Lupus pada Anak (Pediatric Lupus)

Lupus adalah penyakit autoimun dengan gejala-gejala reumatik, seperti sakit persendian, sakit otot, fatique, ruam kulit, rambut rontok, dan lain-lain yang gejalanya sangat bervariasi pada penderitanya. Artinya pasien lupus yang satu mempunyai gejala yang berbeda dengan pasien lupus lainnya. Di Amerika Serikat, saat ini diperkirakan ada 1,5 juta pengidap lupus, 90% di antaranya wanita. Sedangkan penderita anak-anak diperkirakan sekitar 10.000. Belum diketahui prevalensi penderita lupus anak-anak di Indonesia.

Merawat anak yang mengidap lupus, sungguh merupakan suatu tantangan besar bagi orang tua/seluruh keluarga terutama ibunya. Setelah dilakukan diagnosis, yang pertama-tama harus dilakukan orang tuanya adalah mempelajari sebanyak mungkin tentang penyakit itu dan kebutuhan-kebutuhan khusus anak yang kena lupus. Orang tua perlu mengajari si anak tentang penyakit yang diidapnya, juga kepada saudara-saudaranya sekandung, guru-guru si anak, dan teman-temannya.

Sebagaimana telah disebutkan dalam bab sebelumnya bahwa lupus lebih sering menyerang wanita (90%). Tapi lupus juga menyerang anak-anak. Sama dengan pada orang dewasa, diagnosis dan gejalanya pada anak juga sama. Di Amerika Serikat, jika seorang dokter menduga seorang anak kena lupus, maka ia akan dirujuk ke seorang reumatolog, yaitu dokter hali reumatologi dengan spesialisasi penyakit-penyakit autoimun.

Dokter akan bertanya kepada anak ibu dan juga ibu untuk mencari tanda-tanda / gejala lupus. Inilah beberapa gejala umum lupus yang digunakan oleh dokter untuk diagnosis.

* demam
* berat badan turun
* ruam pada kulit
* kehilangan nafsu makan
* sendi-sendi ngilu bahkan sakit
* otot sakit
* bengkak pada kelenjar
* rambut rontok
* sakit perut
* mual
* muntah
* diare
* sensitif terhadap sinar matahari
* mulut luka-luka

Gejala utama yang biasanya menjadi pegangan dokter adalah demam, ruam khusus pada wajah yang berbentuk kupu-kupu, dan rambut rontok.

Kemudian dokter akan melakukan tes laboratorium untuk melihat adanya antibodi khusus yang merupakan pertanda lupus, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya.

Pengobatan Lupus pada Anak

Begitu pasien anak sudah didiagnosis menderita lupus, maka dokter akan memutuskan suatu rencana pengobatan. Pengobatan tersebut tergantung pada keparahan penyakitnya dan bagian tubuh yang terkena. Hampir setiap anak dengan SLE akan minum obat untuk mengontrol penyakitnya, tergantung gejala yang dideritanya. Misalnya anak dengan keluhan pegal linu pada sendi-sendi, akan mendapat obat acetaminophen atau ibuprofen dari dokter. Anak lain minum antimalarial untuk gejala ruam di kulit yang disertai rasa sakit pada sendi-sendi. Obat antimalarial adalah obat yang biasanya digunakan untuk penyakit malarial, namun kemudian diketahui obat malarial tersebut juga manjur untuk meredakan gejala lupus. Pasien lupus anak lain minum obat-obat steroid (bukan steroid yang sering digunakan oleh para atlet dan bodybuilder), yang juga bisa meredakan gejala-gejala lupus. Jika lupus menyerang ginjal anak, atau organ lain, maka dokter akan memberikan immunosuppressive. Ini merupakan obat keras yang bermanfaat mengendalikan aktivitas sistem imun yang tak terkendali pada lupus.

Anak yang menderita lupus tidak hanya membutuhkan pengobatan berupa obat-obatan. Yang paling utama adalah mengubah gaya hidupnya. Anda wajib mengajarinya utnuk hidup sehat (pola makan sehat, menghindari makanan pencetus flare, olahraga teratur, mengendalikan emosi) sehingga penyakitnya bisa terkendali dan ia dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti anak-anak normal. Tentu saja bantuan orang tua sangat dibutuhkan, terutama dalam hal menghindarkan anak dari kondisi stres. Hidup sehat dan menghindari stres akan membuat lupus dalam kondisi remisi. Usahakan memperpanjang kondisi remisi itu (dengan cara hidup sehat) meski terkadang terjadi cetusan-cetusan flare.

Orang tua, terutama ibu, harus memberi perhatian penuh setiap hari untuk mengenali tanda-tanda jika akan muncul flare. Selain itu ibu juga harus mampu mengendalikan lupus untuk sedapat mungkin memperpanjang remisi dan mencegah munculnya flare.

Dengan perawatan yang benar dan hidup sehat, anak penderita lupus dapat melakukan aktivitas sehari-hari layaknya anak sehat: ke sekolah, berolahraga, berkumpul dan bermain dengan teman-teman dan sebagainya.

Jangan lupa jalin komunikasi dengan guru-gurunya, karena pasti ada saat-saat anak Anda merasa tidak sehat karena flare, sehingga tidak bisa pergi ke sekolah. Juga minta pengertian dari guru olahraganya bahwa anak Anda tidak bisa mengikuti olahraga di lapangan, karena panas matahari akan mencederainya.

Apakah Memungkinkan Mempunyai Anak ketika Menghentikan Obat-obat Lupus? | Mengenali Tanda-tanda akan Muncul Flare pada Anak

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.