Pengobatan Kanker Konvensional

Definisi Pengobatan Kanker Konvensional

Pengobatan kanker konvensional adalah pengobatan yang dilakukan secara medis. Praktek pengobatan ini bisa dilaksanakan oleh dokter, fisioterapis, perawat, psikolog dan sebagainya.

Jenis-jenis Pengobatan Kanker Konvensional

1. Kemoterapi

Kemoterapi memerlukan penggunaan obat untuk menghancurkan sel kanker. Walaupun obat ideal akan menghancurkan sel kanker dengan tidak merugikan sel biasa, kebanyakan obat tidak selektif. Malahan, obat didesain untuk mengakibatkan kerusakan yang lebih besar pada sel kanker daripada sel biasa, biasanya dengan menggunakan obat yang mempengaruhi kemampuan sel untuk bertambah besar. Pertumbuhan yang tak terkendali dan cepat adalah ciri khas sel kanker. Tetapi, karena sel biasa juga perlu bertambah besar, dan beberapa bertambah besar cukup cepat (seperti yang di sumssum tulang dan garis sepanjang mulut dan usus), semua obat kemoterapi mempengaruhi sel biasa dan menyebabkan efek samping.

Satu pendekatan baru untuk membatasi efek samping dan meningkatkan efektivitas penggunaan jenis obat yang “diarah secara molekuler”. Obat ini mematikan sel kanker dengan menyerang saluran dan proses vital untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan sel kanker. Misalnya, sel kanker memerlukan pembuluh darah untuk memberikan gizi dan oksigen. Beberapa obat bisa menghalangi pembentukan pembuluh darah ke sel kanker atau saluran pemberian sinyal utama yang menguasai pertumbuhan sel. Imatinib, obat pertama yang seperti itu, sangat efektif untuk kronis myelocytic leukemia dan kanker tertentu saluran pencernaan. Erlotinib dan gefitinib untuk receptors bertempat di permukaan sel pada sel paru-paru kanker kecil – non kanker. Obat yang diarahkan secara molekuler ternyata berguna dalam mengobati banyak kanker lain, termasuk payudara dan kanker ginjal.

Tidak semua kanker memberi respon pada kemoterapi. Jenis kanker menentukan obat mana yang digunakan, dengan kombinasi apa, dan dengan dosis berapa. Kemoterapi mungkin dipakai sebagai satu-satunya perlakuan atau digabungkan dengan terapi radiasi atau pembedahan, atau kedua.

Kemoterapi Dosis tinggi : Pada percobaan untuk meningkatkan efek antitumor dari obat kanker, dosis mungkin ditambah dan waktu antara siklus terapi mungkin dikurangi (dosis kemoterapi padat). Kemoterapi dosis padat, dengan periode yang diperpendek, secara rutin dipakai pada pengobatan kanker payudara. Kemoterapi dosis tinggi sering dipakai untuk pengobatan orang dengan kanker yang sudah berulang setelah terapi dosis standar, teristimewa bagi orang dengan myeloma, lymphoma, dan leukemia. Tetapi, kemoterapi dosis tinggi bisa menyebabkan luka yang mengancam hidup pada sumsum tulang belakang. Oleh karena itu, kemoterapi dosis tinggi secara umum digabungkan dengan strategi penyelamatan sumsum tulang. Pada sumsum tulang yang diselamatkan, sel sumsum tulang diangkat sebelum kemoterapi dan dikembalikan kepada orang setelah kemoterapi. Pada beberapa kasus, sel tangkai bisa diisolasikan dari aliran darah dari sumsum tulang dan bisa ditanamkan ke dalam orang setelah kemoterapi untuk memulihkan fungsi sumsum tulang.

Belum ditemukan obat kanker yang ideal, yang menghancurkan sel-sel kanker tanpa mencederai sel-sel yang normal. Meskipun demikian, banyak penderita yang bisa diobati dengan obat-obatan antikanker (kemoterapi) dan beberapa diantaranya mengalami kesembuhan. Pada saat ini efek samping dari kemoterapi dapat diminimalkan.

Obat antikanker dikelompokkan kedalam beberapa kategori :

a. Alkylating agents

Gas mostar yang digunakan sebagai senjata pada Perang Dunia I merupakan contoh dari alkylating agents. Obat golongan ini mempengaruhi molekul DNA, yaitu merubah struktur atau fungsinya sehingga tidak dapat berkembang biak.

Efek sampinya berupa :
* mual
* muntah
* rambut rontok
* iritasi kandung kemih (sistitis) disertai terdapatnya darah dalam air kemih
* jumlah sel darah putih, sel darah merah dan trombosit menurun
* jumlah sperma berkurang (pada pria, mungkin terjadi kemandulan yang menetap)
* meningkatnya resiko leukemia.

b. Antimetabolit

Antimetabolit adalah sekumpulan obat yang mempengaruhi sintesa (pembuatan) DNA atau RNA dan mencegah perkembang biakan sel.

Obat golongan ini menimbulkan efek yang sama dengan alkylating agents, ditambah dengan terjadinya ruam kulit, warna kulit menjadi lebih gelap (meningkatkan pigmentasi) atau gagal ginjal.

c. Alkaloid tanaman

Alkaloid tanaman adalah obat-obat yang dapat menghentikan pembelahan sel dan mencegah pembentukan sel-sel baru. Efek samping yang ditimbulkan serupa dengan alkylating agents.

d. Antibiotik antitumor

Antibiotik antitumor juga mempengaruhi DNA dan mencegah perbanyakan sel. Efek sampingnya sama dengan alkylating agents.

e. Enzim

Kepada penderita leukemia limfoblastik akut bisa diberikan asparaginase, suatu enzim yang mengeluarkan asparagin asam amino dari darah, yang diperlukan oleh leukemia untuk melangsungkan pertumbuhannya.

Efek samping berupa :
* reaksi alergi yang bisa berakibat fatal
* nafsu makan hilang
* mual
* muntah
* demam
* kadar gula tinggi.

f. Hormon

Terapi hormon akan meningkatkan atau menurunkan kadar hormon tertentu untuk membatasi pertumbuhan kanker yang tergantung kepada hormon tersebur atau yang dihambat oleh hormon tersebut.

Misalnya kanker payudara memerlukan estrogen untuk pertumbuhannya. Tamoksifen merupakan obat anti-estrogen yang menghalangi efek estrogen dan bisa memperkecil ukuran kanker. Kanker prostat bisa dihambat oleh estrogen atau obat antitestosteron.

Efek sampingnya bervariasi, tergantung dari hormon yang diberikan. Pemberian estrogen kepada pria akan menyebabkan pembesaran payudara. Pemberian obat anti-estrogen pada wanita bisa menyebabkan kemerahan pada wajah dan siklus menstruasi yang tidak teratur.

g. Pengubah respon biologis

Interferon merupakan pengaruh respon biologis pertama yang efektif, dan saat ini digunakan untuk mengobati sarkoma Kaposi dan mieloma multipel.

Imunoterapi lainnya menggunakan sel-sel imun yang telah dirangsang (sel pembunuh limfokin aktif), yang secara khusus menyerang tumor, misalnya melanoma dan kanker sel ginjal. Pengobatan yang menggunakan antibodi terhadap sel tumor, yang telah dilabel dengan bahan radioaktif atau suatu racun, telah terbukti efektif dalam mengobati beberapa limfoma.

Dua atau lebih obat sering digunakan sebagai suatu kombinasi. Alasan dilakukannya terapi kombinasi adalah untuk menggunakan obat yang bekerja pada bagian yang berbeda dari proses metabolisme sel, sehingga akan meningkatkan kemungkinan bertambahnya jumlah sel-sel kanker yang dihancurkan. Selain itu, efek samping yang berbahaya dari kemoterapi bisa dikurangi jika obat dengan efek beracun yang berbeda digabungkan, masing-masing dalam dosis yang lebih rendah daripada dosis yang diperlukan jika obat tersebut digunakan tersendiri.

Obat-obat dengan sifat yang berbeda kadang digabungkan. Misalnya obat yang membunuh sel-sel tumor dikombinasikan dengan obat yang merangsang sistem kekebalan terhadap kanker.

Kemoterapi bisa dilakukan di :
1. Rumah sakit
2. Klinik swasta
3. Tempat praktek dokter
4. Ruang operasi (jarang)
5. Rumah (oleh perawat, penderita sendiri atau anggota keluarga lainnya)

Cara-cara pemberian kemoterapi :
1. Secara langsung ke dalam pembuluh darah yang memasok daerah dimana tumor tumbuh
2. Drip intravena (dari sebuah knatong atau botol cairan intravena, selama beberapa menit sampai beberapa jam)
3. Intravena (langsung ke dalam vena, selama beberapa menit)
4. Per-oral (berupa tablet, kapsul, atau cairan)

Frekuensi pemberian kemoterapi :
1. Bervariasi, tergantung dari kankernya :
* beberapa obat dalam 1 hari
* 1 dosis / hari selama beberapa hari
* berkesinambungan selama beberapa hari
* dosis 1 kali / minggu
* 1 dosis atau beberapa hari pemberian obat / bulan
2. Pengobatan bisa diberikan beberapa minggu sampai beberapa tahun

Serangkaian pengobatan bisa diberikan hanya 1 kali, atau beberapa rangkaian pengobatan bisa diberikan dengan selang waktu diantaranya.

Efek Samping

Kemoterapi secara umum menyebabkan mual, muntah, kehilangan selera makan, kehilangan berat badan, kepenatan, dan sel darah hitung rendah yang menyebabkan anemia dan resiko infeksi bertambah. Dengan kemoterapi, orang sering kehilangan rambut mereka, tetapi akibat sampingan lain bervariasi tergantung jenis obat.

Mual dan muntah
Gejala ini biasanya bisa dicegah atau dikurangi dengan obat (kontra-obat emesis). Mual juga mungkin dikurangi oleh makan makanan kecil dan dengan menghindari makanan yang tinggi di serat, gas barang hasil bumi itu, atau yang sangat panas atau sangat dingin.

Sel darah hitung rendah
Cytopenia, kekurangan satu atau lebih tipe sel darah, bisa terjadi karena efek racun obat kemoterapi pada sumsum tulang (di mana sel darah dibuat). Misalnya, penderita mungkin membuat sel darah merah yang rendah secara abnormal (anemia), sel darah putih (neutropenia atau leukopenia), atau platelet (thrombocytopenia). Jika anemia parah, faktor pertumbuhan spesifik, seperti erythropoietin atau darbepoietin, bisa diberikan untuk pertambahan pembentukan sel darah merah, atau sel darah merah bisa ditransfusikan. Jika thrombocytopenia hebat, platelet bisa ditransfusikan untuk merendahkan resiko pendarahan.

Orang dengan neutropenia meningkatkan resiko terkena infeksi. Demam lebih tinggi daripada 100.4 derajat Farenheit pada penderita dengan neutropenia dianggap sebagai keadaan darurat. Orang seperti itu harus dievaluasi untuk infeksi dan mungkin memerlukan antibiotika dan malahan opname. Sel darah putih jarang ditransfusikan karena, waktu ditransfusikan, mereka terus hidup hanya beberapa jam dan menghasilkan banyak akibat sampingan. Malahan, bahan tertentu (seperti granulocyte koloni merangsang faktor) bisa diberikan untuk merangsang produksi sel darah putih.

Efek samping yang sering terjadi lainnya
Banyak penderita mengalami rdaang atau malah luka selaput lendir, seperti pada garis mulut. Luka mulut nyeri dam bisa membuat makan sulit. Berbagai larutan oral (biasanya berisi antasida, antihistamin, dan anestetik lokal) bisa mengurangi ketidaknyamanan. Pada kesempatan langka, orang perlu support nutrisi dengan memasang tabung pemberi makan yang ditempatkan secara langsung ke dalam perut atau usus kecil atau dengan urat darah. Jenis obat bisa mengurangi diare yang disebabkan oleh terapi radiasi ke perut.

Orang yang diperlakukan dengan kemoterapi, khususnya senyawa alkylating, mungkin mempunyai resiko bertambah leukemia sedang berkembang beberapa tahun sesudah pengobatan. Beberapa obat, khususnya alkylating agen, sebab infertility di beberapa wanita dan di kebanyakan laki-laki yang mendapat perlakuan ini.

2. Terapi Radiasi

Radiasi atau penyinaran adalah bentuk energi kuat yang ditimbulkan oleh bahan radioaktif, seperti kobal, atau oleh peralatan khusus, seperti sebuah akselerator partikel atom (linear).

Radiasi terutama membunuh sel yang membelah dengan cepat dan sel yang sulit untuk memperbaiki DNA mereka (material nuklir). Sel kanker membelah lebih sering dibandingkan sel normal dan seringkali tidak dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi dikarenakan radiasi. Oleh karena itu, sel kanker lebih mungkin dibunuh dengan radiasi dibandingkan sel normal. Meskipun begitu, sel kanker bervariasi didalam bagaimana mudahnya dibunuh dengan radiasi; beberapa sel sangat kebal dan tidak bisa secara efektif diobati dengan radiasi.

Jenis Terapi Radiasi

Dalam bentuk yang paling umum, terapi radiasi menggunakan cahaya luar pada radiasi gamma yang dihasilkan oleh sebuah akselerator linear. Jarang, radiasi cahaya electron dan proton digunakan. Radiasi cahaya proton, yang bisa difokuskan pada daerah khusus, sangat efektif mengobati kanker tertentu di daerah yang rusak pada jaringan normal yang penting, seperti mata, otak, atau saraf tulang belakang. Semua jenis radiasi cahaya luar difokuskan pada daerah tertentu atau organ tubuh yang mengandung kanker. Untuk menghindari jaringan normal terlalu banyak kena cahaya, beberapa lintasan cahaya digunkaan dan jaringan yang mengelilinginya dilindungi sebanyak mungkin. Teknologi baru pada radiasi cahaya luar, disebut terapi intensitas modul (IMRT).

Terapi radiasi cahaya luar diberikan sebagai rangkaian pembagian dosis seimbang melebihi jangka waktu yang lama. Metode ini meningkatkan efek yang mematikan pada radiasi sel kanker ketika mengurangi efek racun pada sel normal. Efek racun dikurangi karena sel normal bisa memperbaiki dirinya sendiri dengan cepat antara dosis dimana sel kanker tidak bisa. Khususnya, seorang yang menerima dosis radiasi setiap hari melebihi jangka waktu 6 sampai 8 minggu. Untuk memastikan bahwa pada daerah yang sama diobati setiap waktu, orang tersebut dengan tepat diposisikan menggunakan pembalut busa atau alat-alat lain.

Pada cara terapi radiasi yang lain, bahan radioaktif kemungkinan disuntikkan ke dalam pembuluh untuk dialirkan menuju kanker (misalnya, yodium radioaktif, yang digunakan dalam penyembuhan kanker tiroid). Cara lain menggunakan pellet kecil (biji) material radioaktif yang diletakkan langsung ke dalam kanker (misalnya, palladium radioaktif digunakan untuk kanker prostat). Penanaman ini menghasilkan radiasi hebat pada kanker, tetapi sedikit radiasi yang menuju jaringan sekitarnya. Penanaman mengandung bahan radioaktif berumur pendek yang berhenti menghasilkan radiasi setelah jangka waktu tertentu.

Baru-baru ini, bahan radioaktif telah dicampur dengan protein disebut antibody monoclonal, yang mencari sel kanker dan bergabung dengan mereka. Bahan radioaktif digabungkan ke inti antibodi pada sel kanker dan menghancurkan mereka.

Penggunaan

Terapi radiasi memainkan peranan penting dalam menyembuhkan berbagai kanker, termasuk limfoma Hodgkin, non-hodgkin lymphoma tahap awal, sel kanker squamous pada kepala dan leher, seminoma (kanker testis), kanker prostat, kanker payudara tahap awal, beberapa bentuk sel kanker paru-paru non-kecil pada pipa udara (larynx) dan prostat, tingkat kesembuhan adalah penting sama dengan terapi radiasi demikian halnya dengan operasi. Kadangkala, terapi radiasi dikombinasikan dengan bentuk pengobatan lain. Jenis tertentu pada obat-obatan kemoterapi, seperti cisplatin, meningkatkan keefektifan terapi radiasi, dan obat-obatan ini kemungkinan diberikan dengan pengobatan radiasi.

Terapi radiasi bisa mengurangi gejala-gejala ketika tidak mungkin sembuh, sama halnya untuk metastases tulang pada myeloma multiple dan tumor yang sangat menyakitkan pada orang dengan patu-patu advanced, kerongkongan, kepala dan leher, dan kanker perut. Dengan menenggelamkan tumor sementara waktu, terapi radiasi bisa menghilangkan gejala-gejala yang disebabkan penyebaran kanker ke tulang atau otak.

Efek Samping

Sayangnya, radiasi bisa merusak jaringan normal disekitar tumor. Efek samping tergantung pada seberapa luas daerah yang akan diobati, dosis apa yang akan diberikan, dan seberapa dekat tumor tersebut ke jaringan peka. Jaringan peka yaitu sel normal yang cepat membelah, seperti kulit, sumsum tulang, folikel rambut, lapisan pada mulut, kerongkongan, dan usus. Radiasi bisa juga merusak indung telur dan testis. Dokter berupaya untuk mengakurasi sasaran radiasi terapi untuk mencegah kerusakan yang berlebihan pada sel normal.

Gejala-gejala tergantung pada daerah yang menerima radiasi dan bisa termasuk kelelahan, mulut perih, masalah-masalah kulit (kemerahan, gatal, mengelupas), rasa sakit sekali ketika menelan, radang paru-paru (pneumonitis), hepatitis, masalah-masalah lambung (mual, kehilangan nafsu makan, muntah, diare), masalah-masalah berkemih (meningkatnya frekuensi, rasa terbakar ketika berkemih), dan jumlah darah rendah. Radiasi pada tumor kepala dan leher seringkali menyebabkan kerusakan pada permukaan kulit sama halnya dengan pada lapisan mulut dan kerongkongan. Dokter berupaya mengidentifikasi dan mengobati beberapa gejala-gejala secepat mungkin sehingga orang tersebut tetap merasa nyaman dan bisa melanjutkan pengobatan.

Sel-sel yang memiliki pasokan oksigen yang memadai lebih mudah dirusak oleh penyinaran. Sel-sel yang berada dekat dengan pusat suatu tumor yang besar sering memiliki pasokan darah yang jelek dan kadar oksigen yang rendah. Jika tumor mengecil, sel-sel yang tersisa akan mendapatkan perbaikan pasokan darah, sehingga lebih peka terhadap dosis penyinaran berikutnya.

Pembagian terapi radiasi kedalam serangkaian dosis dalam waktu yang lebih lama, akan meningkatkan efek mematikan terhadap sel-sel tumor dan mengurangi efek racun terhadap sel-sel normal. Sel-sel memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya setelah terpapar oleh penyinaran, rencana pengobatan ditujukan untuk perbaikan maksimal dari sel-sel dan jaringan yang normal.

3. Operasi Kanker (Pembedahan)

Operasi adalah sebuah bentuk pengobatan tradisonal pada kanker. Hal ini paling efektif untuk menghilangkan berbagai jenis kanker sebelum menyebar ke kelenjar getah bening atau tempat jauh lainnya (metastasized). Operasi kemungkinan digunakan sendirian atau dipadukan dengan pengobatan lainnya, seperti terapi radiasi dan kemoterapi. Jika kanker tidak menyebar, operasi bisa menyembuhkan orang. Meskipun begitu, hal ini tidak selalu pasti sebelum operasi apakah kanker sudah atau belum menyebar. Jika iya, orang tersebut kemungkinan beresiko tinggi mengalami kanker berulang dan bisa membutuhkan kemoterapi atau radiasi setelah operasi untuk mencegah kambuhnya.

Operasi bukan pengobatan umum ketika kanker telah menyebar. Meskipun begitu, operasi kadangkala digunakan untuk mengurangi ukuran tumor (prosedur yang disebut debulking), sehingga radiasi terapi tersebut dan kemoterapi kemungkinan lebih efektif, atau untuk meringankan gejala-gejala seperti rasa sakit hebat atau penyumbatan usus. Pengangkatan penyebaran dengan cara operasi jarang menghasilkan kesembuhan karena menemukan seluruh tumor tersebut adalah sulit. Tumor yang tertinggal biasanya terus bertumbuh. Meskipun begitu, pada kanker tertentu yang memiliki penyebaran dalam jumlah sangat kecil, terutama sekali pada hati, otak, atau paru-paru, operasi pengangkatan pada penyebaran bisa jadi bermanfaat.

Operasi bukan pengobatan yang dianjurkan untuk kanker tahap awal. Beberapa kanker terjadi di daerah yang tidak dapat dijangkau. Selain itu, pengangkatan kanker bisa membutuhkan pengangkatan organ penting, atau operasi bisa merusak fungsi organ. Pada beberapa kasus, pengobatan radiasi dengan atau tanpa kemoterapi kemungkinan lebih baik.

Operasi atau pembedahan merupakan bentuk pengobatan kanker yang paling tua. Pada tahun 1988, dari 1 juta orang Amerika yang menderita kanker, 64% telah menjalani pembedahan dan 62% dari kelompok ini mengalami kesembuhan.

Pengobatan dan prognosa ditentukan oleh beratnya dan penyebaran kanker (staging). Beberapa kanker sering dapat disembuhkan hanya dengan pembedahan jika dilakukan pada stadium dini.

4. Terapi Kombinasi

Untuk beberapa kanker, pengobatan terbaik merupakan kombinasi dari pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Pembedahan atau radiasi mengobati kanker yang daerahnya terbatas, sedangkan kemoterpai membunuh sel-sel kanker yang berada diluar jangkauan pembedahan maupun radiasi.

Kadang radiasi atau kemoterapi dilakukan sebelum pembedahan, untuk memperkeicl ukuran tumor atau setelah pembedahan untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker.

Kemoterapi yang dikombinasikan dengan pembedahan, akan memperbaiki kesempatan harapan hidup pada penderita kanker usus besar, payudara atau kandung kemih yang telah menyebar ke kelenjar getah bening regional. Pembedahan dan kemoterapi kadang dapat menyembuhkan kanker indung telur yang telah menyebar. Kanker rektum telah berhasil diobati dengan kemoterapi dan terapi radiasi. Pada kanker usus besar yang telah menyebar, kemoterapi yang diberikan setelah pembedahan dapat memperpanjang harapan hidup bebeas penyakit.

Sekitar 20 – 40% kanker kepala dan leher telah disembuhkan oleh kemoterapi yang diikuti dengan terapi radiasi atau pembedahan. Bagi yang tidak mengalami kesembuhan, terapi ini bisa mengurangi gejala-gejalanya (terapi paliatif).

Pembedahan, terapi radiasi, dan kemoterapi memegang peranan penting dalam mengobati tumor Wilms dan rabdomiosarkoma. Pada rabdomiosarkoma (kanker kidney pada masa kanak-kanak), tujuan pembedahan adalah mengangkat kanker utama, bahkan jika sel-sel tumor telah menyebar ke bagian tubuh lain yang jauh dari ginjal. Kemoterapi dimulai pada saat pembedahan dan terapi radiasi diberikan kemudian untuk mengobati daerah setempat dari sisa kanker.

Beberapa tumor (misalnya tumor lambung, pankreas, atau ginjal) hanya memberikan respon terhadap terapi radiasi, kemoterapi atau kombinasi keduanya. Terapi tersebut dapat mengurangi nyeri akibat penekanan atau gejala-gejala yang timbul jika tumor menyusup kedalam jaringan di sekitarnya.

Beberapa tumor yang kebal (misalnya kanker paru-paru non-sel kecil, kanker kerongkongan, kanker pankreas, kanker ginjal) bisa diobati untuk meningkatkan waktu harapan hidup.

5. Pengobatan yang Lebih Baru

Pendekatan yang lebih baru dalam mengobati kanker adalah kemoterapi dosis intense, yang menggunakan obat dalam dosis yang sangat tinggi.

Terapi ini digunakan untuk tumor yang mengalami kekambuhan meskipun memberikan respon yang baik pada kemoterapi awal. Tumor ini telah menunjukkan kepekaan terhadap obat; strategi yang dilakukan adalah meningkatkan dosis obat secara nyata untuk membunuh lebih banyak lagi sel-sel kanker, sehingga memperpanjang harapan hidup penderita.

Terapi kemoterapi dosis intense bisa menyebabkan cedera yang berakibat fatal terhadap sumsum tulang. Karena itu terapi ini biasanya digabungkan dengan terapi penyelamatan, dimana sumsum tulang diangkat sebelum dilakukan kemoterapi. Setelah pengobatan, sumsum tulang dikembalikan pada penderita. Meskipun masih dalam penelitian, pengobatan ini pernah dilakukan pada kanker payudara, limfoma, penyakit Hodgkin dan mieloma.

Pencangkokan sumsum tulang dari donor yang memiliki jaringan yang cocok bisa dilakukan setelah kemoterapi dosis intense pada penderita leukemia akut. Bisa terjadi komplikasi berupa penyakit graft-versus-host, dimana jaringan yang dicangkokkan dihancurkan oleh jaringan penerima (tuan rumah).

Teknik penyinaran baru, seperti penyinaran proton atau neutron, efektif untuk tumor-tumor tertentu. Pewarnaan yang telah diaktifkan oleh penyinaran dan terapi fotodinamik memberikan hasil yang menjanjikan.

Imunoterapi menggunakan teknik-teknik berikut untuk merangsang sistem kekebalan tubuh melawan kanker :
* pengubah respon biologis
* terapi sel pembunuh
* terapi antibodi (terapi humoral).

Teknik-teknik tersebut telah digunakan untuk mengobati sejumlah kanker yang berbeda (misalnya melanoma, kanker ginjal, sarkoma Kaposi dan leukemia).

Akhirnya, salah satu pendekatan pengobatan yang paling penting adalah menemukan obat yang dapat mencegah kanker. Retinoid (derivat vitamin A) telah terbukti efektif dalam mengurangi angka kekambuhan pada beberapa kanker, terutama kanker mulut, pita suara, dan paru-paru.

6. Terapi Hipertermia (Memanggang Kanker)

Akhir-akhir ini kita sering melihat iklan di koran yang menawarkan “pengobatan mutakhir” untuk kanker, salah satunya menggunakan terapi hipertermia. Sebetulnya apa sih terapi hipertermia itu? Kok dokter di rumah sakit kita tidak pernah menyebut-nyebutnya?

Terapi hipertermia (disebut juga termoterapi, selanjutnya kita sebut hipertermia saja) adalah pengobatan kanker dengan cara memanaskan jaringan tubuh sampai mencapai 44 derajat bahkan 45 derajat Celcius. Riset membuktikan bahwa suhu yang tinggi dapat menghancurkan dan membunuh sel kanker, dengan kerusakan minimal pada jaringan normal. Dengan merusak protein maupun struktur sel, hipertermia dapat membunuh sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.

Biasanya hipertermia digunakan bersamaan dengan terapi lain, misalnya radioterapi, kemoterapi, atau imunoterapi, karena hipertermia dapat membuat sel kanker lebih sensitif, bahkan dapat langsung menghancurkan sel-sel kanker yang tidak dapat dihancurkan oleh radiasi.

Ada banyak metode yang digunakan untuk hipertermia. Berdasar luas area yang diterapi, terbagi atas hipertermia lokal, hipertermia regional, dan hipertermia total (seluruh tubuh).

a. Hipertermia Lokal

Pada hipertermia lokal pemanasan dilakukan pada area yang terbatas, dalam hal ini jaringan kanker. Sumber panas yang digunakan antara lain gelombang mikro (microwave), eglombang radio (radio frequency), dan gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound).

Untuk kanker yang terletak di permukaan tubuh atau dekat dengan kulit, alat penghasil panas diletakkan di dekat tumor, kemudian pancaran gelombang diarahkan ke area yang hendak dipanaskan. Jika kanker terletak di dalam atau di sekeliling lubang-lubang tubuh (misal kerongkongan atau dubur), sumber panas dimasukkan ke dalamnya menggunakan alat khusus agar pemanasan langsung mengenai sasaran. Teknik ini dinamakan intraluminal atau endocavitary hyperthermia.

Sedang jika lokasi tumor jauh di dalam tubuh, misalnya pada kanker otak, teknik yang digunakan adalah interstitial. Penderita dibius, lalu jarum khusus atau alat pemanas disuntikkan ke tengah jaringan kanker dengan panduan alat ultrasonografi atau CT (computed tomography). Gelombang radio yang dipancarkan akan memanaskan dan membunuh sel-sel kanker di sekitarnya.

b. Hipertermia Regional

Hipertermia regional bertujuan untuk memanaskan area tubuh yang lebih luas seperti seluruh lengan, tungkai, organ-organ tubuh, dan saluran-saluran tubuh. Ada beberapa teknik yang digunakan. Teknik pertama untuk kanker yang dekat lubang atau sepanjang saluran tubuh seperti kanker mulut / leher rahim, kanker kandungan, kanker kandung kencing, dan lain-lain. Alat pemanas diletakkan di dekat lubang atau di dalam saluran, kemudian pancaran panas dari gelombang mikro atau gelombang radio diarahkan ke jaringan kanker yang menjadi sasaran.

Teknik kedua yaitu regional perfusion, untuk mengobati kanker di lengan dan kaki, atau di dalam organ-organ tubuh seperti hati dan paru-paru. Caranya, sebagian darah penderita dikeluarkan, dipanaskan, lalu dipompa kembali ke dalam lengan, kaki, atau organ tersebut. Teknik ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kemoterapi.

Teknik ketiga adalah CHPP (continuous hyperthermic peritoneal perfusion), digunakan untuk mengobati kanker di dalam rongga perut seperti peritoneal mesothelioma. Selama pembedahan, obat kemoterapu dipanaskan kemudian dialirkan ke dalam rongga perut, sehingga suhunya mencapai 41,1 – 42,2 derajat Celcius.

c. Hipertermia Total

Untuk kanker yang sudah bermetastase (menyebar) ke seluruh tubuh, dilakukan hipertermia total (whole body hyperthermia). Penderita diselimuti dengan selimut listrik atau air panas, atau dimasukkan ke dalam ruang panas (semacam inkubator) untuk membuat suhu tubuhnya meningkat sampai 41,7 – 43,8 derajat Celcius.

Terapi hipertermia terbukti dapat meningkatkan efektivitas radioterapi maupun kemoterapi. Banyak lokasi yang dapat dicapai, antara lain kanker di kepala dan leher, kanker payudara, paru-paru, liver, rongga perut, leher rahim, usus, kandungan, prostat, kulit, tulang. Jenis kanker yang dapat diterapi pun macam-macam, dari adenocarcinoma, melanoma, carcinoma, thymoma, mesothelioma, lymphoma, sarcoma, squamous cell, basa cell.

Pengobatan hipertermia dilakukan 2 – 3 kali seminggu, dan tiap seri terdiri atas 6 – 10 kali terapi. Efektivitasnya tergantung pada sejauh mana suhu tubuh berhasil ditingkatkan, berapa lama berhasil dipertahankan, selain juga tergantung pada karakteristik sel dan jaringan yang diterapi. Selama terapi suhunya terus dipantau menggunakan termometer mini, agar suhu yang diinginkan dapat tercapai tetapi tidak terlampaui. Panas buatan ini dipertahankan selama satu jam.

Efek Samping Hipertermia

Terapi hipertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan jaringan normal / sehat jika suhunya tidak melebihi 43,8 derajat Celcius. Tetapi perbedaan karakter jaringan dapat menimbulkan perbedaan suhu atau efek samping pada jaringan tubuh yang berbeda-beda. Yang sering terjadi adalah rasa panas (seperti terbakar), bengkak berisi cairan, tidak nyaman, bahkan sakit.

Teknik perfusi dapat menyebabkan pembengkakan jaringan, penggumpalan darah, perdarahan, atau gangguan lain di area yang diterapi. Tetapi efek samping ini bersifat sementara. Sedang whole body hyperthermia dapat menimbulkan efek samping yang lebih serius tetapi jarang terjadi seperti kelainan jantung dan pembuluh darah. Kadang efek samping yang muncul malah diare, mual, atau muntah.

7. Terapi Gen : Senjata Baru Melawan Kanker

Terapi gen merupakan pendekatan baru dalam pengobatan kanker, yang saat ini masih bersifat eksperimental. Sejak mengetahui bahwa kanker merupakan penyakit akibat mutasi gen, para ahli mulai berpikir bahwa terapi gen tentu efektif untuk mengobatinya. Apalagi kanker jauh lebih banyak penderitanya dibandingkan dengan penyakit keturunan akibat kelainan genetis yang selama ini diobati dengan terapi gen.

Saat ini para ilmuwan sedang mencoba beberapa cara kerja terapi gen untuk pengobatan kanker :
1. Menambahkan gen sehat pada sel yang memiliki gen cacat atau tidak lengkap. Contohnya, sel sehat memiliki “gen penekan tumor” seperti p53 yang mencegah terjadinya kanker. Setelah diteliti, ternyata pada kebanyakan sel kanker gen p53 rusak atau bahkan tidak ada. Dengan memasukkan gen p53 yang normal ke dalam sel kanker, diharapkan sel tersebut akan normal dan sehat kembali.
2. Menghentikan aktivitas “gen kanker” (oncogenes). “Gen kanker” merupakan hasil mutasi dari sel normal, yang menyebabkan sel tersebut membelah secara liar menjadi kanker. Ada juga gen yang menyebabkan sel kanker bermetastase (menjalar) ke bagian tubuh lain. Menghentikan ativitas gen ini atau protein yang dibentuknya, dapat mencegah kanker membesar maupun menyebar.
3. Menambahkan gen tertentu pada sel kanker sehingga lebih peka terhadap kemoterapi maupun radiasi, atau menghalangi kerja gen yang dapat membuat sel kanker kebal terhadap obat-obat kemoterapi. Juga dicoba cara lain, membuat sel sehat lebih kebal terhadap kemoterapi dosis tinggi, sehingga tidak menimbulkan efek samping.
4. Menambahkan gen tertentu sehingga sel-sel tumor / kanker lebih mudah dikenali dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Atau sebaliknya, menambahkan gen pada sel-sel kekebalan tubuh sehingga lebih mudah mendeteksi dan menghancurkan sel-sel kanker.
5. Menghentikan gen yang berperan dalam pembentukan jaringan pembuluh darah baru (angiogenesis) atau menambahkan gen yang bisa mencegah angiogenesis. Jika suplai darah dan makanannya terhenti, kanker akan berhenti tumbuh, atau bahkan mengecil lalu mati.
6. Memberikan gen yang mengaktifkan protein toksik tertentu pada sel kanker, sehingga sel tersebut melakukan aksi “bunuh diri” (apoptosis).

Jasa Virus

Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana cara memasukkan gen yang dikehendaki ke dalam sel yang dituju. Karena sejauh ini pekerjaan menyelipkan langsung sebuah gen ke dalam sel masih belum mungkin. Harus menggunakan jasa perantara (vektor), yaitu virus. Ya, virus. Virus memiliki kemampuan lebih untuk mengenali sel tertentu, menembus masuk dan mentransfer material genetik ke dalamnya (begitulah cara kerja virus dalam menjangkitkan penyakit ke dalam tubuh seseorang).

Secara garis besar ada dua macam cara yang biasa digunakan untuk memasukkan gen baru ke dalam sel. Yang pertama, secara ex vivo. Sebagian sel darah atau sumsum tulang penderita diambil untuk dibiakkan di laboratorium. Sel itu diberi virus pembawa gen baru. Virus masuk ke dalam sel dan “menembakkan” gen baru tersebut ke dalam rantai DNA sel yang dituju.

Sel tersebut masih dibiakkan beberapa saat lagi di laboratorium. Setelah gen benar-benar menyatu dengan selnya, kemudian sel tersebut dikembalikan ke dalam tubuh penderita dengan cara disuntikkan ke dalam pembuluh darah.

Yang kedua, secara in vitro. Virus pembawa gen disuntikkan ke dalam tubuh penderita. Virus yang telah diprogram tersebut akan mencari dan menyerang sel yang dituju (kanker) dengan cara menembakkan gen baru yang dibawanya ke dalam sel. Peran virus ini kadang digantikan oleh liposom atau plasmid sebagai vektor buatan.

Ada beragam jenis virus yang digunakan untuk ujicoba terapi gen, antara lain retrovirus, adenovirus, virus herpes, cacar, dan lain-lain. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebelum digunakan semuanya direkayasa terlebih dahulu sehingga tidak mampu menjangkitkan penyakit, sekaligus ditingkatkan kemampuannya untuk mengenali dan memasukkan sel target, juga mentransfer gen.

Sekalipun memberi harapan besar, bahkan beberapa RS kanker telah berani menjadikannya terapi unggulan, terapi ini juga bisa menimbulkan masalah. Karena virus bisa menyerang lebih dari satu jenis sel, jika disuntikkan ke dalam tubuh bisa saja virus tersebut memasuki sel tubuh yang lain, bukan hanya sel kanker seperti yang diharapkan. Atau, kalau gen yang ditransfer menempel pada lokasi yang salah dalam rantai DNA, hal ini bisa menimbulkan mutasi yang berbahaya, bahkan kanker jenis baru. Jika gen tersebut “salah sasaran” mengenai sel reproduksi, maka mutasi ini akan diturunkan juga pada keturunan penderita, jika kelak si penderita punya anak.

Ada juga kemungkinan gen yang ditransfer tersebur bereaksi berlebihan di lingkungan barunya (sel kanker) sehingga malah menimbulkan peradangan, atau memicu reaksi pertahanan / perlawanan dari sel kankernya. Bagaimana juga kalau virus yang telah direkayasa itu malah menular kepada orang lain yang sehat?

Para ilmuwan terus mencari cara yang aman dan memberikan hasil paling optimal sesuai dengan kondisi penderita yang berbeda-beda.

8. Terapi Anti-Angiogenesis (Kanker Mati Kelaparan)

Angiogenesis berarti proses pembentukan pembuluh darah. Proses ini berjalan seiring dengan proses tumbuh kembang manusia. Pada manusia dewasa, proses ini terjadi pada saat penyembuhan luka dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak.

Sebetulnya angiogenesis adalah sebuah proses yang sehat. Tetapi pada penderita kanker, proses pembentukan pembuluh darah baru ini akan membuat tumor memiliki jaringan pembuluh darah sendiri yang akan membuatnya tumbuh dengan cepat dan ganas.

Anti-angiogenesis adalah terapi yang bertujuan untuk menghentikan pembentukan pembuluh darah baru. Karena tanpa suplai darah, sel tumor / kanker akan mati. Tanpa memiliki pembuluh darah sendiri, tumor hanya dapat tumbuh maksimal 1 milimeter saja.

Malangnya, sel kanker mengeluarkan zat-zat kimia yang memicu pertumbuhan pembuluh darah baru. Contohnya, protein yang disebut vascular endothelial growth factor (VEGF). VEGF akan menempel pada vascular endothelial growth factor receptor (VEGFR), yang kemudian tumbuh dan membentuk pembuluh darah baru. Pembuluh darah baru itu akan membuat sel kanker tumbuh dengan cepat, semakin banyak mengeluarkan VEGF, dan pada gilirannya semakin memicu tumbuhnya jaringan pembuluh darah baru lagi.

Riset anti-angiogenesis yang mulai dikembangkan tahun 1999 tampaknya akan membawa terapi ini pada posisi penting untuk menghentikan pertumbuhan tumor.

Penderita kanker otak, kanker payudara, kanker ginjal, melanoma, dan beberapa jenis kanker lain yang mengikuti ujicoba klinis anti-angiogenesis kebanyakan terhenti pertumbuhan penyakitnya, bahkan sebagian bisa mengecil.

Sejauh ini telah ditemukan sekitar 300 jenis substansi yang bisa menghambat angigenesis. Ada yang berasal dari tubuh manusia sendiri (interferon alfa / beta / gamma, interleukin-12, retinoid, heparinas, dsb), ada yang berasal dari alam (teh hijau, kedelai, jamur, bawang putih, ginseng, sirip ikan, bisa ular, kulit pohon, dsb), ada juga yang sintetis buatan manusia (bevacizumab, sunitinib, sorafenib).

Mereka bekerja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menghambat pembentukan pembuluh darah baru, ada yang menyerang pembuluh darah lama yang memberi suplai darah ke jaringan kanker (sehingga mati kelaparan), ada juga yang langsung menyerang sel kanker sekaligus menghentikan suplai darahnya (beberapa jenis obat kemoterapi jika diberikan dalam dosis rendah ternyata bisa memberikan efek anti-angiogenesis).

Efek Samping

Jika kemoterapi bekerja menghancurkan sel-sel yang membelah cepat (tidak hanya sel-sel kanker, tetapi juga sel-sel sehat pada bagian tubuh lain, ini yang menimbulkan berbagai efek samping), obat-obat anti-angiogenesis hanya bekerja pada area pembuluh darah kanker. Tidak mempengaruhi bagian tubuh yang sehat, karena sel-sel dewasa yang sehat dan normal tidak membentuk pembuluh darah baru. Lagipula sudah diketahui bahwa struktur pembuluh darah kanker berbeda dengan struktur pembuluh darah biasa.

Sekalipun demikian terapi anti-angiogenesis juga memiliki efek samping. Belum jelas apa sebabnya (karena riwayat penggunaannya yang masih sangat pendek), sebagian penderita kanker yang mendapatkan terapi ini menunjukkan peningkatan resiko perdarahan di dalam, perforasi usus, dan peningkatan tekanan darah. Belum jelas juga apakah semua obat anti-angiogenesis akan berakibat demikian, karena dari 300-an substansi yang telah ditemukan di atas, baru sebagian kecil yang telah digunakan sebagai obat.

Yang pasti, karena pengobatan ini bekerja mencegah pembentukan pembuluh darah dan jaringan baru, tentu saja harus dihentikan pada saat penderita menjalani pembedahan sampai beberapa minggi sesudahnya. Juga, tidak boleh diberikan kepada wanita hamil dan anak-anak.

Kenyataan bahwa kemoterapi dan anti-angiogenesis bekerja dengan cara yang berbeda memberikan harapan baru bahwa keduanya bisa diberikan bersamaan untuk meningkatkan daya sembuhnya.

9. Menekan Pertumbuhan Sel Kanker

Jika kerusakan DNA sel normal tidak juga berhasil dicegah oleh senyawa atau vitamin / mineral yang bersifat antioksidan, atau bila sudah terlanjur terbentuk sel-sel kanker, tindakan yang bisa kita lakukan adalah menekan pertumbuhan sel kanker tersebut. Pertumbuhan sel kanker berlangsung cepat setelah sel tersebut mendapatkan asam lemak omega-6. Untuk mengurangi pengaruh asam lemak ini serta mengusirnya dari dalam sel kanker, asam lemak omega-3 yang banyak terdapat pada ikan laut dingin memiliki peranan penting. Asam lemak omega-3 yang juga dikenal dengan EPA ( eicosapentanoic acid) atau gamalenolenat, merupakan salah satu lemak esensial.

Beberapa jenis sel kanker juga dapat tumbuh dengan cepat bila dipicu oleh hormon estrogen manusia, seperti sel kanker pada payudara. Dalam hal ini isoflavon yang merupakan fitoestrogen dalam kedelai ternyata kompetitif dengan estrogen manusia. Sehingga konsumsi isoflavon kedelai akan membantu menghambat pertumbuhan kanker yang dipicu oleh estrogen manusia tersebut. Dari sini kita dapat memahami peranan tempe, tahu dan susu kedelai sebagai makanan pencegah pertumbuhan kanker.

Untuk menghambat metastase sel kanker, kita harus mengetahui cara sel tersebut menyebar. Ada dua cara sel kanker ber-metastase: melalui angiogenesis (pembentukan pembuluh darah yang baru) dan penghancuran kolagen yang merupakan kerangka sel normal. Dengan demikian metastase akan dapat dihambat bila angiogenesis dapat dicegah; sementara kolagen yang rusak bisa diperbaiki oleh tubuh sendiri dengan memanfaatkan makanan tertentu.

Untuk angiogenesis, sel kanker melepaskan growth factors. Produksi growth factors ternyata dapat dihambat oleh preparat inhibitor cox-2 yang mencakup resveratrol dalam kulit anggur merah, kurkumin dalam kunyit, dan genestein dalam kedelai.

Preparat nutrisi yang dapat menghambat proses perombakan ini adalah vitamin C dan tulang rawan ikan hiu. Di samping ikut merangsang pembentukan interferon yang memerangi sel-sel kanker, vitamin C ternyata dapat memperbaiki kerusakan kolagen dengan membuat kolagen baru lewat hidroksilasi prolin. Barangkali peranan inilah yang melandasi pernyataan kontroversial dari seorang pemenang hadiah nobel dalam bidang kimia dan perdamaian, Linus Carl Pauling, mengenai terapi nutrisi kanker dengan megadosis vitamin C.

Bentuk nutrisi lainnya yang dapat membantu perbaikan kolagen adalah tulang rawan ikan hiu yang banyak disebut-sebut sebagai salah satu obat kanker. Memang tulang rawan ikan hiu merupakan sumber kolagen yang dapat memberikan bahan alami bagi sel-sel tubuh untuk sintetis kolagen.

Pengobatan Kanker | Pengobatan Kanker Komplementer

This entry was posted in Kanker. Bookmark the permalink.