Pencegahan dan Penanggulangan Stroke

A. Pencegahan Stroke

Sebenarnya stroke merupakan masalah kesehatan yang dapat dicegah, yaitu dengan mengontrol faktor resiko yang ada. Resiko stroke adalah keadaan atau kondisi tertentu yang memudahkan terjadinya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Faktor resiko stroke ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang dapat dikendalikan dan yang lain merupakan kelompok yang tak mudah dikendalikan.

Dengan mengetahui resiko stroke pada seseorang dapat dilakukan intervensi berupa tindakan pencegahan dengan mengubah pola hidup atau dengan medikamentosa (obat-obatan). Tak hanya itu, melakukan olahraga secara teratur selama kurang lebih 30 menit beberapa hari dalam seminggu dengan intensitas sedang cukup berarti dalam menurunkan resiko stroke karena hal itu dapat membantu dalam penurunan berat badan dan menurunkan kadar kolesterol serta fibrinogen. Salah satu contoh olahraga yang baik dilakukan oleh penderita stroke adalah jogging, jalan kaki, dan renang. Mengonsumsi wortel sedikitnya lima kali dalam seminggu dapat menurunkan resiko terkena stroke hingga 68% bila dibandingkan yang makan wortel satu kali dalam sebulan.

Di samping cara-cara pencegahan diatas, terdapat juga beberapa cara yang lain untuk mengurangi resiko stroke, antara lain :
* Periksa tekanan darah secara rutin.
* Hindarilah merokok.
* Periksakan secara rutin jika terdengar bunyi mendesing di leher Anda.
* Olahraga secara teratur.
* Makan buah dan sayuran yang berwarna hijau atau oranye dan jadikanlah konsumsi sehari-hari.
* Makanlah makanan yang mengandung potasium seperti kentang, avokad dan kedelai.
* Penggunaan aspirin untuk stroke hanya diberlakukan bagi yang tidak memiliki resiko stroke.
* Mengurangi makan makanan yang berlemak dan berkolesterol.
* Jauhilah alkohol dan obat-obatan terlarang.

B. Pencegahan Stroke Sekunder

Stroke dan / atau transient ischaemic attack (TIA) karena sebab apa pun meningkatkan terjadinya stroke berikutnya (ulangan) yang dikenal dengan stroke begets stroke. Keadaan ini menjadi sumber utama peningkatan mortalitas dan morbiditas. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat, dari 700.000 penderita stroke setiap tahun maka 300.000 orang diantaranya mengalami stroke ulang. Untuk kasus TIA maka kemungkinan terjadinya stroke di kemudian hari lebih tinggi.

Kemungkinan terjadinya stroke ulangan ini akan meningkat apabila disertai adanya hipertensi yang tak terkendali. Dalam rentang 5 tahun, resiko untuk terjadinya stroke ulang diantara para penderita stroke berkisar antara 30% – 43%. Resiko terjadinya stroke ulang selama 7 hari pascastroke / pascaTIA sebesar 8% – 12%, sementara itu penelitian terhadap kelompok penderita stroke lainnya menunjukkan angka yang lebih besar yaitu 20%.

Pencegahan sekunder terhadap stroke iskemik / TIA dapat dilaksanakan dengan pemberian aspirin, ticlopidine, clopidogrel, dipiridamol, warfarin, obat-obat antihipertensi, obat-obat antihiperlipidemia, dan anjuran untuk berhenti merokok. Pada kasus tertentu dapat dipertimbangkan tindakan operatif yang disebut carotid endarterectomy. Aspirin dapat menurunkan kemungkinan terjadinya stroke ulang sebesar dua pertiga. Warfarin terutama ditujukan pada penderita yang mengalami fibrilasi atrium nonvalvular. Di samping itu, warfarin juga dapat diberikan kepada penderita stroke kardioemboli yang bersumber pada penyakit jantung valvular dan infark miokardial baru.

Titik tangkap aspirin adalah pemutusan jalur siklo-oksigenase sebagai aktivator platelet. Ticlopidine berfungsi secara primer sebagai penghambat jalur adenosin difosfat, mencegah penumpukan platelet. Clopidogrel secara kimiawi mirip dengan tiklopidin, fungsinya juga memblokade aktivasi platelet dengan cara menghambat adenosin difosfat. Sementara itu, dipiridamol menghambat fosfodiesterasi pada jalur aktivasi platelet.

Di samping obat-obatan sebagaimana tersebut diatas maka kepada para penderita tetap dianjurkan untuk berhenti merokok, latihan fisik secara teratur sesuai dengan kapasitas yang ada, pengaturan makan dan berat badan, mengurangi asupan garam, dan menghentikan minum alkohol. Sementara itu, dukungan keluarga sangat membantu proses rehabilitasi penderita termasuk pencegahan terjadinya stroke ulang.

Rekomendasi American Stroke Association tentang pencegahan stroke sekunder adalah sebagai berikut :

1. Hipertensi

a. Hipertensi harus diobati untuk mencegah stroke ulang maupun mencegah penyakit vaskular lainnya. Pengendalian hipertensi ini sangat penting artinya bagi para penderita stroke iskemik dan TIA. Target absolut dalam hal penurunan tekanan darah belum dapat ditetapkan, yang penting adalah bahwa tekanan darah < 120 / 80 mm Hg.
b. Modifikasi berbagai macam gaya hidup berpengaruh terhadap upaya penurunan tekanan darah secara komprehensif.
c. Obat-obat yang dianjurkan adalah diuretika dan ACE inhibitor. Namun demikian, pilihan obat disesuaikan dengan kondisi / karakteristik masing-maisng individu.

2. Diabetes melitus

a. Pada penderita diabetes melitus maka penurunan tekanan darah dan lipid darah perlu memperoleh perhatian yang lebih serius. Dalam kasus demikian ini maka obat antihipertensi dapat lebih dari satu macam. ACE inhibitor merupakan obat pilihan untuk kasus gangguan ginjal dan diabetes melitus.

b. Pada penderita stroke iskemik dan TIA, pengendalian kadar gula direkomendasikan sampai dengan mendekati kadar gula plasma normal (normoglycemic), untuk mengurangi komplikasi mikrovaskular dan kemungkinan timbulnya komplikasi makrovaskular. Sementara itu kadar Hb A1c harus lebih rendah dari 7%.

3. Lipid

a. Penderita stroke iskemik atau TIA dengan kadar kolesterol yang tinggi, penyakit arteri koroner, atau adanya bukti aterosklerosis, maka penderita harus dikelola secara komprehensif meliputi modifikasi gaya hidup, diet secara tepat, dan pengobatan (dalam hal ini direkomendasikan pemberian statis). Target penurunan kadra kolesterol adalah sebagai berikut : HDL < 100 mg% dan kadar LDL < 70 mg% bagi penderita dengan faktor resiko multipel.

b. Penderita stroke iskemik atau TIA yang dicurigai mengalami aterosklerosis tetapi tanpa indikasi pemberian statis (kadar kolesterol normal, tanpa penyakit arteri koroner, atau tidak ada bukti aterosklerosis) beralasan untuk diberi statin untuk mengurangi resiko gangguan vaskular.

c. Penderita stroke iskemik atau TIA dengan kadar HDL kolesterol rendah dapat dipertimbangkan untuk diberi niasin atau gemfibrozil.

4. Merokok

a. Setiap penderita stroke atau TIA harus segera menghentikan kebiasaan merokok.
b. Penghentian merokok dapat diupayakan dengan cara penyuluhan dan mengurangi jumlah rokok yang dihisap per hari secara bertahap.

5. Obesitas

Bagi setiap penderita stroke iskemik atau TIA dengan obesitas atau overweight sangat dianjurkan untuk mempertahankan body mass index (BMI) antara 18,5 – 24,9 kg/m2 dan lingkar panggul kurang dari 35 inchi (perempuan) dan kurang dari 40 inchi (laki-laki). Penyesuaian berat badan diupayakan melalui keseimbangan antara asupan kalori, aktivitas fisik dan penyuluhan kebiasaan hidup sehat.

6. Aktivitas fisik

Bagi setiap penderita stroke iskemik atau TIA yang mampu untuk melakukan aktivitas fisik sangat dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik ringan selama 30 menit per hari. Untuk penderita yang tidak mampu melakukan aktivitas fisik maka dianjurkan untuk melakukan latihan dengan bantuan atau supervisi orang yang sudah terlatih.

7. Fibrilasi atrial

a. Bagi penderita stroke iskemik atau TIA dengan fibrilasi atrial persisten atau paroksismal (intermiten) perlu diberi warfarin dengan penyesuaian dosis target international normalized ration / INR 2,5 dengan rentang 2,0 – 3,0.
b. Bagi penderita yang tidka mungkin diberi antikoagulan maka dapat diberi aspirin 325 mg / hari.

8. Infark miokardia akut dan trombus venrikel kiri

a. Bagi penderita stroke iskemik atau TIA yang disebabkan oleh miokardia infark akut dan diketahui ada trombus mural (dengan echocardiography) atau imaging lainnya) maka pemberian antikoagulan sungguh beralasan, untuk mencapai INR 2,0 – 3,0 selama paling tidak 3 bulan sampai 1 tahun.
b. Aspirin perlu ditambahkan bagi penderita yang mengalami penyakit arteri koroner iskemik, selama pemberian antikoagulan, dengan dosis sampai 162 mg/hari.

9. Kardiomiopati

Bagi penderita stroke iskemik atau TIA yang mengalami dilated cardiomyopathy perlu diberikan warfarin (INR 2,0 – 3,0) atau antiplatelet.

10. Penyakit katup mitral rematik

a. Bagi penderita stroke iskemik atau TIA dengan penyakit katup mitral rematik, apakah dengan atau tanpa fibrilasi atrial, perlu diberi warfarin untuk jangka lama dengan target INR 2,5 (rentang 2,0 – 3,0). Dalam hal ini tidak perlu ditambahkan antiplatelet untuk mencegah terjadinya perdarahan.

b. Bagi penderita stroke iskemik atau TIA dengan penyakit katup mitral rematik, apakah dengan atau tanpa fibrilasi atrial, yang mengalami emboli berulang selama pemberian warfarin, disarankan untuk diberi aspirin dengan dosis 81 mg / hari.

11. Hiperhomosistinemia

Bagi penderita stroke iskemik atau TIA dengan hiperhomosistinemia (kadar lebih dari 10 umol / liter) perlu diberi multivitamin standar dengan vitamin B6 yang cukup (1,7 mg / hari), vitamin B12 (2,4 ug / hari) dan folat (400 ug / hari). Obat ini cukup murah harganya. Namun demikian, penurunan kadar homosistein tidak serta merta menurunkan resiko terjadinya stroke ulang karena masih ada faktor lainnya yang berpengaruh.

12. Obat-obat antiplatelet

a. Aspirin dengan dosis antara 50 – 1300 mg / hari cukup manjur untuk mencegah terjadinya stoke iskemik ulang. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa aspirin dosis tinggi dapat menjadi faktor resiko untuk terjadinya perdarahan gastrointestinal. Di samping itu, tidaklah beralasan bahwa makin tinggi dosis aspirin maka makin tinggi pula manfaatnya.
b. Ticlopidine menurunkan resiko terjadinya stroke iskemik ulang, infark miokardia dan kematian (composite outcome) sebesar 23%. Khusus untuk stroke iskemik, ticlopidine dengan dosis 2 x 250 mg / hari menurunkan resiko relatif terjadinya stroke ulang secesar 12%.
c. Clopidogrel memberi manfaat yang sama dengan aspirin dalam ha; pencegahan stroke ulang. Kombinasi clopidogrel dan aspirin meingkatkan resiko terjadinya perdarahan. Sementara itu, bagi penderita yang alergi terhadap aspirin maka clopidogrel dapat diberikan sebagai penggantinya.
d. KOmbinasi extended-release dipyridamole dan aspirin menurunkan stroke ulang dan kematian sebesar 33% dan 38% untuk stroke ulang; kombinasi ini cukup aman bagi penderita.
e. Kombinasi clopidogrel dan aspirin memberi manfaat yang sama dengan clopidogrel sebagai obat tunggal dalam menurunkan composite outcome.

C. Penanggulangan Stroke

Rehabilitasi merupakan bagian penting dari penyembuhan stroke. Selama rehabilitasi, penderita belajar kembali atau memperoleh kembali ketrampilan dasar seperti bicara, makan, berpakaian dan berjalan. Dengan tujuannya untuk meningkatkan fungsi jadi anda bisa mandiri seperti sediakala.

Rehabilitasi secepatnya diberikan pada pasien stroke segera jika itu memungkinkan. Pada pasien yang sudah agak stabil, rehabilitasi dapat dimulai dua hari setelag terjadi serangan stroke dan harus terus dilanjutkan setelah pulang dari rumah sakit.

Proses penyembuhan pada stroke yang paling utama harus dijalani oleh penderita, pertama, adalah penyembuhan dengan obat-obatanĀ  di rumah sakit. Kontrol yang ketat harus dilakukan untuk menjaga agar kadar kolesterol jahat dapat diturunkan dan tidak bertambah naik. Selain itu, penderita juga dilarang makan makanan yang dapat memicu terjadinya serangan stroke seperti junkfood dan garam (dapat memicu hipertensi).

Proses penyembuhan kedua adalah dengan fisioterapi, yaitu latihan otot-otot untuk mengembalikan fungsi otot dan fungsi komunikasi agar mendekati kondisi semula. Fisioterapi dilakukan bersama instruktur fisioterapi dan pasien harus taat pada latihan yang dilakukan. Jika fisioterapi ini tidak dijalani dengan sungguh-sungguh, dapat terjadi kelumpuhan permanen pada anggota tubuh yang pernah mengalami kelumpuhan. Kesembuhan pada penderita stroke sangat bervariasi. Ada yang bisa sembuh sempurna (100%), ada pula yang cuma 50% saja. Kesembuhan ini tergantung dari parah atau tidaknya serangan stroke, kondisi tubuh penderita, ketaatan penderita dalam menjalani proses penyembuhan, ketekunan, dan semangat penderita untuk sembuh, serta dukungan dan pengertian dari seluruh anggota keluarga penderita.

Mengendalikan Tekanan Darah Pascastroke | Sakit Gigi Penyebab Penyakit Stroke dan Jantung

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.