Impotensi dan Merokok

Kaitan Impotensi dan Merokok

Rokok adalah musuh kesehatan. Merokok dapat memicu timbulnya impotensi. Semua jenis rokok berpotensi membuat lelaki jadi impoten. Semakin banyak rokok yang dihisap maka semakin besar pula kemungkinan untuk mengalami impotensi.

Dengan menghisap rokok lebih banyak maka otomatis racun-racunnya (nikotin) akan lebih banyak mengendap di tubuh perokok. Repotnya, lelaki perokok sering kali adalah orang yang idealis. Mereka menganggap remeh jika ada peringatan “Impotensi Akibat Merokok”. Mereka seakan menutup telinga jika ada yang mengatakan bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi. Padahal mereka tidak mempunyai dasar yang kuat untuk pendapat pribadinya yang sudah terlanjur kecanduan merokok.

Kalau tidak percaya, coba saja tanyakan kepada para lelaki perokok, “Apakah gara-gara merokok akan menyebabkan mereka impoten?” Tentu sebagian besar akan menjawab, “Tidak”.

Padahal jawaban itu salah besar. Merokok pasti menyebabkan terjadinya impotensi. Pada kasus perokok, proses terjadinya impotensi adalah karena menyempitnya pembuluh darah di arteri penis. Dengan demikian, arus dan volume darah di daerah tersebut menjadi berkurang saat lelaku terangsang atau mendapatkan rangsangan. Akhirnya, hal ini akan membuat penis tidak mampu ereksi.

Menurut riset, 20% pengidap impotensi menunjukkan tekanan darah yang rendah pada penis dan sebagian besar disebabkan terjadi penyempitan pembuluh darah. Selain itu, rokok juga membuat proses kerja katup vena pada penis terganggu. Padahal katup ini menahan aliran darah yang masuk ke penis agar tetap terkumpul sehingga pada kondisi normal saat “siap tempur”. Namun, kalau terjadi gangguan maka darah yang terkumpul kembali keluar sehingga ukuran dan lamanya ereksi terganggu.

Rokok juga dapat meningkatkan resiko impotensi hingga 50%. Jumlah perokok lelaki yang berobat ke klinik impotensi di Massachusetts USA, jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok.

Sebuah laporan dari British Medical Association menunjukkan 120 ribu kasus impotensi yang terjadi di Inggris adalah akibat langsung kebiasaan merokok. Sedangkan, Profesor Zavos dari USA mengukur derajat kepuasan hubungan seksual dengan skala 0 – 10 menunjukkan nilai rata-rata untuk perokok 5,2 dan yang bukan perokok 8,7. Betapa jauhnya perbedaan antara yang merokok dan yang tidak merokok.

Jadi, kebiasaan merokok memang harus dihentikan sebelum kehilangan kemampuan untuk ereksi. Ini memang menjadi persoalan serius dan sekaligus dilematis di bidang kesehatan. Rokok yang sudah jelas-jelas semua orang tahu banyak keburukannya, pada kenyataannya masih saja selalu ada perokok baru bermunculan terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Bagi perokok lama tentu saja ada segudang alasan yang menyebabkan tetap bertahan untuk terus merokok. Hal ini mungkin karena semua yang keburukan yang digambarkan akibat merokok, seperti sakit jantung, sakit paru-paru belum terjadi pada dirinya untuk saat ini.

Apabila penyakit jantung, stroke, ataupun kanker belum cukup menjadi alasan buat lelaki untuk berhenti merokok maka pertimbangkan untuk urusan impotensi. Kebiasaan merokok akan memperbesar resiko seseorang mengalami impotensi.

Fakta mengenai hubungan kebiasaan merokok dan resiko impotensi memang bukan hal baru. Sebelumnya, sudah ada beberapa riset yang mendukung teori tersebut. Kali ini pun, para ahli kembali mengungkap bukti ilmiah bahwa lelaki yang punya kebiasaan merokok berisiko 40% lebih besar mengalami impotensi daripada lelaki yang tidak merokok.

Merokok akan membawa nikotin dan zat vasokonstriktor (penyempit pembuluh darah) lainnya sehingga dapat menutup aliran pembuluh darah penis. Menurut data dari U.S. National Institute of Diabetes dan Digestive and Kidney Disorders, saat ini impotensi telah menjadi problem serius yang dialami oleh 2 dari 100 lelaki di Amerika. Ketika lelaki mulai beranjak dewasa dan menua, resiko mengalami gangguan fungsi seksual pun semakin meningkat.

Dalam penelitian kali ini, para ahli melibatkan sebanyak 8.000 lelaki di Australia berusia 16 hingga 59 tahun. Dari riset terungkap bahwa lelaki yang merokok kurang dari sebungkus sehari mengalami peningkatan resiko mengalami problem ereksi sebesar 24%. Hasil riset yang dipublikasikan dalam Journal Tobacco Control ini juga mengungkapkan, bertambahnya jumlah rokok yang dihisap setiap hari makin meningkatkan resiko impotensi. Lelaki yang rata-rata menghisap 20 batang rokok sehari tercatat mengalami peningkatan resiko sebesar 39%.

Pada riset lainnya, yang dipublikasikan American Journal of Epidemiology, lelaki yang masih merokok pada usia 40 tahunan cenderung mengalami problem ereksi dibandingkan lelaki tua yang tidak merokok. Resiko impotensi juga tercatat meningkat dua kali lipat pada lelaki yang merokok pada usia 40 tahun dibanding yang tidak merokok pada usia 50 tahunan.

Merokok yang mengakibatkan pembuluh darah menyempit adalah penyebab terbesar gangguan proses ereksi. Merokok memang bukan satu-satunya penyebab impotensi pada lelaki. Faktor gaya hidup juga bisa berpengaruh besar pada kesehatan seksual kaum adam. Obesitas (kegemukan atau berat badan yang di atas normal) serta konsumsi alkohol dan obat-obatan juga dapat memicu timbulnya problem ereksi.

Demikian pula halnya dengan gaya hidup yang santai dan kurang aktivitas (sedentary). Penyebab lainnya adalah beragam penyakit seperti diabetes mellitus, jantung, operasi kanker prostat, kandung kemih, usus besar, cedera tulang belakang, ketidakseimbangan hormon testosterone, pengobatan tekanan darah tinggi, dan obat antidepresan.

Seluruh faktor kondisi dan gaya hidup tersebut dapat memicu lelaki mengalami impotensi melalui tiga cara utama, yaitu memperlambat aliran darah, menyebabkan kerusakan saraf, dan mengubah kondisi hormonal. Jadi, hentikan merokok sebelum bahayanya mengintai.

Impotensi dan Diabetes Mellitus | Impotensi dan Olahraga

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.