Perawatan untuk Pasien Lupus

Melihat begitu banyak gejala lupus, seseorang yang memperlihatkan tiga atau empat gejala saja sudah harus dicurigai mengidap lupus. Untuk sembuh total dari penyakit lupus, agaknya sulit, karena itu pengobatan hanya difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan agar penyakit tidak menyerang organ vital tubuh. Selain itu, pengobatan dan perawatan ditujukan untuk meredam gejalanya.

Pengobatan penyakit lupus tergantung pada :
* tipe lupus
* keparahan penyakit lupus
* organ yang terkena
* komplikasi yang ada

Sedangkan tujuan pengobatan adalah :
* mengurangi peradangan pada jaringan tubuh yang diserang
* menekan ketidaknormalan sistem kekebalan tubuh

Pengobatannya sendiri menggunakan 2 kategori :
* Kortikosteroid : golongan ini berfungsi untuk mencegah epradangan dan merupakan pengatur kekebalan tubuh. Bentuknya bisa berupa salep, krem, pil, atau cairan. Untuk penyakit lupus yang ringan digunakan tablet dosis rendah. Sedangkan untuk pasien dengan penyakit lupus yang berat diberikan tablet atau suntik dosis tinggi. Jika kondisi teratasi, dosis diturunkan hingga dosis terendah untuk mencegah kekambuhan.
* Non-kortikosteroid : golongan ini diberikan untuk mengatasi keluhan
nyeri dan bengkak pada sendi-sendi dan otot.

Jenis obat-obatannya adalah sebagai berikut :

* Non-steroid anti-inflamasi (NSAIDs), inilah obat standar utnuk meredam rasa sakit pada reumatik. Digunakan bagi pasien lupus jika penyakitnya tidak parah dan adanya gejala yang menyakitkan, seperti nyeri sendi dan otot, pleurisy (radang pleura yang membungkus paru), sakit kepala, dan lainnya. Banyak pilihan obat non-steroid, dan bagi apsien lupus dokter akan memilih obat dengan sekecil mungkin efk samping dan sebesar mungkin daya penyembuhannya. Kemungkinan terjadi efek samping, yaitu masalah pencernaan, terutama pada lansia.

* Anti-malarials, hydroxychloroquine yang merupakan obat utnuk penyakit yang tidak terlalu parah, biasanya mampu mengontrol gejala nyeri sendi, pleurisy, dan kondisi kulit. Juga diketahui menghambat terjadinya bekuan darah (clotting), memproteksi sensitivitas terhadap sinar matahari. Digunakan secara luas bagi pasien lupus. Penyembuhan umumnya terjadi secara berangsur-angsur selama beberapa bulan. Namun dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan retina mata. Penelitian mutakhir menyatakan bahwa dosis satu tablet (200 mg) per hari, merupakan batas dengan kerusakan retina yang minimal. Pengobatan ini biasanya digabungkan dengan obat-obat non-steroid anti-inflamasi (NSAIDs).

* Steroid, umumnya digunakan untuk penyakit-penyakit dengan gejala yang parah yang menyangkut vasculitis, sistem saraf pusat, ginjal, dan lainnya, bersifat life saving in acute lupus. Sering kali dibutuhkan dengan dosis sangat tinggi. Namun pengobatan modern dengan steroid sekarang ini merujuk pada dosis serendah mungkin, tapi dengan daya sembuh semaksimal mungkin. Efek samping dari obat-obat jenis ini sudah sangat terkenal, yaitu meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk wajah menjadi bulat (moon face). Selain itu juga membuat otot menjadi lemah, dan terjadi pengeroposan tulang (osteoporosis). Dosis minimal digunakan untuk pleurisy atau arthritis dengan jangka waktu terbatas.

* Obat-obat sitotoksik (immunosuppressives), juga digunakan untuk penyakit-penyakit parah yang tidak memberi respons terhadap dosis tinggi steroid atau jika membutuhkan jangka waktu pengobatan yang lama yang tidak mungkin menggunakan steroid dosis tinggi. Yang terkenal adalah cyclophosphamide dan azathioprine. Azathioprine bukan obat keras, digunakan untuk penyakit ginjal (yang disebabkan lupus) yang tidak parah. Sedangkan cyclophosphanamide – sekarang diberikan dengan suntikan – digunakan secara luas untuk penyakit ginjal (yang disebabkan lupus) dan untuk menghambat keparahan penyakit neuropsychiatric. Obat ini dinilai para ahli sangat efektif, dan yang terbaru menggunakan dosis rendah yang diberikan dengan cara suntik. Meskipun dianggap sangat aman, namun obat ini tetap mempunyai efek samping berupa menurunnya jumlah sel darah putih. Pada dosis tinggi, obat ini menyebabkan kemandulan karena terjadi gangguan ovari pada wanita dan kegagalan produksi sperma pada pria.

* Obat-obat non-lupus. Banyak obat-obatan yang dapat membantu meningkatkan prognosis lupus. Termasuk tablet menurunkan tekanan darah, diuretik, antikoagulan (aspirin dan warfarin) yang biasa digunakan pasien dengan sindrom darah kental, anti-epileptik, dan anti depressive. Berbagai krem kulit termasuk kortikosteroid dapat dengan cepat memproteksi kulit terhadap paparan sinar matahari. Perlu diwaspadai, pasien yang telah mengkonsumsi steroid dalam jangka panjang, terutama terancam osteoporosis.

Terakhir, perlu juga perhatian terhadap pengobatan hormonal HRT (hormone replacement therapy) dan pil KB. Meskipun banyak wanita muda yang menggunakan pil KB yang kesehatannya baik-baik saja, namun harap diketahui bahwa pil KB mengandung hormon. Telah diketahui dari berbagai penelitian bahwa wanita dengan antibodi antifosfolipid jika minum pil KB beresiko trombosis atau menderita migrain. Sedangkan penggunaan HRT dapat menimbulkan osteoporosis.

Penyakit lupus memang tak ada obatnya, namun dalam banyak kasus penyakit ini dapat dikontrol dengan obat-obatan maupun gaya hidup sehat (pola makan seimbang, olahraga teratur dan trukur, kelola stres, istirahat cukup, hindari terpapar sinar matahari, menjauhi minuman keras dan rokok).

Mengenali Gejala Lupus | Pengidap Lupus Hidup Normal

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.