Komplikasi Kehamilan pada Pasien Lupus

Berikut ini beberapa kondisi yang bisa muncul pada pasien lupus yang hamil. Daftar komplikasi ini bukannya untuk menakut-nakuti pasien lupus yang hamil, namun agar si pasien bisa mengenali komplikasi yang muncul dan segera melaporkannya ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Preeklamsia

Juga dikenal dengan toxemia of pregnancy atau pregnancy-induced hypertension. Preeklamsia akan muncul jika ada masalah pada plasenta; juga jika terjadi suatu perubhaan pada respons imun sang ibu pada jaringan plasenta janinnya. Gejalanya termasuk meningkatnya tekanan darah secara tiba-tiba dan adanya protein dalam urine setelah kehamilan usia 20 minggi, sakit kepala yang parah, dan pandangan kabur. Preeklamsia merupakan kondisi yang serius yang perlu mendapat penanganan medis secepat mungkin karena berpengaruh terhadap keselamatan janin.

HELLP syndrome

HELLP berarti hemolisis (kerusakan dini sel-sel darah merah), meningkatnya (elevate) enzim lever. dan platelet yang rendah (low platelets). Kondisi ini ditemukan pada 1 – 2 kehamilan dalam 1.000 kehamilan, dan 10 – 20% wanita lupus yang hamil menderita preeklamsia parah (eclampsia). Meskipun HELLP baisanya terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, namun bisa juga terjadi setelah bayi lahir.

Antibodi antifosfolipid

Antibodi antifosfolipid termausk lupus anticoagulant, anticardiolipin, dan antibodies to B2 glycoprotein dapat memengaruhi fungsi palsenta, biasanya pada usia kehamilan trisemester kedua, yang berakhit terjadi penggumpalan darah yang menghambat berkembangnya plasenta dan berfungsinya plasenta secara normal.

Intrauterine growth restriction (IUGR)

Ini adalah pertumbuhan janin yang lambat. Ada beberapa penyebabnya antara lain hipertensi, keberadaan antibodi antifosfolipid, dan/atau penyakit lupus yang sedang aktif, terutama penyakit ginjal yang disebabkan lupus.

Hambatan fungsi ginjal

Keberadaan penyakit ginjal yang disebabkan lupus (lupus kidney disease) juga meningkatkan kemungkinan komplikasi selama kehamilan. Jika fungsi ginjal terhambat disebabkan lupus yang aktif, kelebihan asupan protein akan “tumpah” masuk ke urine (disebut proteinuria) menyebabkan pembengkakan (edema) di kaki.

Flare of lupus

Wanita dengan lupus yang hamil setelah remisi lima sampai enam bulan, umumnya kemungkinannya kecil mengalami flare (munculnya gejala) dibanding wanita yang hamil ketika lupusnya dalam kondisi aktif. Penting untuk menyadari bahwa perubahan pada tubuh selama kehamilan bisa jadi merupakan tanda-tanda dari lupus flare, seperti pembengkakan (edema) pada sendi, terutama lutut, ruam pada kulit (warna kemerahanpada wajah wanita hamil), rambut rontok. Biasanya dokter dapat membedakan apakah tanda-tanda tersebut merupakan gejala normal kehamilan atau tanda lupus yang aktif.

Preterm delivery

Wanita dengan lupus tak perlu khawatir ketika melahirkan sebelum minggu ke 40, karena melahirkan pada minggu ke 37 termasuk normal. Namun bisa saja terjadi kelahiran sebelum minggu ke 37 yang lebih banyak dialami pada wanita dengan lupus dibandung wanita dengan kesehatan normal. Wanita dengan lupus yang hamil, selalu dianjurkan melahirkan di rumah sakit yang memiliki bagian NICU (neonatal intensive care unit), yaitu unit perawatan insentif untuk bayi-bayi yang baru lahir sampai usia 4 minggu pertama.

Keguguran

Walaupun wanita dengan lupus bisa saja sukses hamil dan melahirkan, namun keguguran tetap selalu mengancam. Ini merupakan salah satu komplikasi yang serius. Bentuknya berupa keguguran spontan (recurrent spontaneous abortion, RSA) atau kelahiran bayi mati (stillbirth). Meskipun kedua masalah tersebut juga bisa terjadi pada wanita sehat yang hamil, namun lebih sering terjadi pada wanita penyandang lupus. Faktor resiko yang paling besar adalah pernah mengalami keguguran sebelumnya dan kadar tinggi antibodi antifosfolipid. Resiko keguguran bisa meningkat jika lupus nephritis (radang ginjal yang disebabkan lupus) dalam keadaan aktif saat kehamilan; adanya bukti dari proteinuria, antibodi antifosfolipid, lupus anticoagulant, ataupun hipertensi; atau kadar kreatinin serum tinggi.

Hubungan antara wanita pengidap lupus dan pre-eklamsia

Pre-eklamsia adalah komplikasi medis yang terjadi selama kehamilan, terutama pada hamil pertama, pada wanita hamil usia muda, dan pada wanita hamil usia tua. Pengobatan tertentu pada pasien SLE dan adanya sindrom antifosfolipid juga cenderung menimbulkan pre-eklamsia. Yang rumit adalah gejala pre-eklamsia, tekanan darah tinggi, platelet yang rendah, dan abnormalitas fungsi hati sulit dibedakan dengan flare pada lupus. Jika pada Anda muncul berbagai gejala tersebut, apalagi sebelumnya Anda pernah kena lupus yang cukup parah, sebaiknya Anda cek ke dokter.

Apakah wanita dengan lupus akan melahirkan bayi prematur

Kelahiran prematur pada pasien-pasien dengan lupus umumnya disebabkan oleh obat-obatan yang mereka minum. Obat-obat tersebut yang bisa menyebabkan kelahiran prematur, misalnya steroid azathioprine (imuran). Selain bisa menyebabkan kelahiran prematur, obat-obat tersebut juga bisa menyebabkan darah tinggi yang berhubungan dengan lupus, juga penyakit ginjal lupus. Pasien perlu selalu dalam kontrol dokter untuk menghindari kelahiran prematur yang disebabkan oleh lupus.

Tes Laboratorium untuk Pasien Lupus yang Hamil | Neonatal Lupus

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.