LUPUS

LUPUS, nama yang cantik, feminim, dan romantis; namun jangan dikata gejala dan komplikasinya. Sungguh dahsyat, mengerikan, dan mematikan. Awalnya penyakit itu hanya menyerang satu organ tubuh, namun di kemudian hari organ-organ lain pun akan mendapat gilirannya jika Anda mengabaikannya. Apa saja yang bisa diserang penyakit lupus? Penyakit lupus adalah penyakit dimana terjadi aktivitas yang berlebihan dari sistem imunitas tubuh sehingga menghancurkan bagian-bagian tubuh sendiri. Dengan demikian, lupus merupakan penyakit kronis yang menyerang berbagai jaringan / sistem organ tubuh, misalnya jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, patu, lapisan pada paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, pembuluh darah dan sel-sel darah.

Penyakit ini masih dianggap langka yang menurut data di Amerika ditemukan hanya 14,6 penderita diantara 100.000 orang, dan di Inggris 2,8 per 100.000 penduduk, sementara di Indonesia sampai saat ini yang terdeteksi menderita lupus baru 50.000 orang. Namun harap diketahui bahwa lupus adalah penyakit autoimun (bukan infeksi) yang mematikan. Setiap tahun penderitanya makin meningkat sekitar 3,8 per 100.000 orang. Dan obatnya belum ditemukan alias belum ada. Penyebabnya pun masih diperdebatkan, kemungkinan gaya hidup yang tidak sehat dan pola makan yang tidak benar, dan mungkin juga genetik atau hormonal.

Coba Anda perhatikan di komunitas sekeliling Anda: komunitas RT/RW, komunitas arisan, komunitas kantor, komunitas olahraga dan sebagainya, pasti ada satu atau dua orang yang anak atau istrinya kena lupus. Sebagai contoh, salah seorang anak perempuan penulis beberapa tahun yang lalu ketika berusia 35 tahun kena lupus. Demikian juga salah seorang istri anggota keluarga besar penulis, juga kena lupus pada usia awal 30-an. Dan memang, belakangan banyak ahli di Barat mulai menyadari, bahwa penyakit lupus sebenarnya bukanlah penyakit langka. Karena jumlah penderita umumnya wanita – 10 kali lipat lebih banyak dibanding penderita pria – dengan gejala yang sangat umum dan gejala tersebut tidak sama pada setiap penderita, maka dokter sulit mendeteksinya. Akibatnya lupus lepas dari perhatian dokter.

Pasien lupus adalah wanita-wanita usia produktif berumur antara 20 – 40 tahun atau setelah menstruasi dan sebelum menopause. Karena itu diperkirakan salah satu faktor penyebabnya adalah hormon.

Tanggal 10 Mei adalah Hari Lupus Sedunia. Lupus termasuk penyakit autoimun yang boleh dibilang langka. Namun, meski dibilang langka, penyakit lupus telah mendapat perhatian penuh di seluruh dunia, banyak diteliti, dan sampai sekarang masih dicari obatnya karena gejalanya bisa fatal dan komplikasinya bisa mematikan.

Walaupun sudah mendunia, penyakit lupus agaknya belum banyak dikenal, karena jumlah penderitanya boleh dibilang tidak banyak. Yang telah terdeteksi sebagai penyandang penyakit lupus di seluruh dunia sekitar 5 juta orang (tahun 2007) dan lebih dari 100.000 kasus baru, terjadi setiap tahunnya. Yayasan Lupus Amerika memperkirakan sekitar 1.500.000 penduduk Amerika menderita lupus. Di Indonesia (RS Cipto Mangunkusumo) sampai sekarang ditemukan sekitar 50.000 penderita lupus. Selanjutnya, data yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa 1 – 5 orang diantara 100.000 penduduk adalah pasien lupus. Namun bukan berarti penyakit itu boleh diabaikan, karena sekali kena lupus, seumur hidup Anda akan terus menyandangnya.

Meskipun lupus menyerang pria dan wanita, namun 90% kasus lupus adalah wanita, dan 70% diantaranya adalah jenis systemic lupus erythematosus (SLE), dan 80% penderitanya berusia 15 – 45 tahun. Sekitar 50% penderita lupus mengalami serangan pada organ dalamnya. Sedangkan 10% kasus lupus adalah jenis discoid lupus erythematosus (DLE).

Apakah penyakit lupus diwariskan? Masalah ini masih diperdebatkan diantara para ahlinya. Namun kenyataan menunjukkan bahwa 20% penderita lupus mempunyai seorang atau lebih kerabat dekat (orang tua atau saudara sekandung) yang juga pasien lupus. Namun umumnya para ahli menyatakan bahwa lupus tidak diwariskan dan tidak ditularkan. Sedangkan 5% anak (terutama bayi perempuan) yang lahir dari orang tua pengidap lupus akan mempunyai resiko mengidap penyakit tersebut.

Arti kata “lupus” dalam bahasa Latin adalah anjing hutan. Istilah “lupus” mulai dikenal sekitar satu abad yang lalu. Awalnya penyandang penyakit ini dikira hanya menderita kelainan kulit berupa ruam kemerahan di sekitar hidung dan pipi, juga di lengan dan kaki. Rasanya panas. Selain itu si penderita terus-menerus merasa lelah walaupun sudah beristirahat lama, rambut rontok, persendian sakit bahkan membengkak, lalu muncul sariawan.

Mengapa penyakit lupus cenderung tidak dikenal bahkan diabaikan? Kemungkinan karena gejala awalnya hanyalah berupa penyakit kulit dan penyebabnya bukan kuman, bakteri, atau virus. Jadi, umumnya dokter mengabaikannya. Padahal lupus adalah salah satu penyakit autoimun yang cukup “ganas” dan sifatnya menahun. Kemungkinan besar penderita lupus tidak bisa disembuhkan karena belum ditemukan obatnya. Apalagi penyait ini mengenal fase bebas gejala yang disebut “remisi” dan masa kekambuhan yang disebut “eksaserbasi”. Penderita mungkin terkecoh ketika lupus ‘tiarap’ masuk dalam fase remisi, karena semua gejala menghilang, lalu mengira dirinya telah terbebas dari cengkeramannya, ia hanya tiarap menunggu saat untuk mengganas kembali. Satu demi satu organ tubuh Anda akan dilahapnya jika Anda lengah dan mengabaikannya. Ujung-ujungnya, nyawa Anda taruhannya.

Home | Definisi Penyakit Lupus

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.