Klasifikasi Impotensi

Lima Klasifikasi Impotensi

Impotensi dapat diklasifikasikan atau dikelompokkan menjadi beberapa tingkatan menurut penyebabnya. Berikut ini penjelasannya.

Psikogenik

Impotensi yang disebabkan faktor psikogenik biasanya episodik, terjadi secara mendadak yang didahului oleh periode stres berat, cemas, dan depresi. Impotensi dengan penyebab psikologis dapat dikenali dengan mencermati tanda klinisnya, yaitu :
1. usia muda dengan aitan (onset) mendadak
2. awitan berkaitan dengan kejadian emosi spesifik
3. impotensi pada keadaan tertentu, sementara pada keadaan lain berlangsung normal
4. ereksi malam hari tetap ada
5. riwayat terdahulu adanya disfungsi ereksi yang dapat membaik secara spontan
6. terdapat stres dalam kehidupannya, status mental terkait kelainan depresi, psikosis, atau cemas.

Organik

Impotensi yang disebabkan oleh faktor organik, terdiri dari dua kelompok, yaitu sebagai berikut :

1. Neurogenik

Pada impotensi yang disebabkan oleh neurogenik ditandai dengan gambaran klinis, yaitu :
1. riwayat cedera atau operasi sumsum tulang atau panggul
2. mengidap penyakit kronis (diabetes mellitus, alkoholisme)
3. menderita penyakit neurologis tertentu seperti multiple sklerosis, stroke
4. pemeriksaan neurologik abnormal daerah genital (area kelamin) atau perineum (daerah di antara anus dan kelamin).

2. Vaskuler

Pada impotensi yang disebabkan oleh kelainan vaskuler, yang terdiri dari kelainan pada arteri dan kelainan pada vena. Impotensi yang disebabkan oleh kelainan vaskulogenik arteria memiliki penampilan klinis, yaitu :
1. minat terhadap seks tetap ada
2. pada semua kondisi akan terjadi penurunan fungsi seks
3. secara bertahap akan terjadi disfungsi ereksi sesuai bertambahnya umur
4. menggunakan obat resep atau obat-obatan bebas yang terkait dengan impotensi
5. perokok
6. kenaikan tekanan darah, terbukti dengan didapatkannya penyakit vaskuler perifer (bruit, denyut nadi menurun, kulit dan rambut berubah sejalan dengan insufisiensi arteri)

Sedangkan impotensi disebabkan oleh kelainan vaskulogenik venosa memiliki gambaran klinis, yaitu :
1. tidak mampu mempertahankan ereksi yang sudah terjadi
2. riwayat priapismus (penis selalu tegang) sebelumnya
3. kelainan (anomali) lokal (setempat) penis

Hormonal

Impotensi yang disebabkan karena hormonal mempunyai gambaran klinis hilangnya minat pada aktivitas seksual, testis atrofi (mengecil, menyusut), kadar testosteron rendah, kadar prolaktin naik.

Farmakologis

Hampir semua obat hipertensi (tekanan darah tinggi) dapat menyebabkan impotensi yang bekerja di sentral, misalnya metildopa, klonidin, dan reserpin. Pengaruh utama kemungkinan melalui depresi sistem saraf pusat. Beta bloker seperti propanol dapat menurunkan libido.

Traumatik Setelah Operasi

Traumatik atau cedera maupun komplikasi dapat terjadi setelah operasi. Patologi pelvis (proses penyakit pada panggul) dapat merusak jalur serabut saraf otonom untuk ereksi penis. Ada beberapa jenis operasi yang dapat menyebabkan impotensi, sebagai berikut :

1. Reseksi abdominal perineal, sistektomi radikal, prostatektomi radikal, bedah beku prostat, prostatektomi perineal, protatektomi retropubik; semuanya ini dapat merusak saraf pelvis atau kavernosus yang menyebabkan disfungsi ereksi.

2. Retroplasti membranasea, reseksi transuretra prostat, spingkterotomi eksterna, insisi striktura uretra eksterna; ini semua akan menyebabkan impotensi karena kerusakan serabut saraf kavernosus yang berdekatan.

3. Uretrotomi internal visual untuk struktur dapat menyebabkan kerusakan saraf kavernosus dengan fibrosis sekunder akibat perdarahan atau ekstravasasi cairan irigasi dapat menyebabkan impotensi.

4. Radiasi daerah pelvis (panggul) untuk keganasan rectal (kanker di daerah dubur), kandung kemih, atau prostat dapat juga menyebabkan impotensi.

Ciri dan Gejala Impotensi | Usia Rawan Impotensi

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.