Penyakit Neurologis yang Menyebabkan Sakit Kepala Sekunder

Beberapa penyakit neurologis juga diikuti oleh sakit kepala.

* Post-concussive headaches atau sakit kepala setelah gegar otak: Trauma kepala sangat umum terjadi dalam masyarakat. Jika Anda pernah mengalami cedera pada kepala yang diikuti dengan hilangnya kesadaran atau kehilangan ingatan pada kejadian tersebut (gegar otak atau concussions), Anda mungkin menyadari banyak sekali gejala selama beberapa minggu atau bulan setelah kejadian tersebut. Sakit kepala itu mungkin akan sangat mengganggu pasa awalnya, namun akan hilang secara bertahap dengan dosis rendah obat analgesik pada sebagian besar penderita. Sangat penting untuk Anda dievaluasi oleh seorang dokter setelah adanya trauma atau luka berat pada kepala, untuk menghindari gumpalan darah yang berbahaya pada otak. Terutama jika Anda mengalami hilang kesadaran pada saat kejadian. Bahkan jika pada awalnya Anda telah merasa lebih baik dan hanya merasa sakit kepala, Anda harus menemui seorang dokter untuk mengevaluasi keadaan fisik, karena gumpalan darah itu mungkin saja terbentuk secara perlahan. Jika Anda sudah memiliki kecenderungan migrain akibat riwayat keluarga, Anda juga mungkin menyadari bahwa awal terjadinya migrain merupakan akibat dari trauma kepala ringan.

* Tumor: Tidak diragukan jika Anda memiliki tumor itu pasti akan sangat menekan. Anda seharusnya mendiskusikan kekhawatiran tersebut dengan dokter Anda dan pastikan pertanyaan-pertanyaan Anda dijawab dengan memuaskan.

* Cervicogenic headaches atau sakit kepala cervicogenic: Sakit kepala ini muncul dari leher dan biasanya merupakan akibat dari arthritis, trauma pada leher atau kejang otot. Semua kondisi ini mungkin menyebabkan perubahan dari sistem mekanik tulang leher dan otot-otot, sehingga mengakibatkan sakit kepala. Migrain sendiri dapat mengakibatkan ketegangan dari otot bahu dan leher, sehingga menyebabkan siklus kejang dan sakit kepala ganas yang sangat sulit diatasi.

* Arteriovenous malformation atau malformasi arteriovenosa: Pembuluh darah pada otak mungkin saja tidak normal sejak lahir; sejalan dengan waktu, pembuluh darah tersebut semakin membesar dan tidak berfungsi secara efisien. Malformasi ini dapat menyebabkan sakit kepala dan pada sebagian kasus pembuluh darah itu pecah, menyebabkan pendarahan ringan atau bahkan membahayakan nyawa. Ini merupakan salah satu penyakit neurologis yang tidak terdeteksi ketika penderita melakukan MRI (magnetic reconance imaging) atau pemindai otak melalui CAT atau CT (computerized tomography). Banyak orang yang hidup normal dengan malformasi semacam ini tanpa mengetahui adanya kelainan tersebut. Saat ini, banyak pilihan yang tersedia untuk mengobati sakit ini, jika lokasinya bisa dijangkau. Sebagai contoh, dokter kemungkinan akan melakukan ambulasi (atau menyumbat) pembuluh darah, mengeluarkannya melalui operasi atau memberlakukan radiasi di bagian tersebut.

* Cerebral aneurysm atau aneurisme serebral: Aneurisme serebral adalah proses terbalik ringan dari sebuah pembuluh darah dalam otak. Sementara aneurisme bukan sesuatu yang jarang ditemukan, mereka tidak akan pecah pada tingkat yang sangat tinggi. Ketika pecah dan terjadi pendarahan, mereka akan menghasilkan sakit kepala hebat secara tiba-tiba yang sering diikuti dengan hilangnya kesadaran. Gejala-gejala ini dianggap “sinyal berbahaya” dan harus dianggap sangat serius. Jika diobati dengan cepat, hasilnya akan lebih baik daripada jika Anda menunggu. Aneurisme ini biasanya “terjepit” di sekitar leher dari bagian yang terbalik, sehingga menutup bagian lemah dari pembuluh. Meskipun banyak dari kita yang memiliki anuerisme di kepala, kemungkinan untuk bocor atau pecah sangat jarang. Ketika orang merasa khawatir terhadap sesuatu yang mungkin berbahaya yang mengakibatkan sakit kepala mereka, maka mereka cenderung lebih khawatir mengenai tumor dan kemudian aneurisme serebral.

* Epilepsy atau Epilepsi: Kejang yang seringkali diikuti oleh sakit kepala, namun tidak umum bagi seseorang dengan epilepsi mengalami sakit kepala, sebagai gejala awal epilepsi. Ketika seseorang memiliki penyakit epilepsi, sakit kepala biasanya menyerang beberapa saat setelah penderita mengalami kejang dan akan menghilang dengan sendirinya, atau dengan obat analgesik dosis ringan.

* Postoperatively, following brain surgery yaitu masa setelah operasi bagian otak: Sebagian pasien melaporkan sakit kepala setelah operasi otak, tanpa memperhatikan apakah telah adanya keluhan sakit kepala sebelum operasi. Seringkali pasien akan mengeluh mengenai rasa sakit, geli atau panas di sekitar bekas luka operasi. Kadang-kadang jika pasien tersebut memiliki faktor risiko terhadap migrain, maka sakit kepala tersebut kemungkian besar adalah migrain, namun biasanya tidak spesifik. Sakit kepala tersebut biasanya diobati dengan menggunakan obat untuk sakit kepala akibat ketegangan atau sakit kepala migrain.

* Post-infectious headaches atau sakit kepala pada masa pascainfeksi: Anda mungkin mengalami sakit kepala setelah mengalami viral meningitis (virus radang selaput otak) atau encephalitis (radang otak). Meningitis adalah sutau infeksi pada bagian meninges, yaitu jaringan di sekeliling otak. Encephalitis adalah suatu infeksi dari otak. Usai pengobatan dari infeksi tersebut, sebagian orang mengalami sakit kepala yang terus menerus. Sakit kepala ini biasanya berhasil diobati dengan obat jenis analgesik dosis ringan.

* Pseudotumor cerebri: Disebut juga benign intracranial hypertension atau hipertensi intrakranial jinak, sakit kepala ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan di dalam otak, namun penyebabnya tidak diketahui. Ada berbagai macam kemungkinan penyebab penyakit ini, namun seringkali etiologi (ilmu yang mempelajari asal usul penyakit) tidak dapat menemukannya dengan pasti. Penyakit ini terutama dialami oleh wanita muda dengan berat badan berlebih, dan ciri khasnya adalah perubahan dalam saraf di bagian belakang mata dan sakit kepala yang tidak khas akibat ketegangan atau sakit kepala migrain. Pengobatan biasanya terdiri dari pengontrol rasa sakit, penurunan berat badan dan beberapa pengobatan lain untuk menurunkan tekanan pada otak. Jika indra penglihatan terancam, mungkin dibutuhkan operasi mata. Spinal tap mungkin juga bisa digunakan untuk meringankan tekanan.

Daftar tersebut di atas tidak berarti lengkap. Jika Anda telah didiagnosis mengalami penyakit saraf dan bertanya-tanya apakah sakit kepala sebagai efek samping dari penyakit tersebut, bicarakanlah dengan dokter Anda.

Penyebab Migrain | Siapa yang Terkena Migrain?

This entry was posted in Migrain. Bookmark the permalink.