Jenis Birth Control yang Baik bagi Pasien SLE

Pilihan kontrasepsi bagi wanita dengan SLE secara individual tergantung pada riwayat kesehatannya dan hasil tes antibodinya. Namun umumnya metode kontrasepsi semacam kondom aman untuk semua pasien dan memberikan proteksi terhadap penyakit-penyakit menular seksual. Namun kontrasepsi semacam ini biasanya tidak seefektif dan senyaman alat intrauterine (misalnya IUD/spiral) atau metode hormonal.

Hati-hati dengan pil KB, karena mengandung hormon. Wanita dengan kadar antibodi antifosfolipid berisiko trombosis dan migran jika menggunakan pil KB. Karena itu, harus dibicarakan dengan dokter Anda.

Bagaimana dengan IUD?

IUD kemungkinan besar boleh digunakan oleh pasien SLE. Alat itu disisipkan di dalam rahim oleh dokter spesialis kandungan. IUD bisa mengandung tembaga atau progesteron. IUD yang mengandung tembaga bisa bertahan di tempat sampai sekitar 10 tahunan dan tidak mengandung hormon. Namun mempunyai efek meningkatkan kram haid dan aliran darah. Sedangkan IUD yang mengandung hormon progesteron bisa tetap berada di tempat sekitar lima tahunan, dan biasanya dapat menurunkan kram haid dan aliran darah. Jenis ini baik untuk pasien yang sedang dalam pengobatan darah kental, misalnya sedang minum warfarin. Hormon progesteron dalam IUD cenderung hanya berefek lokal, yaitu efeknya hanya pada rahim. Dengan demikian efek progesteron umumnya, seperti rasa tegang pada payudara atau suasana hati (mood), tidak berubah.

IUD sekarang dipercaya aman terhadap risiko infeksi sehingga para dokter kandungan sekarang menawarkan opsi pemakaiannya kepada wanita-wanita muda yang belum mempunyai anak. IUD produksi dulu berisiko menimbulkan infeksi di rahim dan salurannya. Namun tetap ada kemungkian kecil untuk terjadi infeksi. Karena itu pasien lupus yang sedang dalam pengobatan immunosuppresive sebiaknya mendiskusikan terlebih dulu dengan dokter reumatologi dan kandungan yang merawatnya.

Bagaimana dengan IUD yang mengandung hormon?

Metode hormon untuk birth control bervariasi tergantung pada perlakuan dan isinya (apakah mengandung estrogen dan progesteron, atau hanya progesteron saja). Metode ini termasuk pil, patch atau cincin vagina. Bagi pasien dengan lupus, pilihan pil yang mengandung hormon estrogen mempunyai dua risiko, yaitu meningkatkan flare dan risiko trombosis (pembekuan darah). Namun penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pasien lupus yang kondisinya stabil, dalam arti lupusnya tidak aktif, tak terjadi risiko flare yang signifikan. Sedangkan risiko trombosis jika mengambil kontrasepsi oral tergantung pada keberadaan antibodi antifosfolipid (aPL): autoantibody ini ada dalam sepertiga pasien lupus yang berakibat risiko terbentuknya bekuan darah (blood cloth). Jadi, pasien dengan aPL (atau riwayat penggumpalan darah) sebaiknya tidak memilih pengobatan dengan pil yang mengandung hormon estrogen.

Metode birth control menggunakan hanya hormon progesteron saja termasuk pil progesteron, injeksi depomedroxyprogesterone (DMPA), dan IUD progesteron secara signifikan tidak meningkatkan risiko terjadinya bekuan darah. Pil progesteron sedikit tidak seefektif dibanding kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron oral, dan harus diminum pada waktu yang sama setiap hari. Jika tidak demikian, maka akan terjadi perdarahan. Sementara itu, injeksi DMPA baik dan nyaman untuk pasien lupus, namun pasien cenderung mengalami osteoporosis jika digunakan dalam jangka panjang. Kesimpulan, IUD-progesteron merupakan pilihan yang baik bagi pasien lupus karena nyaman, tidak meningkatkan risiko osteoporosis, dan biasanya justru menurunkan kram dan aliran darah menstruasi.

Apakah Bayi akan Tertular Lupus dari Ibu yang Menderita Lupus saat Hamil? | Apakah Memungkinkan Mempunyai Anak ketika Menghentikan Obat-obat Lupus?

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.