Penyebab Impotensi

Apa saja Penyebab Impotensi?

Penyebab impotensi multifaktor dan sangat beragam bisa karena faktor usia, penggunaan obat-obatan, pola makan yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak benar, dan lain-lain. Berikut ini uraian tentang berbagai penyebab impotensi.

Faktor Usia

Semakin hari bertambah, semakin menua pula umur kita. Faktor umur tidak bisa dihindari. Siapapun akan beranjak tua setiap hari. Namun demikian, dengan menjaga pola hidup seimbang dan pola makan sehat sejak dini, urusan impotensi pun dapat dihindari. Seiring bertambahnya umur, lelaki juga akan mengalami penurunan libido atau gairah seksual, tetapi jelas tetap bisa ereksi selama tidak ada gangguan kesehatan.

Artinya, tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari faktor usia. Hal yang terbaik adalah membiasakan diri dengan pola hidup sehat dan seimbang sejak dini. Selain menyehatkan badan, cara-cara seperti ini juga lebih menyenangkan untuk dilakukan.

Gangguan Psikologis

Di dunia ini tidak ada orang yang tidak mengalami masalah. Orang hidup salah satu tugas utamanya adalah menyelesaikan masalah. Namun demikian, tidak setiap orang mampu menghadapi dan mengatasi semua persoalan hidupnya. Alih-alih mencari solusi dan jalan keluar yang terbaik, tetapi mereka justru memendamnya sendirian dan tidak mau berbagi dengan orang lain.

Banyak hal yang bisa menyebabkan gangguan psikologis, seperti dominasi istri yang terlalu kuat, campur tangan mertua di lingkungan rumah tangga, karir yang tak berkembang, tuntutan prestasi, persaingan bisnis, tekanan sosial budaya ekonomi politik, dan lain-lain. Hal-hal seperti inilah yang akan menyebabkan terjadinya gangguan psikologis, seperti stres, depresi, atau ansietas (cemas).

Apabila kondisi gangguan psikologis tersebut tidak ditangani secara benar akan mengganggu kesehatan penderita secara keseluruhan. Bagi lelaki, masalah-masalah gangguan psikologis ini juga akan mempengaruhi tingkat ereksinya hingga dapat menimbulkan impotensi.

Cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang kompleks seperti ini adalah menyelesaikan terlebih dulu persoalan yang menyebabkan gangguan psikologis. Setelah itu, baru menyembuhkan masalah impotensi. Apabila impotensi disebabkan oleh gangguan psikologis, umumnya bila masalah-masalahnya sudah terselesaikan maka dengan terapi terarah akan mudah mengatasi impotensi.

Gangguan Neurologis

Ini adalah impotensi yang disebabkan oleh adanya penyakit-penyakit neurologis atau gangguan-gangguan yang terjadi akibat adanya trauma tertentu yang mempengaruhi otak dan sistem persarafan. Misalnya penyakit serebral (otak), trauma spinal (tulang belakang), penyakit medula spinalis neuropati, dan trauma nervus pudendosus.

Dalam kasus gangguan neurologis, stres, dan cedera atau mutasi genetik yang salah dapat mengubah atau merusak sel-sel saraf dengan mudah. Perubahan dan kerusakan sel-sel saraf inilah yang menyebabkan gangguan neurologis.

Sebagian besar gangguan neurologis akan menyebabkan masalah perilaku pada manusia. Orang-orang yang dalam kondisi ini, tentu saja perilakunya berbeda dengan orang-orang dalam kondisi normal. Kebiasaan yang dapat terjadi sebagai gangguan neurologis adalah kemarahan, kebingungan, keraguan, masa bodoh, tindakan tergesa-gesa, bimbang, cemas, gelisah, dan lain-lain.

Pada lelaki dewasa, gangguan neurologis tersebut juga dapat mempengaruhi perilakunya dalam beraktivitas seksual. Bisa saja secara medis, lelaki ini fungsi ereksinya sempurna dan tidak ada masalah kesehatan. Namun bila mengalami gangguan neurologis, perilakunya bisa saja menyimpang dan akhirnya berakibat impotensi. Penyembuhan untuk impotensi jenis ini adalah terapi berkesinambungan. Bukan hanya masalah impotensinya yang harus disembuhkan tetapi masalah gangguan neurologisnya yang terlebih dulu harus dibereskan.

Penyakit Hormonal

Hormon memiliki peranan yang sangat penting dalam metabolisme tubuh dan kinerja organ secara keseluruhan. Demikian pula dalam hal ereksi. Terdapat hormon-hormon penting yang berperan. Apabila hormon-hormon tersebut terganggu keseimbangannya, otomatis akan menyebabkan terjadinya gangguan ereksi hingga sampai impotensi.

Penyakit-penyakit hormonal sangat erat kaitannya dengan impotensi. Misalnya, penyakit hypogonadism, hyperprolactinemia (meningkatnya prolaktin di dalam darah), hyperthyroidism atau hypothyroidism, Cushing’s syndrome (ketidaknormalan tubuh akibat kelebihan kortikosteroid terutama kortisol, biasanya karena hiperfungsi adrenal atau pituitari, ditandai dengan obesitas, hipertensi, lemahnya otot, dan mudah terluka atau bruising), dan penyakit addison (kekurangan sekresi adrenokortikal, ditandai dengan badan amat lelah, berat badan turun drastis, tekanan darah rendah, gangguan lambung dan saluran cerna, serta pewarnaan kulit dan mukosa membran kecoklatan).

Penyakit-penyakit tersebut menyebabkan menurunnya libido (gairah seks) sehingga membuat fungsi ereksi tidak berjalan sempurna. Oleh karena itu, menjaga kesehatan secara keseluruhan menjadi sangat penting agar semua organ tubuh dapat berfungsi dengan baik.

Penyakit Vaskuler

Penyakit vaskuler adalah segala kondisi yang mempengaruhi peredaran darah. Ini mencakup penyakit-penyakit arteri-arteri, vena-vena, dan pembuluh-pembuluh limfa, termasuk juga gangguan atau kekacauan-kekacauan darah yang mempengaruhi sirkulasi. Kondisi inilah yang juga akan mempengaruhi sirkulasi darah pada saat terjadi ereksi. Kekurangan sirkulasi darah ini juga akan menjadi penyebab impotensi.

Penyakit-penyakit vaskuler yang memicu terjadinya impotensi antara lain aterosklerosis, penyakit jantung iskemik, penyakit vaskuler perifer (pembuluh darah tepi), inkompetensi vena, dan penyakit kavernosus.

Penggunaan Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang dan terus-menerus akan mempengaruhi metabolisme dan kadar hormon tertentu di dalam tubuh. Itulah sebabnya, penggunaan obat-obatan yang dikhawatirkan memiliki efek samping serius harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Perubahan metabolisme dan kadar hormon dalam tubuh juga dapat memicu terjadinya impotensi. Obat-obatan tersebut, misalnya antihipertensi, antidepresan, estrogen, antiandrogen, dan digoksin.

Kebiasaan Buruk

Orang sering mnecari sesuatu sebagai pelampiasan. Misalnya mengkonsumsi narkoba untuk menghindar dari masalah. Padahal, kalau seperti ini yang dilakukan, bukannya menyelesaikan masalah tetapi menambah masalah. Selain masalah kecanduan, pengunaan narkoba juga akan menimbulkan efek samping lainnya. Masalah kesehatan dirinya sudah pasti akan terganggu.

Kebiasaan buruk seperti ini seharusnya dihentikan. Demikian pula kebiasaan mengkonsumsi ganja, alkohol, maupun merokok. Semuanya tidak ada manfaatnya bagi kesehatan. Tidak ada alasan menggunakan semua produk tersebut dengan alasan life-style atau gaya hidup. Itu adalah pandangan yang snagat menyesatkan.

Termasuk di dalam kebiasaan buruk ini adalah tidak tidur sepanjang malam untuk sesuatu atau aktivitas yang tidak bermanfaat. Kemajuan teknologi sering membuat orang lupa diri dan lupa waktu. Kalau alasan tidak tidur adalah untuk sesuatu yang penting dan bersifat temporer (sementara atau sesaat), tentu sangat dimaklumi. Namun, kalau tidak tidur sepanjang malam hanya utnuk chatting bicara tidak jelas arahnya, lebih baik dihentikan. Kebiasaan dugem (dunia gemerlap) atau clubbing yang terus-menerus juga akan berpengaruh buruk. Selain menguras kantong juga akan menghabiskan energi dan merusak kesehatan. Faktor kelelahan sangat berpotensi berlanjut menjadi impotensi.

Semua kebiasaan buruk tersebut, bagi lelaki merupakan “tabungan” atau “investasi” untuk mempercepat impotensinya. Jadi, kalau tidak mau menderita impotensi, menjauhlah atau menghindarlah dari semua kegiatan dan konsumsi buruk tersebut. Jauhi juga orang-orang yang terbiasa dengan semua aktivitas buruk agar tidak tertular dengan kebiasaan buruk mereka.

Gunakan hidup dan waktu kita untuk sesuatu yang berharga. Kita tidak pernah tahu kapan maut akan menjemput. Sangatlah bijaksana kalau kita menggunakan seluruh karunia dan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita untuk berinvestasi di dalam kebaikan. Sungguh merugilah orang-orang yang hanya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia.

Penyakit-penyakit Lain

Selain berbagai sebab yang telah disebutkan diatas, ada pula penyakit-penyakit lain yang sebenarnya tidak menyebabkan terjadinya impotensi, tetapi keberadaannya telah memicu terjadinya impotensi. Hal ini dikarenkan adanya penyakit-penyakit tersebut telah mempengaruhi keseluruhan metabolisme tubuh. Bahkan dengan adanya pengobatan terhadap penyakit tertentu secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama juga akan mengubah hormon di dalam tubuh.

Penyakit-penyakit yang dapat memicu terjadinya impotensi adalah diabetes mellitus (kencing manis), gagal ginjal, hiperlipidemi, hipertensi (tekanan darah tinggi), dan penyakit paru obstruksi kronis.

Selain itu, penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau sexual transmitted disease (STD) paling ampuh membuat seorang lelaki impoten. Beberapa IMS seperti gonore dan sifilis berpotensi merusak saluran kencing dan kandung kemih. Gonore misalnya, IMS ini bila tidak ditangani dengan cepat akan membuat saluran dan kandung kemih rusak.

Sementara itu, sifilis merusak saraf (termasuk di otak) yang akan mengakibatkan kerja sama keinginan dan realita berjalan dengan kacau atau tidak sesuai dengan prosedur standarnya. Gangguan saraf ini akan menyebabkan mengecilnya pembuluh darah kapiler dan berpotensi menyebabkan gangguan ereksi.

Itulah penyebab-penyebab yang menimbulkan terjadinya impotensi. Apabila sudah mengetahui, alangkah baiknya untuk mencegah dan sebisa mungkin menjauhi atau menghindari penyebab tersebut. Dengan demikian, kita dapat mencegah terjadi impotensi sejak dini. Ingatlah, hanya diri kita sendirilah yang bisa peduli terhadap kesehatan kita.

Dokter dan berbagai pihak yang berurusan dengan medis, hanyalah bisa menghimbau untuk kebaikan kita. Terlebih harus selalu diingat, mencegah selalu lebih mudah daripada mengobati.

Impotensi – Akhir dari Segalanya | Ciri dan Gejala Impotensi

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.