Impotensi dan Diabetes Mellitus

Kaitan Diabetes Mellitus dan Impotensi

Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa gangguan fungsi ereksi terjadi pada pria penderita diabetes berusia 50 – 60 tahun dan pria sehat usia 50 – 70 tahun. Kejadian impotensi penderita diabetes mellitus (DM) tipe 2 tinggi dan fungsi ereksi berhubungan dengan fungsi orgasme, keinginan berhubungan seksual, kepuasaan bersenggama, dan kepuasan secara menyeluruh.

Menurut penelitian, kejadian impotensi meningkat sesuai usia, durasi (lama menderita) diabetes, kendali gula darah yang buruk, adanya komplikasi mikrovaskular, terapi diuretik, dan penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Adapun aktivitas fisik bersifat protektif.

Beberapa faktor yang diduga sebagai prediktor adalah umur, lama menderita diabetes, lingkar perut, tekanan darah sistolik maupun diastolik, kadar gula darah, kadar hemoglobin terglikosilasi (HbA1C), kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida.

Dari faktor-faktor prediktor yang dinilai, variabel umur berkorelasi bermakna dengan fungsi ereksi. Maksudnya, faktor umur berhubungan bermakna dengan fungsi ereksi, yaitu makin tua usia makin buruk fungsi ereksi. Sedangkan faktor prediktor lain yang berhubungan erat adalah albuminuria (tingginya kadar albumin di dalam kencing) atau proteinuria (tingginya kadar protein di dalam kencing) dan penggunaan obat statin.

Impotensi dapat disebabkan penyakit diabetes mellitus atau kencing manis. Padahal, impotensi adalah momok tersendiri bagi pasangan suami istri, terutama bagi lelaki yang bersangkutan. Penyakit diabetes mellitus secara tidak langsung juga akan mengancam keberadaan generasi berikutnya. Pasangan suami istri yang suaminya impotensi tidak akan memiliki keturunan.

Salah satu komplikasi kronis (menahun) dari penyakit diabetes mellitus adalah ketidakmampuan seseorang mempunyai keturunan. Seseorang mempunyai keturunan atau tidak, bila dipandang dari segi medis sangat berkaitan dengan kemampuan alat seksualnya. Apabila alat seksualnya masih bagus, biasanya kemampuan seksualnya tetap normal walaupun ia menderita sakit diabetes maupun hipertensi.

Di sinilah peranan urat saraf yang menuju alat seksual tersebut menjadi sangat penting. Pada penderita diabetes (diistilahkan dengan diabetisi) yang tidak terkontrol maka kadar glukosa dalam darah akan selalu tinggi atau minimal di atas normal. Keadaan inilah yang akan merusak urat saraf diabetisi secara perlahan tetapi pasti akhirnya kemampuan untuk ereksi menjadi lemah dan menghilang, sehingga diabetisi akan merasa atau mengalami impotensi.

Apabila kerusakannya telah berlangsung 3 hingga 6 bulan, biasanya bisa disembuhkan dengan perawatan yang baik dari segi diabetesnya. Namun bila sudah berlangsung lama dan permanen maka diabetisi akan menderita impoten permanen.

Jadi, sangatlah penting bagi para diabetisi untuk memperhatikan penyakitnya ini. Kontrollah sesuai anjuran dokter. Patuhi saran dan nasihat dokter sehingga impotensi dapat dihindari.

Pada diabetisi, terdapat tiga macam impotensi, yaitu impotensi psikogenik, impotensi neurogenik, dan impotensi campuran. Pada impotensi psikogenik, penderitanya pada setiap bangun pagi hari, penis masih bisa ereksi. Hal ini terjadi karena keadaan saraf masih baik tetapi hanya mengalami kelelahan atau stres psikologis.

Pada impotensi neurogenik yang berlangsung lebih dari 6 bulan, maka setiap bangun tidur pagi, penisnya sudah tidak bisa tegang lagi dikarenkan kerusakan saraf yang memeliharanya.

Komplikasi-komplikasi ini akan muncul bila penyakit diabetes tidak dirawat dengan baik dan dianggap remeh. Untuk mengatasinya, cegahlah dengan mengobati sebaik mungkin secara teratur dan terencana. Apabila semua telah dilakukan dengan pengawasan dokter, penderita diabetes tetap dapat menghindari terjadinya impotensi.

Pada dasarnya, kedua jenis diabetes mellitus baik tipe 1 atau tipe 2 akan dapat menyebabkan impotensi. Namun, yang lebih sering terjadi adalah diabetes mellitus tipe 2 yang sudah lebih dari 5 tahun mengalami gangguan tersebut. Pada diabetisi ini biasanya impotensi terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah dan persarafan yang ada pada penis. Hal ini terjadi akibat gula darah yang tidak terkontrol.

Selain itu, pada seseorang diabetisi akibat kontrol gula darahnya yang tidak baik dapat juga disertai dengan masalah tekanan darah tinggi atau kolesterol yang tinggi. Untuk mengatasi semua ini, yang terpenting adalah terbuka pada dokter mengenai masalah yang ada sehingga bisa diberi pengobatan sesuai dengan masalahnya. Saat ini sudah tersedia berbagai obat-obatan dan alat untuk mengatasi masalah impotensi.

Oleh karena kondisi diabetes mempengaruhi kehidupan seks, para diabetisi perlu mempertimbangkan efek dari aktivitas seksualnya. Terutama terhadap kemungkinan turunnya kadar gula darah setelah berhubungan seks. Tindakan yang biasanya disarankan untuk dipertimbangkan oleh para diabetisi adalah memeriksakan kadra gula sarahnya sebelum melakukan hubungan seks. Pengetahuan tentang pola dan menu makan yang tepat sebelum dan sesudah berhubungan intim juga sangat bermanfaat. Selain itu, diabetisi juga disarankan untuk berolahraga secara rutin.

Pada kaum wanita, pengendalian diabetes biasanya memperhitungkan siklus menstruasi mereka. Pilihan penggunaan alat kontrasepsi juga harus disesuaikan dengan diabetes yang dideritanya. Selain itu, kehamilan dan menopause juga akan menjadi pertimbangan tersendiri di dalam mengendalikan kadar gula darah.

Kondisi yang perlu dipahami oleh para diabetisi adalah bila kadar gula darah dibiarkan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lama. Aliran darah dan kinerja saraf ke organ-organ seksual akan terganggu. Akhirnya, hal ini akan menyebabkan fungsi seksual mudah terganggu.

Perempuan diabetisi biasanya akan bermasalah dalam pengendalian kandung kemih. Hal ini dikenal dengan gangguan neurogenic bladder. Untuk mencegah gangguan tersebut, umumnya dokter akan menyarankan diabetisi perempuan yang mengalami gangguan itu untuk mengosongkan kandung kemihnya sebelum dan sesudah berhubungan seksual. Pengosongan kandung kemih setelah berhubungan seks diketahui akan membantu mencegah terjadinya infeksi kandung kemih.

Selain itu, rusaknya saraf dan pembuluh darah juga akan membuat perlendiran vagina menjadi berkurang. Akibatnya, vagina tetap kering meskipun terjadi perangsangan seksual. Hal itu mengakibatkan kegiatan seksual menjadi tidak nyaman.

Sedangkan pada diabetisi lelaki, kekhawatiran utama akibat rusaknya saraf dan aliran darah ke organ seksual adalah impotensi. Seiring dengan pertambahan usia, impotensi merupakan ancaman nyata bagi lelaki normal maupun lelaki dengan diabetes.

Impotensi umumnya menyerang lelaki dengan usia lebih dari 50 tahun, sedangkan lelaki dengan diabetes memiliki resiko yang lebih besar. Sekitar 50% – 60% lelaki dengan diabetes berusia lebih dari 50 tahun terserang impotensi dengan tingkat yang berbeda-beda.

Impotensi disini artinya adalah ketidakmampuan untuk memperoleh dan mempertahankan ereksi. Perlu diketahui, lelaki dengan diabetes memiliki kemungkinan 10 – 15 tahun lebih awal untuk mengalami gangguan ereksi dibandingkan lelaki tanpa diabetes.

Impotensi bisa disebabkan oleh gangguan fisik maupun psikologis. Impotensi akibat gangguan psikologis biasanya terjadi tiba-tiba, sedangkan impotensi karena gangguan fisik terjadi secara perlahan-lahan. Pada lelaki dengan diabetes, umumnya gangguan itu disebabkan oleh memburuknya saraf atau pembuluh darah ke organ seksual.

Penanganan impotensi pada diabetisi tidak bisa hanya mengutamakan urusan impotensi. Setiap kegitaan di dalam tubuh akan saling mempengaruhi. Oleh karenanya, diabetisi harus jujur kepada dokter agar penanganan dapat disesuaikan. Ketidakterbukaan diabetisi dapat menyebabkan penanganan atau pengobatan yang tidak sesuai sehingga memungkinkan terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.

Mitos-mitos Impotensi | Impotensi dan Merokok

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.