Peningkatan Penyakit Alergi

Lebih dari 20 tahun lalu, sebagian dunia terutama Amerika Serikat, Eropa Barat dan Utara, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, mengalami peningkatan signifikan penyakit alergi. Kira-kira 20 tahun lalu, 3% dari populasi Amerika menderita asma; kini prevalensinya mendekati 7%. Pada rentang waktu yang sama, prevalensi rinitis alergi meningkat dari 10% menjadi 20%; untuk dermatitis atopik dari 5% menjadi 8%; dan untuk anafilaksis dari 1% menjadi 3%. Kondisi ini bahkan dikemukakan secara lebih dramatis oleh suatu penelitian natonal skala besar yang disebut National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES); tahun 2008, 58% orang Amerika dites positif paling sedikit satu alergen hirup.

Peningkatan yang mengkhawatirkan ini tidak dipahami sepenuhnya. Namun, ada satu penjelasan yang populer yang diberi nama hipotesis higiene. Teori ini menyatakan bahwa semua orang lahir dengan predileksi (kecenderungan) alergi. Ketika bayi yang sedang bertumbuh menjumpai tantangan lingkungan yang baru, seperti virus dan bakteri, sistem imun mereka berubah dari profil (sikap) alergi menjadi kemampuan melindungi mereka dari organisme infeksi.

Lingkungan agrikultural, dengan adanya kotoran binatang, telah terbukti menjadi alat penolong utama dalam membantu perkembangan kematangan sistem imun muda dari keadaan aslinya alergi. Di negara-negara yang kurang berkembang di seluruh dunia, masih luas keterpajanan terhadap mikroorganisme yang berasal dari kotoran pada usia dini, relatif mengakibatkan prevalensi rendah masalah alergi. Di Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, dan negara-negara Eropa Barat dan Utara, makin banyak anak-anak yang dibesarkan di lingkungan perkotaan yang non-agrikultural, di mana mereka dibesarkan terpisah dari anak lainnya. Kurangnya keterpajanan terhadap hewan dan pupuk agrikultural, di samping lebih rendahnya prevalensi infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh virus, berkaitan dengan peningkatan prevalensi penyakit alergi.

Faktor penting lain terhadap meningkatnya prevalensi alergi adalah gizi. Negara-negara dengan angka yang tinggi untuk penyakit seperti asma dan rinitis alergi memiliki nilai pemeriksaan darah lebih rendah terhadap vitamin tertentu, yaitu vitamin C dan D. Yang penting terutama mungkin vitamin D karena vitamin ini merupakan komponen penting dalam sistem imun yang berfungsi dengan baik. Akhirnya, polusi udara dalam ruangan (terutama asap rokok) dan udara di luar ruangan memperlihatkan pengaruh signifikan dalam perkembangan alergi dan asma.

Ada komponen genetik yang kuat dalam penentuan individu mana yang akan mengidap alergi. Jika salah satu orangtua memiliki penyakit alergi, termasuk asma, rinitis, dermatitis atopik, atau alergi makanan, ada kira-kira 40% kemungkinan anak akan memiliki alergi; bila kedua orang tua memiliki alergi, risiko meningkat menjadi 60%. Ada sejumlah besar gen yang memberikan sumbangan pada risiko alergi.

Biasanya, eksim (dermatitis atopik) timbul di liputan tangan dan belakang lutut pada usia satu tahun dan menandakan bahwa seorang anak akan menjadi individu yang alergis. Kira-kira separuh dari anak-anak dengan dermatitis atopik akan berkembang menjadi rinitis alergi dan/atau asma dalam waktu 5 sampai 10 tahun ke depan. Yang perlu dicatat, mayoritas pasien berkembang penyakit alerginya pada usia 30 tahun. Dermatitis atopik adalah persoalan pertama yang timbul dan juga biasanya yang pertama sembuh; pada usia 10 tahun, eksim alergi telah sembuh atau membaik secara nyata sampai pada 90% anak-anak. Rinitis alergi dan asma, jika telah timbul, memiliki nilai kesembuhan sementara sangat rendah.

Penyakit Alergi | Gejala Alergi pada Hidung

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.