Kaitan antara Depresi, Gelisah, dan Migrain

Banyak penderita migrain pada titik tertentu dalam hidup mereka, mengalami gejala kecemasan atau depresi. Faktanya, pasien migrain cenderung mengalami depresi atau kecemasan klinis, dibandingkan orang tanpa migrain atau gangguan sakit kepala. Penelitian mengindikasikan bahwa sekitar 34% dari penderita migrain akan mengalami depresi pada titik tertentu dalam hidup mereka, dibandingkan dengan 10% orang tanpa riwayat migrain. Penderita migrain juga memiliki kesempatan lebih besar mengalami gangguan kecemasan dibandingkan bukan penderita migrain, dengan 54% dari pasien migrain mengalami gangguan kecemasan pada suatu waktu dalam hidup mereka, dibandingkan 27% dari orang tanpa riwayat migrain. Penderita migrain juga cenderung mengalami serangan panik, gangguan tidur dan masalah psikologis lainnya. Seringkali masalah tersebut ikut muncul.

Semua orang pada waktu tertentu mengalami perasaan sedih. Rasa cemas dan sedih yang datang sewaktu-waktu adalah bagian normal dari kehidupan, terutama jika Anda tengah melawan kondisi penyakit kronis seperti migrain. Namun, masalah depresi atau kecemasan kronis, lebih dari perasaan sedih yang datang sesekali, namun lebih tampak sebagai gangguan yang menetap – yang dapat menyebabkan masalah dalam pekerjaan, hubungan, dan kesehatan. Depresi klinis dapat membuat seseorang tidak mampu berfungsi dalam berbagai bidang kehidupan, dan jika tergolong berat dan tidak diobati, dapat menyebabkan pemikiran atau aksi bunuh diri.

Meskipun kaitan antara migrain dan depresi sangat rumit, kami ingin menunjukkan tiga cara penting bagaimana dua masalah medis ini terkait. Pertama dan mungkin yang paling jelas adalah orang yang hidup dengan kondisi penyakit kronis seperti migrain lebih berisiko terhadap depresi, kecemasan dan gangguan psikologis lain karena apa yang mereka derita secara sekunder selain dari migrain. Pasien migrain sering merasa terpaksa mengubah jadwal mereka, sering membatalkan aktivitas sosial, pekerjaa dan berbagai rencana lainnya. Sebagai tambahan, karena terlalu sering atau berat serangan migrain, Anda juga mulai mengalami perubahan hubungan dengan anggota keluarga, teman dan rekan kerja. Akibatnya, penderitaan yang mengikuti migrain dapat membuat pasien migrain menarik diri secara sosial, semakin memperumit kemampuan Anda untuk menjaga kualitas hubungan. Mengisolasi dari orang lain selama episode migrain merupakan faktor resiko dari depresi. Perubahan dalam fungsi seksual, kesulitan konsentrasi, perubahan tidur dan merasa tidak memiliki harapan, adalah hal yang tampak berulang kali yang seluruhnya membuat seseorang merasa cemas dan depresi. Karena perasaan depresi dapat menyebabkan isolasi lebih jauh dan bahkan menyebabkan meningkatnya frekuensi sakit kepala, maka sangat penting untuk mengobati depresi.

Alasan kedua mengapa penderita migrain memiliki kemungkinan tertinggi dari depresi adalah karena keduanya, baik depresi maupun migrain, mengubah komposisi kimiawi di dalam saraf otak, terutama neurotransmiter yang disebut norepinephrine dan serotonin. Serotonin adalah sejenis komposisi kimia yang diyakini memiliki peran penting dari pengaturan suasana hati dan rasa nyeri. Penderita depresi dan migrain mengalami pengurangan tingkat serotonin di dalam otak. Kerentanan dari sisi komposisi kimiawi membuat pasien depresi cenderung mengalami migrain dan pasien migrain yang mengalami depresi. Tingkat serotonin yang rendah juga dapat menyebabkan perubahan vaskular dan perubahan aliran darah secara dramatis di dalam otak. Ini merupakan alasan mengapa dokter Anda kemungkinan akan memberikan obat antidepresi untuk mengatur kadar serotonin di dalam otak.

Efek lain dari serotonin yang rendah adalah lelah, penurunan gairah seks, gangguan tidur, dan kondisi nyeri yang kronis selain sakit kepala.

Hubungan potensial yang ketiga antara migrain dan depresi dan gangguan psikologis lain adalah depresi, cemas, trauma atau gangguan psikologis atau psikiatrik yang mungkin mempengaruhi seseorang terhadap gangguan sakit kepala juga rasa sakit dan gangguan kesehatan. Salah satu penjelasan adalah bahwa orang dengan riwayat depresi mungkin mengalami perubahan komposisi kimiawi saraf yang membuat mereka rentan terhadap migrain dan masalah lainnya. Juga, mengalami krisis emosional di masa lalu atau perpanjangan dari periode kondisi menyakitkan juga dapat membuat kesulitan mengatasi kondisi penuh tekanan yang berat. Hal itu dapat membuat tubuh Anda bereaksi terhadap stres. Hal ini meningkatkan kemungkinan depresi dan kecemasan ketika dihadapkan dengan masalah kesehatan di masa yang akan datang. Bukan berarti sebagai kelemahan pada diri Anda atau alasan lain untuk disalahkan, namun lebih kepada rentan secara biologis dan psikologis untuk mengalami penderitaan stres dan emosional yang potensial. Jika Anda memiliki riwayat depresi, cemas, trauma atau pelecehan fisik atau seksual, akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental.

Sebagai ringkasan, memang ada kaitan antara depresi, cemas, dan migrain. Banyak peneliti dan ahli kesehatan mental yakin semuanya hampir sama dalam arti bahwa itu adalah reaksi neurologis terhadap keadaan stres yang serius. Riwayat dari depresi meningkatkan resiko migrain, dan sebaliknya, riwayat dari migrain dapat menempatkan Anda beresiko terkena depresi. Sebagai tambahan, masalah migrain berat dapat menyembunyikan depresi.

Jika dokter memberikan resep obat-obatan antidepresan, apakah ini berarti migrain disebabkan oleh depresi? Ada beberapa alasan mengapa dokter Anda memberikan resep obat-obatan antidepresan. Satu dari alasan utama dokter memberikan obat jenis ini yaitu, banyak dari obat tersebut memiliki target transmitter saraf yang sama di sistem saraf pusat yang mengatur serangan migrain. Diyakini bahwa serotonin (zat kimia di dalam otak) secara langsung terkait dengan pengaturan mood dan jumlah nyeri yang dirasakan. Dua golongan antidepresan, tricyclic antidepressant dan selective serotonin reuptake inhibitor (SRRI) mengatur reseptor serotonin yang tampak menjadi pengatur utama otak mengenai nyeri.

Karena penyebab biologis utama dari migrain tampaknya berupa gangguan dari tingkat serotonin di dalam otak, antidepressant adalah garis utama pertahanan sebagai obat pencegah migrain. Obat antidepresan tricyclic yang umumnya digunakan untuk mencegah migrain seperti amitriptyline dan nortriptyline. Beberapa contoh dari obat SRRIs adalah Fluoxetine (Prozac), Paroxetine (Paxil), dan Sentraline (Zoloft). Sejumlah penderita migrain mengonsumsi obat antidepresan untuk mempertahankan tingkat serotonin yang dapat membantu mencegah serangan. Mengkonsumsi obat antidepresan tidak berarti dokter menganggap sakit kepala Anda sebagai gejala depresi atau tidak benar-benar nyata. Nyeri akibat migrain dan perasaan depresi terkadang membuatnya keduanya benar-benar nyata.

Kaitan antara depresi dan migrain sangatlah rumit. Sebagai tambahan antidepresan dipakai untuk menargetkan zat kimia otak yang mengatur nyeri, para penderita migrain juga menderita dari gangguan depresi dan cemas. Anda mungkin mengalami perubahan suasana hati sebagai reaksi dari rasa migrain. Sudah jelas, perubahan emosional dari migrain dapat membuat Anda sedih, dan suasana hati yang tertekan, juga perubahan dalam tidur. Terkadang konsekuensi dari migrain yang sering atau berat bisa menyebabkan suasana hati yang tertekan lebih lama dibandingkan hari-hari ketika terkadang terjadi kondisi sulit dan mungkin dapat berlangsung beberapa minggu atau lebih lama. Jika ini kasusnya, maka obat antidepresan dari dokter dapat meredakan gejala-gejala tersebut juga migrain Anda.

Anda harus merasa nyaman untuk menanyakan kepada dokter mengenai obat-obatan yang diberikan. Jangan sungkan untuk menanyakan secara rinci mengenai obat yang Anda konsumsi dan apa saja tujuannya. Semakin banyak yang Anda tahu mengenai pengobatan Anda, maka Anda akan berdiri sebagai pihak yang berperan dalam menyembuhkan migrain Anda.

Masalah Tidur Membuat Migrain Bertambah Buruk | Bagaimana Mengetahui Mengalami Depresi?

This entry was posted in Migrain. Bookmark the permalink.