Osteoporosis pada Stroke

Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya usia harapan hidup. Keadaaan ini menyebabkan peningkatan penyakit menua yang menyertainya, antara lain osteoporosis (keropos tulang).

Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat, yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari, kurangnya asupan kalsium, perubahan gaya hidup seperti merokok, alkohol, dan berkurangnya latihan fisik menyebabkan semakin tingginya kasus osteoporosis.

Osteoporosis adalah penurunan massa tulang yang menyebabkan tingginya resiko fraktur traumatik atau atraumatik. Patah tulang osteoporotik merupakan masalah besar pada perawatan kesehatan karena beratnya konsekuensi fraktur pada pasien dan sistem perawatan kesehatan. Di Indonesia, data yang pasti mengenai jumlah osteoporosis belum ditemukan.

A. Hubungan Osteoporosis dan Stroke

Beberapa penelitian baru mengonfirmasi hubungan antara osteoporosis dan stroke. Sisi anggota tubuh yang lemah pada stroke rentan terhadap keropos tulang akibat imobilisasi. Kelemahan anggota gerak pada stroke juga membuat pasien stroke rentan untuk jatuh. Kedua hal tersebut meningkatkan resiko fraktur pada penderita stroke.

Penelitian Dennis dkk (2002) menjumpai kejadian patah tulang sebanyak 88 (30% di antaranya pada panggul) di antara 2696 pasien stroke. Proporsi kejadian patah tulang pada pasien stroke adalah 4%. Resiko patah tulang meningkat pada usia yang lebih lanjut, wanita, dan pasien dengan ketergantungan fungsional yang berat. Kejadian fraktur pada penderita stroke adalah 1.7 kali lebih tinggi dibanding populasi umum.

Kajian Poole dkk (2002) memperlihatkan bahwa di antara 1430 pasien dengan fraktur panggul, 10.2% merupakan penderita stroke. Kejadian fraktur terjadi pada sisi yang lumpuh pada 82% kasus. Penyebab fraktur yang paling sering adalah jatuh akibat kelemahan yang ditimbulkan oleh stroke. Penelitian lebih baru juga mengonfirmasi bahwa densitas tulang lebih rendah secara bermakna pada sisi yang lumpuh.

B. Mewaspadai Osteoporosis

Sejak penurunan massa tulang dihubungkan dengan terjadinya fraktur yang akan datang, maka pemeriksaan massa tulang merupakan indikator untuk memperkirakan resiko terjadinya fraktur. Pada dekade terakhir, fakta ini menyebabkan kepedulian terhadap penggunaan alat diagnostik non-invasif (bone densitometry) untuk mengidentifikasi subjek dengan penurunan massa tulang sehingga dapat mencegah terjadinya fraktur yang akan datang, bahkan dapat memonitoring terapi farmakologikal untuk menjaga massa tulang sehingga diharapkan dapat menemukan osteoporosis pada tahap yang lebih dini. Intervensi dini diharapkan akan memberikan hasil klinis yang lebih baik pula.

Enam Langkah Optimal Penanganan Stroke | Rehabilitasi Medik Pascastroke

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.