Klasifikasi Hipertensi dan Mekanisme Pengatur Tekanan Darah

Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi hipertensi pada orang dewasa menurut badan kesehatan dunia WHO tahun 1999 adalah sebagai berikut :

Kategori :
Tensi optimal : < 120 mmHg dan < 80 mmHg
Tensi normal : < 130 mmHg dan < 85 mmHg
Tensi normal tinggi : 130 – 139 mmHg dan 85 – 89 mmHg
Tingkat 1 : hipertensi ringan : 140 – 159 mmHg dan 90 – 99 mmHg
Subgroup : Batas : 140 – 149 mmHg dan 90 – 94 mmHg
Tingkat 2 : hipertensi sedang : 160 – 179 mmHg dan 100 – 109 mmHg
Tingkat 3 : hipertensi berat : 180 – 209 mmHg dan 110 – 119 mmHg
Hipertensi sistolik isolasi : >= 140 mmHg dan < 90 mmHg
Subgroup : Batas : 140 – 149 mmHg dan < 90 mmHg
Tingkat 4 : hipertensi maligna : >= 210 mmHg dan >= 120 mmHg

Tekanan darah yang tinggi menyebabkan terjadinya cedera pada lapisan dalam pembuluh darah arteri (sel endotel) sehingga terjadi disfungsi endotel. Selain itu angiotensin II yang biasanya meningkat pada hipertensi merupakan vasokonstriktor yang kuat dengan reseptornya yang dapat menambah penumpukan ion Ca+ intrasel, dan menstimulasi proliferasi / hipertrofi otot polos arteri. Hipertensi juga memiliki kemampuan pro-inflamasi yang dapat meningkatkan pembentukan hidrogen peroksida dan radikal bebas seperti super-oksida anion dan radikal hidroksil yang memengaruhi penurunan produksi nitric oxide (NO = vasodilator) yang berfungsi sebagai pelebar arteri (vasodilator), karenanya dapat meningkatkan adesi lekosit dan resistensi perifer.

Mekanisme Pengatur Tekanan Darah

Tekanan darah normal dapat terjadi karena mekanisme tubuh yang bekerja secara sinergi dan dalam keseimbangan. Apabila terjadi gangguan atas mekanisme ini, tekanan darah akan meningkat. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri terjadi karena :

1. Jantung memompa darah lebih kuat dari biasanya, karena ada sumbatan atau hambatan aliran darah.

2. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga tidak dapat mengembang ketika jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit dan menyebabkan kenaikan tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, ketika dinding arteri telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis.

3. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriolar) mengerut untuk sementara waktu karena rangsangan saraf atau hormon di dalam darah.

4. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Sebaliknya, jika terjadi pengurangan aktivitas jantung dalam memompa, arteri mengalami pelebaran, sehingga cairan yang keluar dari sirkulasi tidak terhambat; dengan demikian tekanan darah pun mengalami penurunan.

Pengendalian faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis / tidak dipengaruhi kehendak).

1. Peranan fungsi ginjal
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju salah satu ginjal (stenosis arteri renal) bisa menyebabkan hipertensi. Selain itu, peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah.

Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara :
* Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan pengurangan volume cairan sehingga tekanan darah kembali normal.

* Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume cairan bertambah dan tekanan darah kembali normal.

* Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.

2. Sistem saraf simpatis
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf yang dapat berguna untuk :
* Meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh melawan atau lari terhadap ancaman dari luar).
* Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung, mempersempit sebagian besar diameter arteriolar, tetapi memperlebar arteriolar di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang membutuhkan lebih banyak pasokan darah).
* Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal sehingga meningkatkan volume darah dalam tubuh.
* Melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin) untuk merangsang jantung berkontraksi lebih kuat.

Definisi dan Bentuk-bentuk Hipertensi | Hipertensi Primer dan Hipertensi Sekunder

This entry was posted in Hipertensi. Bookmark the permalink.