Mengenali Tanda-tanda akan Muncul Flare pada Anak

Flare adalah munculnya gejala. Gejala-gejala lupus bisa muncul bisa pula menghilang (jika sedang dalam kondisi remisi). Kadang pengidap lupus menderita ruam-ruam di kulit atau pembengkakan di kelenjar, selama satu minggu. Minggu berikutnya gejala menghilang. Cari tahu kapan atau pada saat apa gejala menghilang. Cari tahu kapan atau pada saat apa gejala muncul, misalnya jika stres, terpapar sinar matahari, terlalu lelah berolahraga atau bermain.

Dengan memberi perhatian penuh pada anak Anda, maka Anda pasti bisa mengetahui kapan muncul flare pada anak Anda. Mungkin tiba-tiba ia mengeluh sangat lelah, atau sakit kepala. Mungkin tiba-tiba muncul ruam-ruam pada kulitnya atau sakit perut. Banyak yang bisa Anda waspadai terjadi pada kondisi anak Anda. Jangan lengah.

Menghindarkan anak dari flare

Untuk menghindari terjadinya flare pada anak Anda, usahakan sesedikit mungkin bermain di bawah terik matahari, karena anak penderita lupus sensitif terhadap cahaya matahari. Banyak istirahat dan usahakan suasana hatinya tenang, juga banyak membantu anak terhindar dari flare alias memperpanjang waktu remisi. Berikut ini beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk menghindari flare.

* Kenali tanda-tanda bakal munculnya flare.
* Jangan memaksa anak Anda mengerjakan sesuatu yang bisa membuatnya stres berat.
* Kurangi berada di luar rumah, terutama pada siang hari. Sinar ultraviolet dari matahari bisa memunculkan kondisi flare. Karena itu komunikasikan kondisi kesehatan anak Anda kepada guru olahraganya.
* Rencanakan pola makan sehat dan seimbang bagi anak dan tentu saja seluruh anggota keluarga agar dia tidak merasa dirinya diperlakukan berbeda. Pola makan sehat dan seimbang adalah lebih banyak menyantap sayur dan buah segar daripada karbohidrat. Hindari makanan olahan. Gunakan nasi beras tumbuk atau nasi beras merah organik. Santap roti atau pasta atau mi dari tepung gandum / whole wheat. Hindari minuman beralkohol atau bersoda.
* Cukup istirahat, hindari begadang, misalnya menonton TV sampai larut malam.
* Ajak anak berolahraga teratur tiga kali seminggu @ 30 menit. Bisa dengan jalan cepat di treadmill, atau bersepeda statis. Pada hari-hari libur, ajak anak jalan cepat atau jogging keliling rumah atau kompleks, sebelum matahri bersinar kuat. Atau gunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, atau gunakan sunscreen.
* Selalu kontrol kesehatannya ke dokter yang biasa merawatnya, terutama jika muncul tanda-tanda akan flare.

Jika anak mengalami sakit kepala atau sakit otot, atau pegal-pegal di sendi-sendinya, pertama-tama tentu saja harus dibawa ke dokter. Biasanya dokter akan memberikan obat antisakit sejenis pain reliever. Ada dua jenis obat antisakit untuk anak, yaitu ibuprofen dan acetaminophen. Bisa didapat dalam bentuk cair atau pil. Dengan minum obat tersebut, maka rasa sakit bisa langsung enyah atau berkurang.

Cara kerja masing-masing obat

Untuk mengetahui cara kerja masing-masing obat antisakit tersebut, mari kita mempelajari proses rasa sakit terlebih dahulu. Tubuh Anda, terutama kulit dan jaringan tubuh penuh dengan ujung-ujung saraf, beberapa di antaranya sensitif terhadap rasa sakit. Anda akan merasakan sakit jika terbakar api atau dipukul teman, misalnya. Rasa sakit juga muncul ketika lupus aktif dalam kondisi flare.

Ketika sel terluka atau terjadi rasa sakit, maka sel akan melepas sejenis zat kimia yang disebut prostaglandin. Ujung-ujung saraf yang sensitif akan merasa sakit ketika zat kimia ini muncul. Sel-sel tersebut kemudian akan mengabarkan rasa sakit itu melalui sistem saraf ke otak. Dan otak pun bereaksi “Aduh!”

Rasa sakit tidak selamanya negatif, karena merupakan peringatan dini bahwa sistem terganggu, sehingga dibutuhkan solusi masalah. Bayangkan jika sistem rasa sakit tersebut tidak berjalan. Ketika jari-jari Anda terpotong pisau atau telapak tangan Anda tersenggol api kompor, Anda tidak mengetahui bahwa ada bagian tubuh yang terluka, karena tak ada laporan dari sel yang bersangkutan lantaran tak ada prostaglandin yang dilepas.

Nah, apa yang terjadi ketika anak Anda menelan pil atau minum cairan ibuprofen atau acetaminophen ketika sel-sel yang merasa kesakitan melepas prostaglandin? Obat-obat tersebut tidak akan langsung menyembuhkan luka atau cedera di sel yang sakit. Ada proses yang berlangsung. Ibuprofen akan menuju sel yang sakit dan menahan pelepasan prostaglandin, sehingga otak tidak akan lagi menerima laporan rasa sakit. Dengan demikian, rasa sakit akan mereda. Sedangkan acetaminophen bekerja di otak sehingga anak Anda tidak akan merasakan lagi kesakitan jika minum obat tersebut.

Memproteksi tulang anak agar tidak keropos karena pengobatan kortikosteroid

Memang kesehatan tulang pada anak dengan lupus sangatlah penting. Sementara para dokter umumnya sangat hati-hati menggunakan obat-obatan yang toksik untuk meredakan lupus agar tidak berefek terhadap tulang-tulang si anak, para ilmuwan peneliti di sisi lain belum menuntaskan masalah cara terbaik menghindari efek obat-obat lupus terhadap tulang-tulang si penderita.

Sekarang ini rekomendasi terkini adalah kecukupan asupan suplemen kalsium dan vitamin D ditambahkan dengan olahraga empat sampai lima kali seminggu @ 30 menit. Dengan demikian, diharapkan pertumbuhan dan kesehatan tulang tetap berlangsung dan terjaga.

Kerontokan rambut

Boleh dikatakan amat jarang terjadi rambut rontok keseluruhannya sampai gundul. Steroid bekerja cukup cepat, dalam beberapa hari sudah ada efeknya. Sedangkan Plaquenil baru tampak efeknya setelah tiga bulan. Itulah sebabnya anak Anda membutuhkan kedua obat tersebut.

Tentang masalah rambut rontok, sekali akar rambut menjadi lemah, berarti resiko terjadi kerontokan rambut dan membutuhkan beberapa bulan untuk menumbuhkan kembali rambut baru yang kuat. Karena itu kerontokan rambut anak Anda akan terus terjadi meskipun obat-obat tersebut sudah mulai bekerja menghambat kerusakan pada rambut yang baru tumbuh.

Ada beberapa alasan mengapa penyakit lupus menyebabkan rambut rontok. Pertama, penyakit yang aktif, apa pun, selalu dihubungkan dengan penyumbatan kantung rambut (hair follicle), yang berakibat rontoknya gumpalan rambut saat disisir dan dikeramas. Para ahli menyebutnya lupus hair. Pasien yang mengidap DLE maupun SLE melaporkan bahwa mereka mengalami kerontokan gumpalan rambut yang kadang menyebabkan kebotokan setempat (biasanya di bagian pelipis dan ubun-ubun). Kerontokan rambut bisa parah sehingga menyebabkan kebotakan lokal. Sekitar 30% pasien lupus SLE mapun DLE mengalami rambut rontok.

Kedua, alasan lain kerontokan rambut adalah infeksi, kemoterapi, stres emosi, dan ketidakseimbangan hormonal.

Pengobatan kerontokan rambut tergantung pada penyebabnya. Misalnya, pemberian injeksi preparasi steroid pada kulit kepala botak, bisa menumbuhkan kembali rambut pada pasien DLE. Namun jika pada bagian yang botak timbul bekas luka yang tebal, maka rambut tidak akan tumbuh kembali meski diobati. Antimalarial dan kortikosteroid juga dapat menumbuhkan rambut kembali. Sedangkan cairan Menoxidil yang merupakan preparasi untuk tekanan darah, juga dapat digunakan menumbuhkan kembali rambut, tapi tidak dapay menghambat kerontokan rambut.

Yang terjadi pada pasien lupus umumnya penipisan rambut, bukan kebotakan (alopecia areata) setempat atau seluruhnya.

Lupus pada Anak (Pediatric Lupus) | Lupus pada Pria

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.