Hubungan antara Sakit Kepala Kronis, Asma Bronkial, dan Tidur dengan Alergi pada Hidung

Sakit kepala dapat berhubungan dengan rinitis alergi dengan berbagai cara. Pertama, pasien dengan kongesti nasal berat dapat mengalami pembengkakan lubang muara sinus paranasal, disebut “ostia”. Pembengkakan ini menyebabkan penutupan sinus temporer atau menetap, mengakibatkan ketakmampuan untuk menyeimbangkan tekanan dalam rongga sinus. Kumpulan gejala yang berkaitan dengan tekanan sinus meliputi nyeri atau tekanan di dahi, di antara mata, atau di pipi, ditimbulkan atau diperburuk oleh perubahan tekanan barometrik (terbang, naik ke gunung, atau perubahan udara) atau saat membungkuk ke depan. Sakit kepala ini sering bereaksi dengan obat yang secara efektif mengurangi pembengkakan hidung, seperti steroid intranasal. Kedua, banyak pasien dengan rinitis alergi mengidap beberapa tahap sinusitis kronis yang terjadi bersamaan. Pada kasus ini, sinus dapat tersumbat secara menetap atau diisi dengan jaringan yang meradang dan/atau infeksi aktif. Biasanya pada pasien ini ada sejumlah gejala dan tanda seperti post nasal drip (lendir di pangkal tenggorokan yang berasal dari hidung) yang kental dan tidak berwarna, sakit tenggorokan, dan/atau batuk. Ketiga, sejumlah kecil pasien dengan rinitis alergi menderita sakit kepala migrain, yang dicetuskan atau diperburuk oleh pembengkakan hidung. Selain itu, beberapa pasien rinitis alergi dapat juga menderita alergi makanan yang dapat mencetuskan migrain. Akhirnya, sejumlah pasien yang memakai obat intranasal mengeluh bahwa memasukkan semprot hidung secara langsung telah memicu sakit kepala. Masing-masing mekanisme harus dipertimbangkan pada semua pasien yang menderita rinitis alergi dan sakit kepala, pasien harus diterapi sesuai dengan mekanisme itu.

Sejumlah penelitian jangka panjang pada populasi besar memperlihatkan bahwa pasien yang mengidap rinitis alergi sering kali memiliki peradangan dan penyempitan pipa bronkus yang tidak kentara dengan tidak adanya berbagai gejala asma. Ketika pasien alergi pada hidung musiman atau sepanjang tahun diisolasi dan dipantau beberapa waktu, pada pasien-pasien ini ditemukan peningkatan risiko terjadinya asma dibandingkan populasi umum. Pada pasien yang mengidap rinitis alergi  dan asma memiliki hubungan yang kuat, dan pasien rinitis berat memerlukan lebih banyak obat untuk mengontrol asmanya.

Ada sejumlah manfaat yang signifikan yang mungkin terjadi ketika rinitis diobati pada pasien yang mengidap alergi pada hidung dan asma. Pada pasien dengan hay fever musiman dan asma alergi, pemberian steroid hidung atau antihistamin oral menurunkan gejala asma dan menyebabkan perbaikan kecil yang berarti dalam hasil tes pernapasan. Pada pasien rinitis alergi dan asma yang lebih berat, pemakaian steroid hidung menurunkan jumlah serangan asma yang memerlukan pengobatan di unit gawat darurat atau perawatan di rumah sakit. Pada anak-anak dengan asma yang dicetuskan kegiatan fisik (exercise-induced asthma), steroid hidung membuat anak-anak dapat berolah raga tanpa terjadinya gejala-gejala atau tanda-tanda asma. Yang juga penting, pasien alergi pada hidung yang tidak mengidap asma mendapatkan manfaat dari beberapa jenis pengobatan alergi. Suntikan alergi yang diberikan selama 2 tahun atau lebih dapat secara signifikan menurunkan terjadinya asma. Semua temuan ini menjadi bukti kuat untuk mengobati alergi pada hidung secara agresif pada pasien yang mengidap rinitis dan asma sekaligus, dan pemakaian suntikan alergi pada pasien alergi yang belum mengidap asma.

Pasien alergi pada hidung sering mengalami kelelahan sepanjang hari. Salah satu penyebab utama kecapaian adalah kualitas tidur yang buruk sepanjang malam. Penelitian tidur pada pasien rinitis alergi memperlihatkan mereka berkali-kali keluar dari fase tidur terdalam dan memasuki periode tidur yang lebih ringan; periode ini mendekati bangun disebut “microarousal”. Beberapa pasien akan mengalami henti napas sejenak dalam pola pernapasan normalnya, tetapi henti napas yang komplet (apnea) biasanya tidak terjadi. Kelainan tidur ini sangat kuat berkaitan dengan derajat kongesti pada hidung. Obat-obat yang ditujukan untuk menghilangkan kongesti hidung, seperti steroid intranasal, tampak memperbaiki beberapa kelainan pernapasan waktu tidur pada pasien alergi.

Polip Hidung | Hubungan Pindah ke Daerah Lain dan Suasana Hati serta Tingkat Energi dengan Alergi pada Hidung

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.