagulasi seperti coumadin atau dosis kecil heparin termasuk lovenox atau fragmin. Masih banyak obat lainnya.

Sebenarnya lupus tidak harus menyerang gigi, namun 25% pasien lupus bisa kena sindrom Sjorgrens (Sjorgrens Syndrome), yaitu gejala serangan penyakit autoimun pada kelenjar lacrimal yang memproduksi airmata dan ludah. Akibat serangan pada kelenjar airmata, maka mata terasa seperti kelilipan pasir. Sedangkan serangan pada kelenjar ludah akan menyebabkan mulut serasa kering. Berkurangnya produksi ludah (saliva) berakibat tidak sehat bagi kondisi mulut, yaitu menyebabkan kerusakan atau pembusukan gigi. Ini disebabkan pentingnya fungsi saliva, antara lain membersihkan gigi dan menyediakan antibodi yang bisa memproteksi gigi dan gusi dari kerusakan yang diakibatkan bakteri. Karena itu, sebaiknya pasien lupus rajin membersihkan mulut dan giginya, menghindari merokok, secara teratur memeriksakan giginya kepada dokter gigi, dan hindari permen gula yang menyisakan gula di sela-sela gigi. Pengobatannya menggunakan obat-obat untuk merangsang produksi saliva, yaitu salagen / pilocarpine dan evoxax.

Satu hal lagi, lupus dan penyakit autoimun lainnya dapat menyebabkan gusi menyusut sehingga gusi mudah kena infeksi dan potensial “membuka” bagian bawah gigi yang tidak terlindungi enamel yang tebal. Jika ini terjadi pada pasien lupus, maka ia harus lebih memperhatikan kebersihan gusinya. Caranya dengan berkumur cairan antibakteri dua kali sehari. Dokter gigi juga bisa mengambil tindakan melapisi bagian gigi yang “terbuka” tersebut dengan enamel buatan.

Sebaiknya pasien dengan kondisi masalah gusi semacam ini menghindari minum softdrinks yang manis, buah-buahan yang masam, dan minuman yang berpotensi mengiritasi gigi.

Lupus bisa menyebabkan inflamasi lever, namun radang hati ini tidak akan parah dan jarang yang berkembang menjadi sirosis. Ada satu kondisi yang namanya penyakit lever autimun (autoimmune lever disease) yang bisa menjadi parah dan dihubungkan dengan kehadiran antibodi tertentu dalam darah. Selain itu, beberapa obat dapat mencederai lever maupun organ-organ tubuh lain, terutama jika digunakan dalam jangka panjang. Dalam hal ini, ibarat makan buah simalakama, Anda mengutamakan “penyembuhan” lupus atau menghindari cedera organ tubuh.

Apakah Lupus Memengaruhi Libido dan Dapat Ditularkan Secara Seksual? | Vitamin D Sangat Penting bagi Penderita Lupus

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.