Nasal Steroid

Obat-obatan steroid dapat dibagi menjadi obat yang berasal dari testosteron (steroid androgen) dan obat yang berkaitan dengan kortisol (glukokortikoid). Steroid androgen meningkatkan sintesis jaringan otot dan memiliki efek minimal terhadap inflamasi, sedangkan glukortikoid menekan inflamasi dan mengakibatkan penguraian jaringan otot dan lemak.

Pemberian glukokortikoid secara sistemik, lewat oral atau suntikan, telah digunakan sejak tahun 1950-an dan berhasil mengobati penyakit peradangan seperti asma, dan rematik (artritis). Tetapi, pemakaian jangka pendek obat-obatan sistemik ini sekalipun, seperti prednisolon (Prednison) menimbulkan efek sistemik yang signifikan, yaitu retensi air dan garam, peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah, katarak, peningkatan tekanan bola mata, penurunan densitas mineral tulang, dan suasana hati yang berubah-ubah. Efek samping ini membatasi pemakaian glukokortikoid untuk pasien dengan manifestasi penyakit sangat berat. Ditahun 1970-an, perusahaan farmasi mengembangkan formula glukokortikoid topikal intranasal (di dalam hidung) untuk mengobati rinitis alergi. Dengan cara ini, pengobatan diberikan langsung pada daerah jaringan yang meradang tanpa menimbulkan berbagai efek sistemik.

Ada sejumlah steroid intranasal yang tersedia untuk mengobati rinitis alergi musiman dan sepanjang tahun pada anak dan dewasa. Semua obat ini sangat efektif untuk mengobati penyakit rinitis alergi. Steroid nasal biasanya digunakan untuk pasien yang mengidap rinitis alergi persisten sedang sampai berat. Obat ini menunjukkan semua gejala rinitis musiman juga sepanjang tahun, meliputi kongesti hidung, hidung gatal, bersin, dan berair. Penelitian terbaru menunjukkan obat ini juga menurunkan gejala mata gatal dan berair.

Steroid intranasal yang umum digunakan (Nama Generik / Merek) :
* Budesonide / Rhinocort Aqua
* Fluticasone propionate / Flonase
* Mometasone furoate / Nasonex
* Triamcinolone acetonide / Nasacort Aq
* Ciclesonide / Omnaris
* Fluticasone furoate / Veramyst
* Flunisolide / Nasarel

Semua steroid intranasal merupakan golongan obat yang sangat aman dan memiliki efek samping sistemik yang sangat sedikit. Efek samping yang paling umum dari steroid intranasal meliputi iritasi lokal, rasa terbakar dan perih pada mukosa hidung. Kira-kira 5 – 10% pasien yang menggunakan obat ini untuk 2 minggu atau lebih lama mengalami beberapa tahap perdarahan hidung, biasanya berupa flek-flek darah yang terlihat setelah buang napas dengan kuat melalui hidung sebelum pemakaian kembali obat dengan dosis lebih rendah. Efek sistemik steroid intranasal sangat jarang. Obat ini telah diteliti dengan seksama untuk menentukan apakah obat-obat tersebut memiliki efek penekanan pada fungsi kelenjar adrenal; penelitian ini secara keseluruhan memperlihatkan tidak ada efek. Pada anak, yang menjadi perhatian besar dan secara teoritis penting adalah penekanan pertumbuhan. Penelitian selama 1 tahun dengan mometasone furoate, fluticasone propionate, dan budesonide tidak memperlihatkan hambatan pertumbuhan pada anak berusia 3 sampai 11 tahun. Pada orang dewasa, survei epidemiologi dilakukan untuk menilai efek steroid intranasal pada mata, meliputi glaukoma dan katarak, survei tersebut menunjukkan tidak ada efek pada mata.

Ada sejumlah petunjuk berguna bagi pasien dalam memakai semprot intranasal. Sangat penting untuk diketahui bahwa semua obat intranasal yang tersedia berbentuk alat semprot yang mengandung cairan. Alat tipe ini bekerja sangat baik dengan dipegang tegak lurus posisi vertikal dan tidak menyemprot secara efektif dengan posisi miring atau horizontal. Kedua, semua semprotan diarahkan ke sisi lateral dinding hidung di mana lokasi pembengkakan hidung terjadi. Tetesan semprotan anti-inflamasi, yaitu steroid intranasal dan antihistamin intranasal, secara langsung ke dalam daerah ini membuat terapi tepat pada sasaran. Sebaliknya steroid intranasal tidak boleh disemprotkan ke bagian tengah hidung yang merupakan daerah septum hidung. Daerah septum memiliki sedikit aliran darah, dan pemberian glukokortikoid terhadap lokasi ini akan menyebabkan kontriksi pembuluh darah, menimbulkan kekeringan berlebihan dan puncaknya perdarahan hidung. Setelah pemberian steroid intranassal, pasien harus menghirup ringan udara, mendongakkan kepala, dan menggelengkannya ke kiri dan ke kanan. Dengan cara ini, obat akan menyebar luas dan mencapai rongga atas hidung. Saat pemberian azelastine intranasal, pasien harus melihat ke lantai, kepala menunduk, paling sedikit 10 detik setelah menyemprot dan tidak boleh menghirup obat. Setelah mengangkat kepala, pasien mengelap kelebihan obat di hidung. Metode pemberian ini berguna dalam mengurangi rasa pahit karena azelastine pada beberapa pasien.

Montelukast | Gejala Mata pada Alergi Hidung

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.