Mitos-mitos Impotensi

Mitos-mitos Impotensi yang Ada di Masyarakat

Banyak mitos yang berkembang di kalangan masyarakat seputar impotensi. Mitos-mitos tersebut sebagian besar sangat menyesatkan. Oleh karena itu, janganlah percaya begitu saja kepada mitos. Carilah sumber data yang benar. Bertanyalah kepada ahlinya, segeralah berkonsultasi ke dokter.

Oleh karena itu, pada bagian ini akan dikemukakan mitos-mitos yang beredar luas di kalangan masyarakat dan fakta yang sebenarnya. Dengan demikian, pembaca yang budiman dapat menentukan mana yang mitos dan mana fakta yang harus dipercaya.

Impotensi Terkait Masalah Psikologis

Memang benar, sebagian penyakit impotensi terkait dengan masalah psikologis. Namun prosentasi impotensi yang disebabkan oleh masalah psikologis ini hanya sedikit, kurang dari 20%. Stres, kehilangan kepercayaan diri, beban yang berlebihan merupakan faktor sekunder yang menjadi penyebab impotensi. Penyakit-penyakit berat seperti diabetes mellitus (kencing manis), jantung, hipertensi (tekanan darah tinggi), dan kanker prostat merupakan penyakit-penyakit yang menjadi penyebab terbanyak terjadinya impotensi.

Jadi, cara yang terbaik untuk menghindari impotensi adalah menjaga kesehatan secara menyeluruh. Dengan demikian, kondisi badan tetap prima, terhindar dari segala penyakit, dan terbebas dari impotensi.

Lelaki Sejati Tidak Pernah Impotensi

Pada kenyataannya, setiap lelaki yang berusia di atas 30 tahun sedikitnya pernah mengalami impotensi dalam hidupnya. Ini bukan impotensi yang menetap atau permanen tetapi lebih disebabkan beban psikis yang berlebihan. Apabila beban psikis tersebut sudah hilang atau masalahnya dapat diselesaikan, kemampuannya untuk ereksi akan kembali pulih.

Perlu diingat bahwa impotensi tidka terkait dengan masalah libido, ketidakmampuan untuk ejakulasi, atau mencapai orgasme. Di dunia sekarang ini, lebih dari 150 juta lelaki mengalami impotensi. Kemungkinan angka tersebut akan berkembang menjadi dua kali lipat atau lebih.

Kondisi ini dikarenakan semakin besarnya tuntutan untuk berprestasi, yang mendorong banyaknya stres di kalangan lelaki. Perubahan zaman yang juga menuntut untuk menjadi mandari dan ahli dalam berbagai hal agar dapat survive turut membentuk adanya beban psikologis tersendiri di kalangan lelaki. Kalau semua urusan tersebut tidak disikapi dengan bijaksana, akan memicu timbulnya impotensi.

Cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah bersikap bijak dan sewajarnya memandang hidup. Berusaha sebaik-baiknya dengan menjaga keseimbangan adalah yang terpenting. Dengan pola hidup yang baik, semuanya akan lebih mudah dihadapi.

Impotensi adalah Bagian dari Penuaan

Impotensi memang banyak diderita oleh lelaki-lelaki berumur. Namun, ini bukan berarti setiap lelaki yang berumur mengalami impotensi. Impotensi pada lelaki-lelaki berumur lebih disebabkan karena penyakit-penyakit berat, seperti kencing manis, darah tinggi, maupun jantung. Jadi, tidak benar bahwa impotensi adalah bagian dari penuaan.

Bagi mereka yang rajin menjaga kesehatan tubuhnya, berolahraga, menjaga pola makan, dan keseimbangan hidup tentunya sangatlah besar kemungkinan untuk tetap hidup sehat hingga hari tua. Mereka tidak dibebani dengan penyakit dan tetap dapat menikmati seks tanpa terbebani impotensi.

Impotensi Tidak Ada Obatnya

Kenyataannya, dunia medis memang belum menemukan sejenis obat tertentu yang dapat diklaim menyembuhkan impotensi secara permanen. Terlebih penyebab impotensi ini juga sangat beragam sehingga harus dilihat kasus per kasus dalam penanganannya. Namun demikian, sudah banyak terapi dan pengobatan yang dapat dijalani oleh para penderita impotensi. Hasilnya pun sangat efektif.

Untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai pengobatan impotensi, sebaiknya penderita datang menemui dokter. Dengan demikian, dokter bisa memberikan diagnosis yang benar, menyarankan pengobatan dan penanganan yang paling tepat dengan keadaan penderita.

Keterbukaan sangat dipentingkan untuk urusan penyembuhan impotensi. Selain itu, dukungan pasangan juga sangat besar pengaruhnya terhadap kesembuhan penderita. Jangan menutup diri terhadap masalah impotensi. Akibatnya bisa lebih parah lagi. Perlu selalu diingat, bahwa impotensi tidak hanya berkaitan dengan si penderita tetapi juga melibatkan pasangannya. Tidak perlu khawatir atau cemas berlebihan bila menderita impotensi. Dengan perawatan dan penanganan medis yang benar sangat besar kemungkinan impotensi dapat disembuhkan.

Semakin canggih teknologi, perkembangan pengobatan impotensi juga semakin maju. Sekarang ini sudah dikembangkan pengobatan secara oral, seperti Viagra. Selain itu, ada pula pengobatan dengan penyuntikan maupun pompa vakum. Jadi, anggapan bahwa impotensi tidak ada obatnya, sama sekali tidak benar.

Bagi mereka yang merasakan gejala-gejala impotensi, sebaiknya segera menemui dokter dan melakukan perawatan secara benar. Penanganan secara lebih dini akan memberikan hasil yang lebih efektif daripada mereka yang datang ke dokter dengan kondisi yang sudah parah.

Impotensi Hanya Masalah Lelaki

Hanya orang egois yang berpikiran bahwa impotensi hanya masalah lelaki. Lalu bagaimana dengan pasangannya? Dalam kehidupan berumah tangga, impotensi adalah masalah bersama. Lelaki dan perempuan tidak bisa saling menyalahkan. Keduanya harus saling terbuka lalu bersama-sama mencari solusi untuk menyelesaikannya. Dukungan pasangan akan sangat membantu kesembuhan lelaki yang mengalami impotensi.

Banyak pasangan yang dapat melalui krisis masalah impotensi karena keduanya bahu-membahu untuk menyelesaikan masalah. Sebagai pasangan, perempuan dapat melakukan banyak hal yang membantu penyembuhan impotensi. Mulai dari menemani pasangan melakukan pengobatan dan terapi hingga mendukung secara mental untuk mengembalikan rasa percaya dirinya.

Terung Menyebabkan Impotensi

Pandangan dan mitos ini benar-benar menyesatkan. Makan terung yang sudah disayur tidak akan menyebabkan impotensi. Bentuk sayur terung yang lembek sering dikaitkan dengan impotensi. Padahal sesungguhnya, terung sangat baik bagi kesehatan. Terung mengandung zat-zat yang dapat menurunkan kolesterol.

Secara umum, terung mengandung energi 17,4 kal; 1,2 gram protein; lemak 0,2 gram; kolesterol 0,0 mg, vitamin (A, B1, B2, B6, dan C) antara 0,0 mg hingga 2,8 mg serta potassium 187,0 mg dan kandungan air 92,5 gram.

Nilai gizi yang terkandung di dalam terung (buah muda): kalori (24 kal), protein (1,1 g), lemak (0,2 g), karbohidrat (5,5 g), kalsium (15 mg), fosfor (37 mg), besi (0,4 mg), vitamin A (30 SI), vitamin B1 (0,04 mg), vitamin C (5 mg). Adapun untuk terung engkel (daun muda atau buah muda) mengandung: kalori (54 kal), protein (2,9 g), lemak (0,3 g), karbohidrat (13,9 g), kalsium (155 mg), fosfor (65 mg), besi (2,5 mg), vitamin A (2500 SI), vitamin B1 (0,05 mg), vitamin C (21 mg).

Inilah yang membuat terung bisa dipakai untuk memelihara kelangsingan tubuh dan mengendalikan stres karena kandungan senyawa solanin yang dalam jumlah tertentu. Terung juga bisa mengendurkan urat-urat saraf atau mempertahankan darah agar tidak naik-turun secara drastis.

Sekali lagi, sangatlah tidak benar bahwa makan terung menyebabkan impotensi. Terung bahkan sangat baik dikonsumsi. Walaupun di Indonesia manfaat terung sebagai obat belum dikenal luas tetapi manfaat terung sangat besar untuk kesehatan. Jangan ragu-ragu untuk mengkonsumsi terung. Terlebih di Indonesia, terung dapat dimasak menjadi berbagai masakan yang lezat, nikmat, dan sehat.

Seiring kemajuan riset, kini terung juga dapat dimanfaatkan sebagai terapi pelengkap obat medis. Sebab terung mengandung berbagai zat yang berkhasiat seperti 5-hidroksi-triptamin, asam amino, alanin, arginin, asam askorbat, beta-karoten, asam klorogenat, asam folat, glikoalkaloid, glikosidasteroid, solanina, solanidina, solasodina, tannin, tiamin, protein, karbohidrat, vitamin (A, B1, B2, B3, C). Solanin berkhasiat untuk terapi kanker lambung, pipi, leher rahim, kanker ovarium (indung telur), dan kanker hati.

Bentuk dan Ukuran Penis Mempengaruhi Kekuatan Ereksi

“Laso jarang lalona”. Begitulah bunyi peribahasa Makassar, yang berarti “seperti kemaluan kuda”. Peribahasa ini dikatakan kepada orang yang memiliki alat kelamin yang besar.

Kalangan awam menganggap lelaki dengan penis yang besar dan sempurna dianggap memiliki kekuatan penuh. Sedangkan mereka yang memiliki penis kecil dan pendek dianggap kurang dapat memuaskan pasangannya dalam berhubungan intim. Akhirnya lelaki seperti ini akan selalu merasa canggung atau kurang percaya diri saat bercinta.

Padahal, secara medis hal ini tidak berhubungan sama sekali. Ini hanya mitos. Kejantanan memang sering dihubungkan dengan faktor apakah penis si lelaki kecil atau besar. Padahal kategori penis kecil, pendek, besar atau panjang sangat relatif.

Repotnya, pendapat demikian tadi sudah begitu melekat sehingga mempengaruhi psikologis para lelaki yang merasa organ intimnya kecil atau pendek. Akibatnya yang bersangkutan jadi tidak percaya diri atau canggung saat berhubungan intim karena merasa kurang jantan. Ujung-ujungnya, si lelaki benar-benar mengalami gangguan ereksi atau ejakulasi dini.

Sebenarnya alat vitalnya dapat berfungsi optimal. Biasanya, mereka akhirnya memilih jalan pintas dengan berusaha memperbesar organ kejantanannya dengan berbagai cara.

Perlu diketahui, kenikmatan hubungan intim tidak dinilai dari ukuran penis. Hal yang menentukan kenikmatan hubungan intim adalah bagaimana si lelaki dapat berejakulasi dalam waktu yang normal (tidak terlalu cepat atau terlalu lama), tidak impoten, dan memiliki kemampuan memuaskan hasrat seks pasangannya secara maksimal.

Inilah yang menjamin ranjang menjadi lebih hangat daripada sekadar besar kecil atau panjang pendeknya penis. Untuk itu, usahakan agar selalu terbuka pada pasangan. Bicarakan seperti apa kualitas hubungan intim yang bisa dinikmati bersama. Misalnya saja dengan mencoba berbagai variasi dan suasana baru.

Lelaki dengan organ intim besar dan panjang disebut-sebut sebagai lelaki yang jantan dan penuh percaya diri. Hasrat seksualnya tinggi dan memiliki kekuatan seks yang mengagumkan. Dia senang mencoba gaya-gaya baru dalam bercinta.

Akibat mitos yang berkembang ini, wajar saja kalau lelaki yang memiliki penis besar akan tampak percaya diri atau bahkan justru overconfidence. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang mengalami gangguan seksual. Entah itu ejakulasi dini maupun impotensi. Ini membuktikan organ seks yang besar tidak secara otomatis membuat lelaki mampu melakukan penetrasi dengan baik atau maksimal.

Selain itu, ada juga lelaki dengan bentuk penis bengkok ke kanan maupun ke kiri. Mereka yang memiliki bentuk penis bengkok ke kanan dianggap terbuka terhadap urusan seks dan tidak segan-segan membicarakan topik tersebut secara terbuka dan mau menerima segala macam bentuk aktivitas seks.

Sebaliknya mereka yang memiliki bentuk penis bengkok ke kiri sangat tertutup untuk urusan seks. Baginya masalah seks adalah urusan tabu yang tidak perlu dibahas, bahkan dengan pasangannya sendiri.

Sebenarnya ini hanyalah pandangan awam yang tidak benar sama sekali. Sikap keterbukaan atau ketertutupan seseorang terhadap seks tidak dipengaruhi oleh bentuk lurus atau bengkoknya penis tetapi lebih karena sikap dan kepribadiannya. Latar belakang pendidikan, haluan agama, status sosial, kehidupan di luar, dan pergaulan juga sangat mempengaruhi pandangan seseorang terhadap seks.

Bagi mereka yang sudah menikah, adalah mutlak untuk bersikap terbuka terhadap pasangannya. Dengan demikian, setiap masalah dapat diselesaikan secara baik dan bersama-sama sehingga kehidupan seksual dapat berjalan harmonis dan membahagiakan.

Itulah beragam mitos tentang impotensi yang banyak berkembang luas di kalangan masyarakat. Setelah mengetahui mana yang mitos dan mana yang fakta, semestinya setiap lelaki maupun penderita impotensi lebih tenang dan tidak memiliki pandangan yang salah terhadap penyakitnya.

Pengobatan dan terapi secara teratur yang sudah terbukti secara medis, tentu lebih bermanfaat daripada selalu berusaha menyembuhkan dirinya sendiri tanpa pengawasan dokter.

Keterbukaan sangat penting untuk menyembuhkan impotensi. Saling percaya dan saling pengertian antara pasangan juga akan sangat membantu penyembuhannya. Masalah impotensi memang urusan yang riskan dan sensitif bagi lelaki tetapi bukan berarti harus ditanggung sendirian. Pasangan hidup adalah kawan seperjuangan yang sudah siap sedia sejak awal dengan komitmen susah senang ditanggung bersama. Komunikasi yang baik akan sangat membantu menyelesaikan permasalahan impotensi.

Usia Rawan Impotensi | Impotensi dan Diabetes Mellitus

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.