Kondisi Psikologis Penderita Kanker

Penderita kanker bukan saja mengalami sakit fisik, melainkan juga perubahan pada psikologis mereka. Berbagai perasaan tidak nyaman akan hadir pada penderita kanker. Rasa takut, sedih, dan khawatir karena sakit yang mereka derita. Terkadang, perasaan-perasaan tersebut terus berkembang dan mengubah diri penderita kanker menjadi orang yang pesimis, mudah putus asa, dan tidak lagi memiliki semangat dalam hidupnya.

Tidak ada gunanya mengobati badan tanpa mengobati pikirannya. Pemikiran ini sangat mengena, terutama pada para penderita penyakit berat, termasuk di dalamnya penderita kanker. Badan yang sakit akan memengaruhi pikiran dan sebaliknya juga demikian. Badan yang sehat juga akan berpengaruh menyehatkan pikiran dan demikian juga sebaliknya.

Ilmu pengetahuan juga membuktikan bahwa kondisi emosional seseorang akan memengaruhi tingkat kekebalan tubuh manusia. Orang yang berada pada tingkat emosional yang rapuh akan lebih cepat tertularkan penyakit karena tingkat kekebalan tubuhnya menurun akibat kondisi emosi yang buruk tadi. Kondisi emosi yang positif dan penuh pengharapan akan meningkatkan daya tahan tubuh kita, sedangkan sikap negatif, takut, dan pasrah akan menurunkan daya kekebalan tubuh.

Perubahan kondisi emosi ini akan diteruskan di dalam rangkaian proses biokimia di dalam tubuh Anda. Hal yang sebaliknya juga terjadi, yaitu perbaikan sel-sel di tubuh kita akan juga dapat memperbaiki tingkat emosional dan pikiran kita. Dengan pemahaman di atas, pengobatan yang menyeluruh (holistik) merupakan cara penyembuhan yang perlu diupayakan jika keduanya diperbaiki dalam waktu yang bersamaan.

Untuk itu, pemahaman akan kondisi psikis yang terjadi bagi penderita penyakit berat ini perlu diketahui, bukan saja oleh para penderita, melainkan juga bagi keluarga, orang di sekelilingnya, dan para dokter atau orang yang turut membantu penyembuhan penderita ini.

1. Munculnya Rasa Takut

Kondisi emosi terburuk yang terjadi pada penderita kanker adalah perasaan takut. Hal ini sangat wajar dan sangat beralasan. Tingkat ketakutan yang terjadi sangat tinggi dan melebihi seluruh jenis kanker yang ada. Penderita yang divonis mengidap kanker dan dihadapkan pada bukan saja atas kemungkinan hidup yang kecil, namun juga penderitaan fisik dan psikis yang berkepanjangan. Bagi para penderita kanker, hal ini sangat menakutkan. Mereka harus menjalani perawatan yang melelahkan dan menyakitkan dengan efek sampingnya yang mengerikan tanpa adanya perubahan yang berarti bagi penyakit mereka, mendengar biaya pengobatan yang sangat mahal, dan lain-lain yang membuat penderita kanker semakin merasa takut yang berat.

Masalah psikologis penderita kanker semakin memburuk atas berita diagnosis penyakit yang diderita, semakin parah lagi bila cara penyampaiannya dilakukan dengan cara yang buruk pula. Pada umumnya, para dokter jarang yang dapat menyampaikan berita buruk itu dengan cara yang cukup baik. Mereka menyampaikannya dengan singkat dan sikap yang dingin. Pada saat pemberitahuan hadil diagnosis buruk ini, pasien sangat memerlukan kehangatan dan dukungan agar dapat mencegah penurunan kondisi emosionalnya. Pada saat ini, penderita kanker merasa tidak berdaya, tertekan, dan pasrah atas apa saja yang akan dilakukan oleh dokter atau sistem pengobatan yang ada. Hal ini sangat tidak baik bagi penderita kanker dan memperparah kondisi kesehatannya.

2. Tekanan Berat pada Pikiran (Stres)

Sejumlah ahli berpendapat bahwa stres secara langsung dan sendirian, kemungkinan tidak dapat menimbulkan kanker, namun bila kondisi pasien tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik, apakah akibat fungsi organ yang tidak baik, nutrisi yang tidak baik, atau gaya hidup yang tidak baik, stres dapat saja memicu terjadinya kanker atau penyakit berat lainnya dengan mudah. Bila penyakit berat ini berhubungan langsung dengan kematian, kondisi ini menimbulkan tekanan pikiran lanjutan bagi penderita.

Ada lima macam fase reaksi manusia bila dihadapkan dengan penyakit bahkan kematian, yaitu :

* Fase pertama adalah penyangkalan

Umumnya, penderita akan berkata, “Saya baik-baik saja. Ini diagnosis yang salah.” Sikap penyangkalan ini wajar terjadi pada penderita yang baru saja mengetahui diagnosisnya.

* Fase kedua, orang ini akan marah, dan berkata, “Mengapa saya?”

Pada fase kedua ini, biasanya penderita akan muncul rasa marah, tidak bisa menerima mengapa dirinya bisa menderita penyakit kanker.

* Fase ketiga, bersikap menawar

“Saya rela mati, tetapi kalau boleh berikan saya waktu sedikit.” Inilah kalimat yang lazim dikatakan para penderita kanker pada fase ketiga. Mereka merasa putus asa dan pasrah akan hidupnya.

* Fase keempat adalah depresi

Orang ini akan menyendiri, tidak berkomunikasi, dan tidak merasakan cinta maupun perhatian yang diberikan orang di sekelilingnya. Pada saat ini tidak ada gunanya menghibur pasien ini. Dia perlu berdamai dengan dirinya.

* Fase terakhir adalah penerimaan

Pada fase ini pasien akan berkata, “Baiklah, saya akan hadapi dengan sebaik-baiknya.” Fase-fase di atas tadi tidak selalu secara teratur dilalui, dapat saja dilampaui dengan cepat dari fase 1 ke fase 4, tergantung dari kondisi psikis pasien.

Pengamatan dilakukan terhadap sejumlah pasien kanker payudara yang telah melalui proses mastektomi untuk melihat perkembangan mereka. Pengamatan menunjukkan bahwa ada empat kategori kondisi para pasien, yaitu pasien yang berjuang untuk kesembuhan, pasien yang “menyangkal” bahwa kondisinya buruk, pasien yang “pasrah” akan keadaan kesehatannya, dan terakhir adalah pasien yang tidak lagi berharap sembuh. Dalam waktu 5 – 10 tahun kemudian, survei menunjukkan bahwa 80% dari golongan pertama, yaitu yang berjuang untuk kesembuhannya, benar-benar sembuh dan hanya 20% dari fase terakhir yang tidak berharap sembuh menjadi sembuh.

Penelitian lainnya juga menunjukkan fenomena yang sangat menarik: 15 – 20% pasien kanker secara sadar atau tidak sadar berharap untuk mati; 60 – 70% dari mereka berharap untuk sembuh, tetapi hanya pasif dan berharap agar para dokter saja yang bekerja menyembuhkannya; dan sisanya, sebanyak 15 – 20% pasien adalah penderita yang tidak ingin menjadi korban penyakit ini, yang secara aktif terus menerus mencari cara penyembuhan yang mungkin, tidak selalu menuruti saran para dokter, ingin mengontrol dirinya, dan rajin bertanya. Penderita yang tidak kooperatif dan susah diatur, pada umumnya memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi. Mereka ini memiliki sistem kekebalan tubuh yang tinggi akibat dari sikapnya tadi.

3. Cara Menghadapi Masalah Psikologis pada Penderita Kanker

Penderita kanker harus dapat mengendalikan pikirannya. Pikiran manusia dapat menjadi teman, tetapi sebaliknya dapat menjadi musuh dirinya. Cara pengendalian ini umumnya dapat dilakukan dengan meditasi, berdoa, berbicara dengan diri sendiri melalui visualisasi, dan cara-cara self healing lainnya. Yoga atau cara meditasi lain terbukti dapat membantu manusia untuk mengosongkan pikiran dan seterusnya membangun sikap mental yang baik terhadap tantangan fisik yang ada. Salah satu teknik yang dinamakan “kekuatan dari keinginan”, yaitu secara mental seseorang melatih dirinya dan mentalnya untuk percaya seyakin-yakinnya bahwa ia dapat menghadapi tantangan ini. Teknik ini terbukti dapat membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Teknik-teknik pengendalian pikiran banyak tersedia dan dapat dipelajari dan terbukti sangat-sangat membantu penyembuhan berbagai penyakit.

Pada saat yang sama, juga diharapkan penderita dapat memperbaiki kondisi fisiknya dengan mengkonsumsi nutrisi yang baik dan maksimal, mengkonsumsi bahan-bahan atau obat penyembuh, dan sebaliknya juga menghindari sumber atau potensi penyakit yang diidapnya berupa lingkungan yang tidak sehat dan nutrisi yang toksik sehingga proses penyembuhan terjadi secara paralel antara fisik dan psikis.

Berdoa juga terbukti ampuh menolong kesembuhan. Penelitian selalu menunjukkan bahwa pasien yang berdoa atau berbicara kepada Khalik-nya yang lebih tinggi, terbukti persentase kesembuhannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki agama atau tidak percaya kepada Tuhan. Kepasrahan kepada Sang Pencipta adalah kunci dari penyembuhan segala penyakit.

Berdamai dengan diri melalui meditasi maupun visualisasi dan afirmasi juga dapat membebaskan diri dari rasa takut, marah, kecewa, yang sangat erat hubungannya dengan kondisi penyakit. Oleh karena itu, banyak orang yang melakukan yoga, Tai Chi, dan semacamnya sebagai sarana meditasi untuk mengembalikan keseimbangan dan ketenangan alam pikiran dengan kondisi lahiriah.

Berbagai cara, teknik, dan terapi kejiwaan dan psikologi perlu dan dapat diterapkan untuk membantu seseorang untuk merawat dan menyembuhkan jiwanya dan pada waktunya akan meningkatkan kekebalan tubuhnya dan membantu penyembuhan penyakit yang ada.

Diagnosis Kanker | Karsinogen

This entry was posted in Kanker. Bookmark the permalink.