Pengobatan Kanker Nasofaring

Upaya Pengobatan Kanker Nasofaring

Terapi yang digunakan untuk pengobatan kanker nasofaring tergantung pada stadiumnya. Jika kankernya masih berada dalam stadium I dan II, maka pengobatannya melalui radiasi saja. Jika kankernya sudah masuk stadium III dan IV, maka pengobatannya dengan cara gabungan antara radiasi dan kemoterapi.

Jika kanker ditemukan dalam stadium awal maka bisa disembuhkan; sementara tingkat kekambuhannya sekitar 15% jika saat ditemukan pada stadium I atau II. Sayangnya mayoritas penderita kanker nasofaring baru berobat saat stadiumnya sudah III atau IV; sebab pada stadium III atau IV biasanya kanker nasofaring memperlihatkan tanda / gejala jelas yang berupa benjolan di daerah leher. Padahal, terlihatnya benjolan tersebut merupakan tanda bahwa kanker nasofaring telah bermetastasis atau menyebar ke leher; yang berarti sudah masuk ke stadium lanjut. Fakta ini memprihatinkan karena pada stadium III dan IV harapan hidup si penderita sebetulnya sudah menipis.

Pengobatan kanker nasofaring selalu memerlukan pemantauan lanjutan. Tujuan pemantauan tersebut untuk mengetahui apakah terapi yang telah dilakukan hasilnya baik atau tidak. Untuk pemantauan lanjutan terhadap pengobatan kanker nasofaring, seorang peneliti UI mengemukakan bahwa pemantauan terhadap respons terapi bisa dilihat dari eksistensi DNA virus EBV (Epstein Barr Virus). Sementara dalam studi sebelumnya diketahui bahwa jumlah DNA-EBV yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darah berhubungan dengan ukuran tumor. Oleh karena itu, eksistensi DNA-EBV sebelum dan setelah terapi akan terkait dengan besarnya tumor.

Nah, untuk memantau seberapa besar efektivitas terapi yang telah diberikan bisa dilihat dari keberadaan (eksistensi) DNA-EBV pada saliva dan serum pasien. Cara pemantauan ini berdasarkan studi yang telah dilakukan terhadap 102 pasien kanker nasofaring dari Departemen Radiologi FKUI/RSCM dan juga Departemen Ilmu Penyakit THT-KL FKUI/RSCM. Pasien yang terlibat dalam studi ini terdiri dari 67 laki-laki dan 35 perempuan dengan variasi usia yang meliputi pasien stadium I, II, III, IV, residif serta pasien yang belum diketahui stadiumnya.

Pada pengukuran awal, yakni sebelum terapi, terdeteksi bahwa DNA-EBV pada penderita kanker nasofaring stadium lanjut (III dan IV) lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien stadium awal (I dan II). Kemudian, pada pengukuran setelah terapi ditemukan adanya penurunan eksistensi DNA-EBV pada serum dan saliva pasien. Penurunan yang drastis ditemukan di saliva, yaitu mencapai 64%; sedangkan pada serum hanya mencapai 34,6%. Penurunan jumlah DNA-EBV pada saliva itu bisa disebabkan oleh hilangnya atau mengecilnya tumor nasofaring sesudah radioterapi; sedangkan penurunan eksistensi DNA-EBV pada saliva yang lebih cepat daripada penurunan pada serum mengindikasikan bahwa perubahan pada eksistensi DNA-EBV di saliva ternyata lebih informatif dalam memberikan gambaran efektivitas terapi.

Ada kalanya sesudah pasien dinyatakan sembuh, dalam waktu beberapa lama masih ditemukan eksistensi DNA-EBV dalam kadar yang tinggi di tubuhnya. Hal ini berarti ia mengalami kekambuhan. Maka peneliti UI tadi menyarankan supaya dilakukan pemantauan eksistensi DNA-EBV pada pasien kanker nasofaring dengan real time PCR (q-PCR) untuk memonitor lebih spesifik efektivitas terapi yang diberikan.

Pada umumnya penyakit yang disebabkan oleh virus selalu punya vaksin pencegahnya. Jadi kanker nasofaring yang penyebabnya virus, seharusnya punya vaksin yang bisa mencegahnya. Namun, sampai sekarang belum ditemukan jenis vaksin termaksud. Entah mengapa para peneliti, khususnya peneliti dari Barat, belum ada yang berinisiatif membuat vaksin virus Epstein Barr. Mungkin karena di Barat jarang sekali orang yang terserang kanker nasofaring.

Deteksi Dini Kanker Nasofaring | Testimoni

This entry was posted in Kanker Nasofaring. Bookmark the permalink.