Kondisi Medis yang Menyerupai Asma

Beberapa kondisi medis dapat menyerupai asma. Mengejutkan, bahwa tidak semuanya merupakan penyakit paru! Penyakit paru yang seharusnya dibedakan dari asma yaitu kelompok COPD (seperti emfisema dan bronkitis obstruktif kronis) dan emboli paru, begitu juga penyakit langka seperti pneumonia eosinofilia dan infiltrat paru dengan eosinofilia. Pertumbuhan tumor jinak dan ganas yang muncul dari saluran bronkial utama dapat juga menyebabkan mengi dan sesak napas yang dapat meragukannya dengan asma. Kondisi yang mempengaruhi sistem pernapasan atas, lebih khusus, laring atau kotak suara, yang terkenal dengan sebutan asma tiruan. Sindrom disfungsi pita suara (VCD) sindrom, disfungsi dan tumor kotak suara, merupakan contoh yang baik.

Penyakit mirip asma yang bukan berasal dari paru yaitu penyakit jantung, seperti gagal jantung kongestif, dan penyakit saluran cerna, terutama refluks dan GERD. Terakhir, resep obat tertentu dapat menghasilkan gejala mirip asma, misalnya, pada individu yang rentan. Obat antihipertensi yang dikenal sebagai ACE-I kadang-kadang dapat menimbulkan gangguan berupa batuk kering yang mudah keliru dengan gejala asma. Obat beta blocker yang digunakan dalam pengobatan glaukoma dan penyakit kardiovaskuler, dapat menyebabkan mengi dan sesak napas pada beberapa individu, dan sering tidak bisa dibedakan dari asma.

Kondisi medis seperti, sinusitis {Suatu inflamasi pada lapisan sinus, yang paling umum, disebabkan karena infeksi (sinusitis virus atau bakteri) atau (sinusitis alergi)}, rinitis alergi (Suatu manifestasi alergi yang ditandai oleh gejala hidung yaitu gatal, pilek dan kongesti. Bila disebabkan oleh alergen musiman yang beterbangan di udara, rinitis alergi kadang-kadang disebut sebagai “hay fever” atau “rose fever”), dan GERD akan memperburuk gejala asma, khususnya jika kondisi yang menyertai tidak ditangani dan diobati dengan tepat. Obesitas dan sindrom apnea obstruktif saat tidur (OSAS) yang tidak diobati dapat memperburuk asma yang sudah ada. Sampai dengan 21% orang dewasa penderita asma juga memiliki sensitivitas terhadap aspirin (Aspirin memiliki sifat analgesik dan antipiretik; obat ini diresepkan untuk menghilangkan rasa nyeri dan demam. Karena tindakan anti-inflmasinya, obat ini juga dipakai untuk pengobatan reumatoid artritis dan reumatoid artritis belia, sebagaimana juga dipakai dalam pengobatan berbagai bentuk penyakit jantung). Mereka akan mengalami eksaserbasi berat setelah minum aspirin (atau obat kelas anti inflamasi non-steroid), dengan demikian harus dihindari selama hidup. Sulfit, jenis zat aditif dalam makanan, dapat mempercepat eksaserbasi pada penderita asma yang sensitif dengan sulfit. Selain menghindari pemicu asma yang dikenal, manajemen asma yang baik seharusnya mencakup identifikasi dan pengobatan yang cepat dan efektif terhadap penyakit yang menyertainya.

Faktor Kontrol yang Mempengaruhi Keparahan Asma

Faktor : Alergen
Langkah kontrol : Mengidentifikasi alergen spesifik dengan benar dan menanganinya dengan tepat: menghindari, terapi antihistamin, injeksi imunoterapi. Efinefrin auto injektor untuk penggunaan saat emergensi dapat diresepkan.

Faktor : Asap rokok
Langkah kontrol : Berhenti merokok, rumah, dan tempat kerja bebas asap rokok.

Faktor : Rinitis
Langkah kontrol : Terapi langsung: semprotan hidung (kromolin, nasal steroid,antihistamin, dan/atau dekongestan dapat diresepkan. Terapi antibiotika dipersipakan untuk infkesi bakteri akut.

Faktor : Sinusitis
Langkah kontrol : Penting, diagnosis yang tepat; langkah drainase, mencuci, nasal steroid, antihistamin, dan/atau dekongestan dapat diresepkan. Terapi antibiotika dipersiapkan untuk infeksi bakteri akut.

Faktor : Penyakit refluks esofageal, dikenal juga dengan GERD
Langkah kontrol : Manipulasi diet; jumlah sedikit, sering, resep obat antasid. Peninggian kepala dari tempat tidur dapat disarankan.

Faktor : Sensitivitas terhadap zat aditif Sulfit
Langkah kontrol : Penderita asma yang sensitif terhadap sulfit seharusnya menghindari semua makanan yang mengandung sulfit. Contoh yang umum yaitu anggur merah, bir, udang, dan buah yang dikeringkan.

Faktor : Obat-obatan tertentu
Langkah kontrol : Beta-bloker dalam semua bentuk: tetes mata (digunakan pada pengobatan glaukoma), begitu juga pil (digunakan pada pengobatan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung), dapat menyebabkan bronkospasme.

Faktor : Infeksi virus pernapasan
Langkah kontrol : Vaksinasi virus influensa setiap tahun seharusnya direkomendasikan.

Faktor : Pajanan akibat kerja
Langkah kontrol : Pentingnya lingkungan tempat kerja yang aman: ventilasi yang tepat, menghindari, dan jika diperlukan alat pernapasan pelindung pribadi.

Definisi COPD | Sindrom Disfungsi Pita Suara (VCD) dan GERD

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.