Janin yang Ibunya Menderita APS

Hidup janin sangat tergantung pada suplai darah ibunya yang disalurkan lewat plasenta. Darah ibu ini membawa nutrisi dan oksigen bagi kehidupan bayi. Nah, ibu yang menderita APS, darahnya kental sehingga suplai darah ke janin menjadi lambat sehingga janin kekurangan makanan. Dokter Karmel mengibaratkan tanaman yang baru ditanam, jika lambat mendapat suplai air maka tanaman tidak akan tumbuh baik, bahkan bisa layu dan lantas mati. Sedangkan Dr. Judi Junaidi mengibaratkan darah kental sebagai lalu lintas yang merayap lambat, kadang macet di sana sini sehinggga wakyu yang dibutuhkan untuk tiba di di tempat tujun jadi lebih lama. Demikian pula dengan darah kental, lebih lama mencapai janin.

Bila kondisi semacam itu tidak ditanggulangi, maka janin akan gugur sebelum mencapai usia 8 minggu. Kalau pun mampu bertahan, umumnya janin akan lahir prematur dengan berat badan yang sangat rendah sebagai akibat tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi dan oksigen untuk tumbuh kembang.

Ibu hamil yang menderita APS sebaiknya memeriksakan dirinya secara teratur ke dokter ahli penyakit dalam. Dengan demikian kondisi darahnya selalu terpantau. Selain itu juga harus ke dokter kebidanan/kandungan yang akan memantau perkembangan janinnya lewat USG dan pemeriksaan lain. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan enam minggu sekali memungkinkan dokter ahli penyakit dalam (internis) mengetahui kadar antibodi antifosfolipid. Semakin tinggi kadarnya, makin pula besar resiko terjadi keguguran.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, dokter ahli penyakit dalam akan melakukan terapi pengobatan jika diperlukan (yaitu menurunkan kadar antibodi), dengan dosis yang tepat. Jika antibodi antifosfolipid tersebut masih dalam batas yang dianggap aman, dokter hanya akan memberikan obat berupa tablet sejenis aspirin. Namun perlu diketahui bahwa kemampuan obat tersebut mempertahankan janin hanya sekitar 40% saja.

Pada pemeriksaan berikutnya, internis akan menilai respon pengobatan berdasar hasil laboratorium terbaru. Jika setelah minum obat kadar antibodi antifosfolipid tetap atsu bahkan meningkat, maka pemberian obat akan dibarengi dengan suntikan heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain yang sejenis. Suntikan ini harus dilakukan setiap hari.

Dr. Andika Rachman, SpPD yang banyak menangani kasus ACA yang menimpa dua orang model. Untuk menyelamatkan janin mereka, kedua model tersebutharus mendapat ratusan suntikan di perutnya  selama hamil. Salah seorang lebih beruntung karena sang suami mempunyai keberanian menyuntik istrinya. Sedangkan model lainnya harus mengumpulkan keberanian untuk menyuntik perutnya sendiri yang dalam keadaan hamil. ACA juga sempat membuat salah seorang model tersebut menderita stroke ringan saat hamil dan menyebabkan salah satu telinganya berkurang pendengarannya.

Suntikan tersebut diperlukan untuk mengencerkan darah sehingga pasokan nutrisi dan oksigen untuk janin berjalan lancar. Selain itu, suntikan tersebut sudah diketahui aman bagi wanita hamil karena tidak menembus plasenta, dengan demikian tidak ada kemungkinan terserap janin atau mengganggu pertumbuhannya. Namun memang ada suntikan antipembekuan darah yang dilaporkan menimbulkan 25% kematian janin karena bisa menembus plasenta, yaitu warfarin. Obat ini tidak akan diberikan kepada ibu hamil.

Gejala Tidak Spesifik Wanita Hamil dengan ACA dan yang Tidak Mengidap APS | Obat bagi Penderita Sindrom Darah Kental

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.